Naikkan Harga Bahan Bangunan Saat Bencana, 3 Pengusaha di NTT Ditangkap

* Korban Tewas Bencana Alam Naik Jadi 138 Orang

73 view
(Dok. Istimewa)
Polda NTT 
Jakarta (SIB)
Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) menangkap tiga pengusaha bahan bangunan yang diduga memanfaatkan momen bencana alam untuk meraup keuntungan pribadi. Ketiganya menaikkan harga bangunan saat Kota Kupang luluh lantak diterjang banjir dan badai.

"Pukul 14.00 WITa telah diamankan tiga pelaku usaha yang diduga menaikkan harga bahan bangunan di Kota Kupang. Masing-masing berinisial MM, NA dan AK," kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda NTT, Kombes Johannes Bangun , Rabu (7/4).

Johannes menjelaskan MM diketahui menaikkan harga paku payung dari Rp 27 ribu menjadi Rp 45 ribu. Sementara NA menaikkan harga beberapa bahan baku dengan besaran sekitar Rp 20 ribu per barang.

Sedangkan AK ditangkap karena kedapatan menaikkan harga triplek dari Rp 78 ribu menjadi Rp 100 ribu.

"Ketiganya diduga melanggar Undang-undang Nomor 05 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Ancaman hukumannya 5 bulan dan denda minimal Rp 5 miliar, maksimal Rp 25 miliar," tegas Johannes.

Ketiga tersangka juga dijerat Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. "Pasal 8 dan 9 tentang dilarang menaikkan harga sebelum melakukan obral dengan ancaman dua tahun, denda Rp 500 juta," imbuh Johannes.

Dia menyampaikan penindakan terhadap para pelaku usaha ini sesuai dengan petunjuk dan arahan Kapolda NTT, Irjen Lotharia Latif kepada jajarannya. "Bapak Kapolda menyampaikan, dalam situasi bencana ini, gotong royong, solidaritas semua elemen masyarakat diperlukan. Bukan malah sekelompok orang mencari kesempatan dalam kesempitan," kata Johannes.

Jadi 138 Orang
Sementara itu, Kepala BNPB Letjen Doni Monardo memperbarui data korban yang meninggal akibat bencana alam di NTT. Hingga kemarin total korban tewas akibat bencana alam banjir bandang hingga longsor mencapai 138 orang.

"Terkait dengan penanganan korban yang terdampak, yaitu korban meninggal dunia untuk Flores Timur ada perubahan angka, perubahan data dari posisi kemarin, sekarang menjadi 67 orang yang meninggal. Kemudian yang hilang sudah berkurang menjadi 5 orang karena sudah ditemukan beberapa jenazah pada hari ini," kata Doni dalam siaran YouTube BNPB.

Doni juga menjabarkan jumlah orang yang meninggal di Alor hingga Kupang. Jadi total korban yang meninggal sebanyak 138 orang dan 68 orang belum ditemukan.

"Yang di Alor 25 orang meninggal dan yang hilang 20. Di Malaka yang meninggal 4 orang. Di Kabupaten Kupang yang meninggal 5 orang. Kemudian di Kabupaten Lembata yang meninggal 32 orang dan yang hilang 35 orang. Kemudian di Sabu Raijua yang meninggal 2 orang. Di Ende kota Kupang dan Ngada masing-masing 1 orang. Sehingga total korban meninggal yang telah ditemukan datanya mencapai 138 orang dan yang masih dalam pencarian sebanyak 68 orang," tutur dia.

Doni juga mengungkap kendala petugas dalam melakukan evakuasi. Dia menyebut alat berat sudah ada tapi masih sulit masuk ke lokasi karena sisa-sisa banjir bandang.

"Kendala untuk menemukan jenazah yang masih berada di sejumlah daerah, terutama yang terbanyak itu di Lembata dan Alor adalah karena kesulitan untuk memobilisasi alat berat," katanya.

Dia mengatakan proses pencarian korban hilang akan menggunakan bantuan anjing pelacak (K9). BNPB juga akan mengerahkan 6 helikopter untuk penanganan di sejumlah lokasi yang terisolasi.

Selain itu, upaya penanganan bencana di NTT dibantu sejumlah KRI milik TNI AL dan pesawat milik TNI AU. (detikcom/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Tag:Ditangkap
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com