PMI: Stok Plasma Konvalesen untuk Pasien Covid-19 Sangat Kurang


115 view
PMI: Stok Plasma Konvalesen untuk Pasien Covid-19 Sangat Kurang
Foto: Agung Mardika/detikcom
Ilustrasi plasma konvalesen
Jakarta (SIB)
Sejumlah pasien Covid-19 lolos dari maut usai tertolong berkat bantuan plasma konvalesen (PK), salah satunya yakni pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda. Meski plasma konvalesen berkhasiat, ternyata stoknya mulai menipis.

"Untuk saat ini ketersediaan plasma sangat berkurang, dikarenakan tingginya permintaan, antrean permintaan di PMI pun terus bertambah, sehingga keluarga pasien diminta untuk membawa calon donor pengganti yang memenuhi persyaratan untuk diseleksi di 42 UDD (Unit Donor Darah) PMI yang bisa menyediakan PK," ujar manager kualitas UDD Pusat PMI, Dr. dr. Saptuti Chunaeni, M.Biomed dalam keterangannya, Senin (19/7).

Saptuti pun berharap uluran tangan dari masyarakat yang pernah terkena Covid-19 untuk mendonorkan plasma konvalesen. "Kami berharap agar para penyintas Covid-19 yang telah sembuh dapat mendonorkan plasmanya untuk bisa membantu banyak orang yang mungkin sedang berjuang untuk melawan penyakit ini," terang Saptuti.

Plasma konvalesen merupakan terapi tambahan yang diperuntukkan membantu kesembuhan pasien Covid-19. Antibodi Imunoglobulin G (IgG) yang ada di plasma konvalesen tersebut berperan menurunkan jumlah virus SARS-CoV-2 yang ada di tubuh pasien Corona.

"Kandungan protein lainnya yang terdapat di dalam plasma tersebut, berguna untuk menjaga sel tetap utuh sehingga organ hati, ginjal, paru, jantung dijaga agar tidak rusak sehingga pasien tidak jatuh ke kasus lebih berat/kritis," terang dr Saptuti.

Selain itu, plasma konvalesen mencegah terjadinya long Covid, artinya gejala sisa yang dapat dirasakan penyintas "Seperti masih sesak dan sebagainya, walau pun hasil PCR sudah menunjukkan negatif," tuturnya.

Meski begitu, dr Saptuti mengingatkan plasma konvalesen mesti diberikan kepada pasien Covid-19 sedini mungkin. Terutama ketika gejalanya belum berat.

"Pada saat H3-H12 tentunya dengan penyakit penyerta (komorbid) belum berat dan juga belum masuk tahap kritis dengan ventilator. Efektivitas kesembuhannya akan tinggi, namun jika diberikan saat keadaan pasien sudah kritis efek terapinya akan kecil," pungkasnya.

Selamat
Abu Janda sudah dinyatakan sembuh dari Corona setelah 10 hari dirawat di RS Mayapada, Jakarta Selatan. Abu Janda mengaku terselamatkan karena mendapatkan donor plasma konvalesen.

"Saya selamat karena plasma, saya saksi hidup selamat karena plasma," ujar Abu Janda saat dihubungi detikcom, Senin (19/7).

Abu Janda mengatakan ia masuk UGD RS Mayapada dengan gejala yang berat. Ditambah lagi, Abu Janda punya penyakit bawaan yang memperparah kondisinya.

"Aku masuk UGD itu kondisiku berat, aku komorbid paru. Itu yang bikin saya berat," katanya.

Abu Janda mendapatkan 3 kantong plasma konvalesen. Kondisinya terus membaik setelah mendapatkan donor plasma konvalesen.

"Jadi setelah diberikan plasma kedua itu batuk mulai reda, napas mulai agak plong. Setelah plasma ketiga, batuk hilang, terus napas akhirnya bisa lega," katanya. (detikcom/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com