Usut Pelaku Penembakan Pdt Yeremias Zanambani di Papua

PGI Desak Pemerintah Bentuk Tim Investigasi Independen


221 view
PGI Desak Pemerintah Bentuk Tim Investigasi Independen
Foto dok. ist
Pendeta Yeremia Zanambani. 
Jakarta (SIB)
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) mengecam keras penembakan yang menewaskan Pendeta Yeremias Zanambani, Sabtu (19/9) di Klasis Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua.

Selain mengecam pelaku penembakan, PGI mendesak Pemerintah untuk membentuk tim investigasi independen guna mengusut pelaku penembakan tersebut.

Menurut Humas PGI, Philip Situmorang, hingga saat ini pihaknya belum dapat memastikan pihak mana yang harus bertanggungjawab atas tewasnya hamba Tuhan tersebut.

Simpang-siur pelaku penembakan terhadap Pendeta Yeremia Zanambani yang merupakan masyarakat asli Suku Moni masih menjadi misteri. Ada yang mengatakan pelakunya adalah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), bahkan ada juga dugaan pihak TNI.

"Informasi mengenai penembakan ini masih simpang siur. Di satu sisi PGI mendapat laporan dari GKII dan pemberitaan media lokal yang menyebutkan, penembakan tersebut diduga dilakukan oleh aparat TNI yang sedang melakukan tugas operasi militer, sementara media nasional memberitakan bantahan pihak TNI, dan menyebut pelaku penembakan adalah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB),"kata Philip Situmorang dalam keterangan pers yang diterima, koran SIB, Senin (21/9).

Menurut Philip, meskipun PGI belum bisa memastikan pihak mana yang melakukan penembakan hamba Tuhan itu, pihaknya telah menyurati Presiden, Kapolri dan Panglima TNI untuk mengusut tuntas kasus ini dengan membawanya ke ranah hukum.
"Untuk menghindari saling tuduh, sebagaimana sudah terjadi, kami mengusulkan dibentuknya tim investigasi yang independen," tegasnya.

Berikut 4 sikap PGI terkait penembakan terhadap Pdt Yeremias Zanambani :
Menyatakan duka yang mendalam kepada semua keluarga korban yang terluka dan yang kehilangan anggota keluarganya dalam kasus ini. Kiranya Tuhan yang Rahmani memberikan penghiburan bagi seluruh keluarga.

Mendesak dan mendukung upaya pihak kepolisian RI dalam hal ini Kepolisian Daerah Papua bekerja sama dengan Komnas HAM Perwakilan Papua untuk terus melakukan investigasi kasus ini.

Meminta pemerintah, lembaga adat dan gereja-gereja di Papua untuk ikut aktif memfasiltasi penyelesaian kasus ini.

Harus dihentikan segala bentuk kekerasan di Papua yang membawa korban, baik rakyat sipil maupun aparat keamanan.
"Kasus ini menjadi kasus penembakan terakhir dan mendorong pemerintah menyelesaikan tuntas kasus-kasus sejenis selama ini, termasuk kasus Paniai, Nduga," pungkasnya.

Sebelum peristiwa penembakan terhadap Pendeta Yeremias, dua tukang ojek, yakni Laode Anas (34) yang terkena tembakan di lengan kanan, dan Fatur Rahman (23) yang mengalami luka sabetan senjata tajam di bagian dahi dan hidung, serta perut menderita luka tembak, Senin (14/9). Diduga pelakunya, KKB.

Beberapa hari kemudian, tepatnya, di Kampung Bilogai, Distrik Sugapa, Serka Sahlan dan seorang warga sipil, Bahdawi juga meninggal dunia.

Tidak hanya itu saja, Babinsa Koramil Persiapan Hitadipa, Pratu Dwi Akbar Utomo gugur setelah mengalami luka tembak.

Fitnah KKB
Sementara itu, Polda Papua menegaskan bahwa kabar yang menyebut pendeta Yeremia Zanambani ditembak TNI tidak benar. Polda Papua menyatakan isu tersebut disebar KKB sebagai fitnah.

"Perlu diketahui bahwa Distrik Hitadipta Kabupaten Intan Jaya tidak ada personel TNI/Polri, yang ada hanya Pos Persiapan Koramil Hitadipta. Isu yang beredar bahwa kasus penembakan yang mengakibatkan Pendeta Yeremia Zanambani dilakukan oleh aparat TNI itu tidak benar," kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal dalam keterangannya, Senin.

Kamal menyebut pihak KKSB memang sengaja menyebarkan isu yang menyatakan bahwa pendeta Yeremia ditembak oleh TNI. Menurutnya, itu dilakukan untuk mencari perhatian jelang Sidang Umum PBB.

"Rangkaian kejadian beberapa hari ini adalah setting-an KKB yang kemudian diputarbalikkan bahwa TNI melakukan penembakan kepada pendeta. Harapan mereka, kejadian ini jadi bahan di Sidang Umum PBB," sebut Kamal.

"Kami mengimbau kepada warga masyarakat untuk tidak terprovokasi dengan sebaran fitnah oleh KKB, khususnya melalui medsos. Fitnah mereka di media sosial, jelas sudah settingan dan rekayasa untuk menghasut masyarakat sekaligus menyudutkan TNI/Polri dan pemerintah menjelang Sidang Umum PBB," sambungnya.

Kamal juga memastikan bahwa pihaknya akan menyelidiki kasus kematian pendeta Yeremia. Polisi, sebut dia, akan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

"Kami akan melakukan olah TKP untuk mengetahui sebab kematian pendeta Yeremia Zanambani," terangnya.
Polisi mengimbau agar warga tidak terprovokasi dengan isu-isu yang beredar. Polisi dan TNI saat ini sedang meningkatkan patroli gabungan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

"Kami meminta dukungan dari seluruh warga, sehingga kita dapat hidup dengan nyaman tanpa adanya gangguan-gangguan dari kelompok-kelompok yang tidak menginginkan daerah kita ini aman. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama terutama para tokoh agama," harap Kamal. (J02/detikcom/f)

Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com