* Ada 966 Kasus Berbahaya di RI, Varian Delta Terkuat

Menkeu Beberkan Ancaman yang Lebih Ngeri dari Covid-19

* Virus Corona Lokal Masuk Daftar Pengawasan WHO

210 view
Menkeu Beberkan Ancaman yang Lebih Ngeri dari Covid-19
(Foto: Dok/Youtube Indonesia Stock Exchange/CNBCI)
ANCAMAN: Menteri Keuangan Sri Mulyani bicara ada ancaman lainnya bagi seluruh negara di dunia yang dampaknya sama besarnya dengan pandemi Covid-19 dalam acara ESG Capital Market Summit 2021 secara daring, Selasa (27/7). 
Jakarta (SIB)
Pandemi Covid-19 yang masih terjadi hingga saat ini memang menekan semua sektor mulai dari kesehatan, perekonomian sampai kesejahteraan sosial. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, selain Covid-19 ini ada ancaman lain untuk dunia, bahkan dampaknya bisa sama dengan pandemi Covid-19 ini.

Dia mengungkapkan climate change atau perubahan iklim ini adalah masalah besar yang harus dihadapi. "Climate change adalah global disaster yang magnitude nya diperkirakan sama seperti pandemi Covid-19," kata dia dalam keynote speech ESG Capital Market Summit, Selasa (27/7).

Sri Mulyani mengungkapkan, jika Covid-19 ini muncul dan menyebar sangat cepat hingga ke seluruh dunia. Akibat Covid-19 ini kebiasaan manusia harus diubah dan mobilitasnya harus dibatasi.

Sedangkan untuk climate change ini sudah diteliti banyak ilmuwan di seluruh dunia. Perubahan iklim ini adalah hal yang tak bisa dihindari semua negara.

Menurut dia, setiap negara pasti akan melakukan pembangunan dan membuat mobilitas semakin tinggi dan menyerap konsumsi energi yang semakin besar. Hal ini turut menekan sumber daya alam di dunia.

"Sama dengan pandemi, tak ada satu negara yang bisa terbebas dari ancaman climate change. Bahkan sama seperti pandemi, negara yang tidak siap di sisi kesehatan dan kemampuan fiskal dan sisi disiplin, apalagi kemampuan untuk mendapatkan vaksin, mereka mungkin akan terkena paling berat dampaknya dari pandemi," jelas dia.

Karena itu, seluruh negara di dunia harus mempersiapkan kebijakan untuk memitigasi dampak climate change ini. Hal ini demi mengindari dampak katastropik perubahan iklim.

Habiskan Anggaran
Menghadapi pandemi, kata Menkeu seluruh negara di dunia sudah menghabiskan anggaran US$ 11 triliun atau setara dengan Rp 159,5 kuadriliun (asumsi kurs Rp 14.500) untuk melawan pandemi virus corona.

Sri Mulyani menjelaskan, pandemi Covid-19 ini merupakan suatu tantangan global yang harus dihadapi semua negara.
Dia menjelaskan, sudah 18 bulan seluruh dunia menghadapi tantangan pandemi ini. Berbagai usaha dilakukan untuk menyelamatkan kehidupan sosial, kesehatan dan menyelamatkan jiwa.

Sri Mulyani menambahkan dalam pertemuan G20 diidentifikasikan bahwa ini pandemi yang hebat dan dunia sudah mengalokasikan US$ 11 triliun sebagai sumber daya mereka untuk melindungi rakyatnya dari Covid-19.

Dia mengungkapkan di bidang kesehatan, negara-negara melakukan berbagai cara dan memutus tali penularan tersebut dan dampaknya begitu dahsyat terhadap ekonomi politik. Hal ini karena masyarakat tak boleh melakukan kegiatan seperti biasa, interaksi dan mobilitas semuanya dibatasi.

"Ini pasti memukul sektor sosial, ekonomi di suatu negara. Karena itu seluruh negara di dunia menggunakan instrumen resources policy untuk menghadapi ancaman ini," jelas dia.

Beragam kebijakan fiskal, moneter dan regulasi di sektor keuangan dilakukan demi menghadapi ancaman itu dan melindungi masyarakat, dunia usaha dan perekonomian agar tetap bisa bertahan dan agar seluruh kebijakan, regulasi, instrumen sumber day ayang dipakai tidak hanya bisa mempertahankan tapi juga memulihkan.

Varian di Indonesia
Terpisah, Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Subandrio membenarkan varian Corona AY.1 atau yang disebut varian 'Delta Plus' sudah ada di Indonesia. Varian Corona AY.1 sebelumnya dilaporkan Public Health England memiliki mutasi K417N yang berada di protein spike, membantu virus menginfeksi tubuh manusia.

"Varian Delta Plus sebenarnya belum resmi. Kalau yang dimaksud AY.1 sudah ada tiga," jelas Prof Amin melalui pesan singkat, Selasa (27/7).

Meski begitu, Prof Amin belum merinci di mana saja varian AY.1 atau varian 'Delta Plus' menyebar di Indonesia. Sementara, berdasarkan laporan Balitbangkes Kemenkes RI per 24 Juli 2021, sudah ada 966 kasus Covid-19 varian berbahaya di Indonesia yaitu 897 kasus Covid-19 varian Delta (B16172), 56 kasus varian Alpha (B117), 13 varian Beta (B1351).

Covid-19 varian Delta paling banyak ditemukan di DKI Jakarta yaitu 296 kasus. Disusul Jawa Barat 254 kasus, dan Jawa Tengah 154 kasus.

Apa bahayanya varian 'Delta Plus'?

Kepala Ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Dr Soumya Swaminathan, menjelaskan varian Corona 'Delta Plus' memiliki mutasi yang ada dalam varian Beta (B1351) dan varian Gamma (P1) yang masuk Covid-19 varian berbahaya menurut WHO.

"Mutasi itu memiliki potensi untuk mempengaruhi respons antibodi dalam melawan virus. Sehingga, ada sedikit kekhawatiran bahwa varian (Delta Plus) ini akan menjadi lebih mematikan, karena ia menjadi lebih kebal terhadap obat-obatan," kata Dr Soumya yang dikutip dari Twitter resmi WHO, Selasa (27/7).

Diawasi WHO
Sementara itu, dalam update terbaru pelacakan berbagai varian Covid-19 di dunia, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan satu varian Corona dari Indonesia dalam daftar pengawasan. Varian dengan nama B14662 tersebut dimasukkan dalam kategori "Alerts for Further Monitoring" yang sampel pertamanya dilaporkan pada November 2020 lalu oleh Indonesia.

WHO menjelaskan, varian dalam kategori Alerts for Further Monitoring memiliki potensi jadi berbahaya di masa depan karena memiliki perubahan genetik. Hanya saja data bukti-buktinya masih belum cukup sehingga dibutuhkan pengawasan dan penelitian berulang yang kuat.

"Pemahaman kami terkait varian di kategori ini berkembang dengan cepat dan karena itu isinya bisa ditambah atau dikurangi begitu saja. Karena itu juga WHO tidak memberi label khusus," tulis WHO dalam situs resminya dan dikutip pada Selasa (27/7).

WHO mengkategorikan varian B14662 dalam kelompok Alerts for Further Monitoring sejak 28 April 2021.

Terkuat di Dunia
Para ahli virologi dan epidemiologi menyebut varian Delta sebagai varian virus Corona yang tercepat, terkuat, dan paling tangguh yang saat ini tengah dihadapi dunia.

Meski begitu, mereka percaya bahwa vaksin Covid-19 yang ada saat ini masih sangat kuat terhadap infeksi parah dan kemungkinan rawat inap yang disebabkan versi virus Corona apapun. Namun, bukan itu kekhawatiran utama tentang varian yang pertama kali diidentifikasi di India ini.

Para ahli khawatir karena varian ini menyebar lebih mudah dari orang ke orang yang belum mendapatkan vaksinasi. Bukti juga menunjukkan varian itu masih bisa menginfeksi orang yang sudah divaksinasi penuh pada tingkat yang lebih besar daripada varian versi sebelumnya, bahkan bisa menyebarkan virus pada orang lain.

"Risiko terbesar bagi dunia saat ini hanyalah Delta. Varian yang paling kuat dan tercepat," kata ahli mikrobiologi Sharon Peacock yang dikutip dari NDTV, Selasa (27/7).

Seperti yang diketahui, virus akan terus berevolusi melalui mutasi dengan munculnya varian baru. Terkadang, varian yang muncul akan jauh lebih berbahaya daripada versi aslinya.

Untuk itu, para ahli penyakit terus mengkampanyekan berbagai hal yang dianggap masih bisa untuk mengatasi penularan varian Delta. Misalnya seperti menjaga jarak sosial, memakai masker, hingga vaksinasi.

Mendominasi
Saat ini, varian Delta sangat mendominasi penularan di berbagai negara, seperti Inggris, Singapura, hingga Amerika Serikat. Salah satu hal yang tengah digencarkan untuk mengatasinya adalah dengan melakukan vaksinasi, meski belum ada vaksin yang benar-benar ampuh membuat seseorang kebal terhadap varian tersebut.

"Selalu ada ilusi bahwa ada 'peluru ajaib' yang akan menyelesaikan semua masalah kita. Virus Corona memberi kita banyak pelajaran," kata Nadav Davidovitch, Direktur sekolah kesehatan masyarakat Universitas Ben Gurion di Israel.

Sebuah penelitian di China menemukan bahwa orang yang terinfeksi varian Delta bisa membawa virus 1.000 kali lebih banyak di hidung. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan strain asli virus tersebut yang diidentifikasi di Wuhan pada 2019 lalu.

"Anda sebenarnya bisa mengeluarkan lebih banyak virus dan itulah mengapa menjadi lebih menular. Itu masih diselidiki," kata Sharon Peacock.

Lebih kuat
Seorang virolog dari La Jolla Institute for Immunology di San Diego, Shane Crotty, mencatat bahwa varian Delta 50 persen jauh lebih menular dibandingkan varian Alpha yang pertama kali diidentifikasi di Inggris. Menurutnya, varian Delta ini mengalahkan virus lainnya.

"Ini mengalahkan semua virus lain, karena penyebarannya jauh lebih efisien," lanjutnya.

Selain lebih cepat menular, pakar genom sekaligus direktur Scripps Research Translational Institute di La Jolla, California, Eric Topol, mencatat bahwa infeksi yang disebabkan varian Delta memiliki masa inkubasi yang lebih pendek.

Tak hanya itu, jumlah partikel virus atau viral load-nya juga jauh lebih tinggi dari varian sebelumnya. Hal itu yang membuat orang yang sudah divaksinasi juga harus tetap berhati-hati.

"Itulah mengapa vaksin akan ditantang (efektivitasnya). Orang-orang yang divaksinasi harus sangat hati-hati, ini sangat sulit," jelas Topol.

"Ini pukulan ganda. Anda menghadapi versi virus yang paling tangguh," imbuhnya. (detikfinance/detikHealth/d)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com