Menko PMK Minta Telusuri Kesengajaan Cemaran Obat EG-DEG, Perkuat Sanksi Pidana

* Bareskrim Gelar Perkara

210 view
Menko PMK Minta Telusuri Kesengajaan Cemaran Obat EG-DEG, Perkuat Sanksi Pidana
Foto: Getty Images/iStockphoto/spukkato
Ilustrasi

Jakarta (SIB)

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy menilai Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) cepat tanggap dalam merespons temuan cemaran kasus gagal ginjal akut misterius.


Dalam sidak langsung yang dilakukan Senin pagi (31/10), Muhadjir melihat langsung proses pengujian obat sirup tersebut.


Meski begitu, Muhadjir meminta penelusuran lebih lanjut terkait unsur apakah mungkin ada kesengajaan di balik penggunaan kedua zat toksik etilen glikol dan dietilen glikol pada obat sirup, sehingga diduga menewaskan lebih dari 150 anak.


"Karena sejak dari sananya bahan penolong ini cukup tinggi dosisnya. Secara detail tadi dapat informasi dari lab, itu kandungannya bisa dilihat berapa ambang batas minimumnya," kata Muhadjir, Senin (31/10) dalam keterangan tertulis.


Tentunya, bila didapati unsur kesengajaan, semakin memperkuat proses sanksi pidana.


Ia juga berharap kasus ini bisa dijelaskan secara terbuka ke publik agar juga menjadi sorotan industri farmasi bersama.


"Saya yakin semua langkah BPOM sudah tepat, terukur dan sistemis untuk memastikan siapa yang salah dan siapa yang terimbas pengaruh akibat kasus ini," tuturnya.


Dalam temuan barunya, BPOM RI sudah melihat sejumlah pelanggaran yang dilakukan industri farmasi termasuk perubahan sumber bahan baku tidak sesuai standar lantaran tidak melapor ke BPOM, hingga tidak melakukan pengujian ulang dan kualifikasi supplier obat.


Gelar Perkara

Terpisah, Bareskrim Polri melakukan gelar perkara terkait dugaan tindak pidana di kasus gagal ginjal akut.


Nantinya kasus ini bakal ditentukan untuk dinaikkan ke tingkat penyidikan atau tidak.


"Meningkatkan mungkin ya dari lidik (penyelidikan) ke sidik (penyidikan). Terus masalah tindak lanjutnya apa, pembagian tugasnya seperti apa nanti mana yang perlu didalami, gitu. Harus semuanya komprehensif ya," kata Dirtipidter Bareskrim Polri Brigjen Pipit Rismanto kepada wartawan, Selasa (1/11).


Pipit mengatakan, gelar perkara digelar pada Selasa (1/11).


Sebelumnya, BPOM telah mengumumkan tiga perusahaan farmasi yang telah diberi sanksi terkait cemaran etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) dalam obat sirup. Satu industri farmasi berasal dari Medan, Sumatera Utara (Sumut).


Adapun tiga perusahaan farmasi yang disanksi itu adalah PT Yarindo Farmatama, PT Universal Pharmaceutical Industries dan PT Afi Pharma.


Tiga produsen obat ini disebut tak memenuhi standar atau khasiat mutu untuk memproduksi obat sirup.


"Kami menemukan produk obat sirup paracetamol drop, paracetamol sirup, rasa peppermint produksi PT Afi Pharma. Jadi ada satu produsen ketiga yang diduga ada unsur pidana," kata Kepala BPOM RI Penny K Lukito, Senin (31/10).

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com