Skandal Dagang Perkara di MA

Namanya Dicatut, Hakim Syamsul Serukan Mutasi Besar-besaran PNS MA

* PNS Kosidah Diperiksa Badan Pengawas

413 view
Jakarta (SIB)- Hakim Syamsul Rakan Chaniago habis kesabaran karena namanya dicatut Kasubdit Mahkamah Agung (MA) Andri Tristianto Sutrisna dan koleganya Kosidah. Untuk mencegah hal itu terulang, pimpinan MA harus melakukan mutasi besar-besaran terhadap PNS yang ditengarai bermain perkara di lingkungan MA.

"Harus segera dimutasi para PNS itu. Tidak boleh lagi lama-lama di MA. Maksimal 3 tahun, pindah," kata hakim Syamsul, Selasa (17/5).

Andri merupakan PNS di MA dengan masa kerja lebih dari 15 tahun. Alhasil, Andri dkk bisa menjadi 'raja kecil' di MA dan mengatur administrasi perkara.
"Jangan seseorang melebihi kepatutan. Kelewat lama itu tidak baik," ucap Syamsul.

Apa yang dilakukan Andri dengan menjual namanya dinilai tindakan yang tidak bisa ditolerir. Andri yang berbuat, tetapi para hakim yang tercoreng mukanya.
"Kerjanya menjelek-jelekkan pengadilan," kata Syamsul dengan nada penuh amarah.

Perkara yang akan didagangkan Andri adalah perkara nomor 2860 K/PID.SUS/2015. Perkara itu diadili oleh hakim agung Salman Luthan, MS Lumme dan Syamsul Rakan Chaniago. Duduk sebagai panitera pengganti Retno Murni Susanti.

"Saya ini memang mantan pengacara, tapi terus jangan dinilai bisa diatur, begini-begitu. Ngaco itu. Ini benar-benar rusak pegawai MA ini. Kita yang pegang perkara, mereka di luar main tebak-tebak manggis," cetus Syamsul.

Dalam percakapan BBM antara Andri dengan Kosidah di PN Jakpus pada Senin (16/5) kemarin, terungkap ada dagang perkara terkait kasus kasasi. Andri meminta bantuan koleganya untuk mengkondisikan majelis.

"Main di Pak Chaniago aja mas, biar beliau yang pegang," kata Kosidah kepada Andri dalam BBM itu.

"Iya nanti saya sampaikan ke yang bersangkutan," jawab Andri.

Kasus ini terungkap dengan ditangkapnya Andri oleh KPK pada 14 Februari 2016. Andri ditangkap usai menerima suap Rp 400 juta dari Ichsan Suaidi lewat perantara Awang. Mereka kini meringkuk di penjara dan tengah diadili di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Nggak Kenal Andri
Atas percakapan itu, Syamsul Rakan tertawa. Dia sama sekali tidak mengenal Andri.

"Saya nggak kenal Andri. Ketemu saja tidak," kata Syamsul Rakan saat dikonfirmasi, Selasa (17/5) pagi ini.

Syamsul Rakan kaget dengan pengakuan tersebut. Ia merasa namanya dicatut untuk diperjualbelikan oleh pihak-pihak yang ingin mengeruk keuntungan pribadi.

"Pegawai bawahan ya begitu. Seolah-olah kenal dekat. Diajak foto bareng," ujar Syamsul Rakan.

Sebagai hakim yang khusus menangani perkara korupsi, ia menjaga dirinya dari berbagai orang yang punya niat negatif. Termasuk membatasi diri dengan pegawai MA.

"Kami paling ke bagian umum, minta kertas habis. Kadang panitera saja kami nggak kenal," ucap Syamsul menegaskan.
Kosidah  Diperiksa

Percakapan antara Andri Tristianto Sutrisna (ATS) dengan koleganya Kosidah membuka kotak pandora di Mahkamah Agung (MA). Ternyata lembaga tertinggi peradilan di Indonesia itu memiliki pejabat yang memperdagangkan perkara dengan berbagai modus.

Dalam percakapan itu, Kosidah atau biasa dipanggil Ida merupakan staf di bagian kepaniteraan. Ia menjadi spion Andri yang menjabat Kasubdit Kasasi/PK. Kosidah mengintip perkara, majelis dan menyusun strategi susunan majelis, sedangkan Andri menjadi pemetik dengan pihak penyuap.
"Badan Pengawas (Bawas) sudah membentuk tim untuk memeriksa Kosidah," kata Kepala Bawas MA Sunarto.

Dalam dagang perkara itu, Andri meminta bagaimana caranya agar perkara-perkara yang diperdagangkannya tidak jatuh ke tangan Artidjo Alkostar. Sebab hakim agung Artidjo dikenal tidak kenal kompromi saat mengadili berbagai kasus seperti korupsi.

Berikut percakapan lengkap yang dibuka di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (16/5) kemarin:
Andri: Tolong dicek yang ajukan kasasi jaksa atau terdakwa

Kosidah: Ya Mas Andre

Andri: Mudah-mudahan majelisnya bukan AA (diduga Artidjo Alkostar)

Kosidah: Iya mudah-mudahan, korupsi perusahaan atau pemerintahan?

Andri: Pemerintahan, Mbak

Kosidah: Nanti dilacak nomor kasasinya untuk penetapan, mudah-mudahan bukan AA (Artidjo Alkostar-red)

Andri: Kira-kira minta nomor sepatunya berapa ya, Mba?

Kosidah: Berapa ya? Kalau 25 bagaimana

Andri: Saya sudah ada di situ belum?

Kosidah: Sekarang Pak Syafrudin banyak nganggur, maksud saya kan sama saja, tidak usah fokus majelis ATM, Mas Andri tambahin saja mintanya
Andri: .... Juga bisa kan? Nanti nomor saya sampaikan besok lihat berkasnya sudah masuk ya

Kosidah: Iya saya juga, iya siap Mas

Andri: Mas Ichsan terdakwa dari Mataram sudah putus nomor kasasinya berapa?

Kosidah: Ok

Andri: Mbak untuk Mataram kan minta agar berkasnya ditahan dulu, minta ditahan dulu

Kosidah: Minta saja 50, kasih ke PP 30, itu kan perkara korupsi

Andri: Iya saya usahakan bersama yang bersangkutan. (detikcom/f)
Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com