PT Medan Vonis Mati Dua Eksekutor Pembunuh Hakim Jamaluddin


299 view
PT Medan Vonis Mati Dua Eksekutor Pembunuh Hakim Jamaluddin
Istockphoto/bymuratdeniz
Ilustrasi vonis hakim. 
Medan (SIB)
Majelis Hakim Pengadilan Tinggi (PT) Medan mengubah hukuman terhadap dua eksekutor kasus pembunuhan hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan Jamaluddin dengan pidana mati. Keduanya yakni Reza Fahlevi yang semula divonis 20 tahun penjara, menjadi pidana mati.

Begitu juga dengan Jefri Pratama, dari penjara seumur hidup menjadi hukuman mati. Hukuman sebelumnya dianggap terlalu ringan dan tak sepadan dengan perbuatan keduanya.

"Menyatakan terdakwa M Reza Fahlevi telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana 'Pembunuhan Berencana Yang Dilakukan Secara Bersama-Sama' sebagaimana didakwakan dalam Dakwaan Primair Penuntut Umum.
Menjatuhkan pidana kepada terdakwa M Reza Fahlevi oleh karena itu dengan pidana mati," demikian bunyi putusan majelis banding yang dilansir website Mahkamah Agung (MA), Senin (21/9).

Ketiga majelis hakim tinggi yang diketuai Ronius dengan anggota Purwono Edi Santoso dan Krosbin Lumban Gaol menilai perbuatan Reza dan Jefri Pratama sangatlah biadab dan terencana menghabisi nyawa hakim. Sehingga sangat layak untuk dijatuhi hukuman yang setimpal yaitu hukuman mati. Reza dan Jefri disuruh oleh istri Jamaluddin, Zuraida Hanum.

"Terdakwa Reza Fahlevi dan saksi Jefri Pratama dan saksi Zuraida Hanum dapat dikategorikan sebagai perbuatan sadis dan tidak berperikemanusiaan dan sekaligus sebagai hal yang memberatkan, maka pidana yang akan dijatuhkan kepada Terdakwa Reza Fahlevi dan saksi Jefri Pratama dan saksi Zuraida Hanum harus diperlakukan sama dan adil, sesuai dengan amar putusan ini. Dan dengan putusan seperti itu akan memberikan efek jera dan takut kepada orang lain untuk tidak melakukan perbuatan yang sama di kemudian hari," terang majelis.

Zuraida membunuh suaminya di rumahnya di Perumahan Royal Monaco, Medan, pada 29 November 2019 dini hari. Hanum menyuruh Jefri dan Reza untuk menghabisi suaminya. Kemudian jenazah Jamaluddin dibawa ke ladang sawit dan dibuat seolah-olah kecelakaan.

"Menyatakan terdakwa M Jefri Pratama telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Pembunuhan Berencana Yang Dilakukan Secara Bersama-Sama, sebagaimana didakwakan dalam Dakwaan Primair Penuntut Umum. Menjatuhkan pidana kepada terdakwa M Jefri Pratama oleh karena itu dengan pidana mati," ucap majelis.

Penasihat hukum almarhum Jamaluddin mengapresiasi putusan Pengadilan Tinggi Medan tertanggal 10 September 2020 tersebut. "Memang itulah yang semestinya, karena pada dasarnya inikan pembunuhan berencana dari mereka bertiga.Jadi ini sudah pas, pasal 340 nya sudah duduk," ucap Muhammad Jafaruddin selaku penasehat hukum Jamaludin via telepon seluler.

Namun Jafaruddin mengaku masih melihat putusan itu di website Pengadilan Tinggi Medan. "Kita secara resmi belum menerima salinan putusannya. Saya masih lihat di E- Court," terang jelas Jafar.

Ditanya apa tanggapan keluarga Jamaluddin,Jafar mengaku belum ada memberitahukan ke mereka. "Mungkin hari ini akan saya beritahukan, saya yakin mereka juga akan puas mendengar hal ini," pungkasnya. (M14/f)

Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com