Pakar Epidemiologi Usul Karantina Se-Jawa agar Corona Tak Makin Menggila


186 view
Pakar Epidemiologi Usul Karantina Se-Jawa agar Corona Tak Makin Menggila
Foto: Getty Images/BlackJack3D
Ilustrasi virus corona.
Jakarta (SIB)
Terjadi lonjakan kasus virus Corona (Covid-19) di Indonesia, khususnya DKI Jakarta, Kudus, dan Bangkalan. Epidemiolog menyarankan agar karantina wilayah diberlakukan di lokasi yang mengalami lonjakan kasus.

Pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono, mengungkapkan perlu penanganan cepat jika ditemukan kasus Corona di sebuah daerah. Dia kemudian mencontohkan isolasi di tingkat RT.

"Kalau ada satu RT di satu kompleks, kita isolasi RT tersebut, agar rumah-rumah lain di RT tersebut nggak kena," ujar Pandu Riono saat dihubungi, Senin (14/6).

"Di RT tersebut dilakukan testing, lacak, dan isolasi, dan semua penduduk di wilayah tersebut divaksinasi, orang-orang paling berisiko. Strategi vaksinnya kita ubah," ucapnya.

Karantina wilayah juga perlu dilakukan segera. Pemerintah juga harus menghilangkan stigma negatif soal karantina wilayah merugikan masyarakat sekitarnya.

"Saya anjurkan karantina wilayah, misal Kota Kudus, Kota Kudus harus dikarantina, Pulau Madura harus dikarantina, tapi bukan berarti dikarantina dibiarkan mati," katanya.

Kemudian, pakar epidemiologi dari Griffith University Australia Dicky Budiman, menyampaikan hal senada dengan Pandu soal karantina wilayah. Karantina harus dilakukan serentak di Jawa agar kasus Corona tak semakin menggila.

"Belum ada varian serius kita harus PSBB, dan karantina wilayah. Apalagi saat ini (saat adanya varian baru yang lebih kuat), harus level Jawa, bukan lagi Jakarta," ucapnya saat dihubungi terpisah.

Dicky menjelaskan, saat ini lonjakan kasus terjadi karena adanya virus Corona varian Delta menyebar. Diperkirakan, akan tetap ada lonjakan selama beberapa bulan ke depan.

"Kita bisa hadapi periode atau durasi lonjakan, relatif bisa 2 bulan, bahkan 3 bulan melihat data terakhir," ucapnya.

Pemerintah dinilai perlu serius mengerahkan segala upaya untuk mengatasi lonjakan kasus tersebut sehingga kasus tidak melonjak secara tajam dalam beberapa hari ke depan.

"Semua daerah, wilayah, khususnya Jawa, Bali, Madura dan Kota Raya (Jakarta) harus memperkuat 3T (testing, tracing, dan treatment) dengan vaksinasi masif agresif, dan 5 M (memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi), secara kuantitas, kualitas ditingkatkan," katanya.

"Peran perkantoran, WFH wajib, harus semua bersinergi, kolaborasi, jangan ini membatasi pergerakan, bekerja di rumah, yang ini menyuruh orang pergi," katanya.

Seperti diketahui, kasus virus Corona di Indonesia sedang melonjak sehingga pemerintah mengumumkan PPKM mikro diperpanjang. Ketentuan mengenai work from home di zona merah menjadi 75 persen.

"Kemudian beberapa kegiatan yang terkait PPKM mikro yang akan diperpanjang tanggal 15 sampai 28 Juni. Ini untuk daerah zona merah work from home-nya 75 persen. Jadi untuk daerah-daerah berbasis PPKM mikro merah itu kantornya 25 persen," kata Ketua KPC-PEN Airlangga Hartarto dalam konferensi pers, Senin (14/6).

5 Provinsi
Terpisah, Satgas Penanganan Covid-19 mengungkap data lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia minggu ini. Lima provinsi teratas dengan kenaikan kasus ada di Pulau Jawa.

"Lima provinsi teratas yang mengalami kenaikan kasus seluruhnya berasal dari Pulau Jawa yaitu Provinsi DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Yogyakarta dan Jawa Timur. Bahkan provinsi keenam teratas juga berasal dari pulau Jawa yaitu provinsi Banten, yaitu kenaikan kasus lebih dari 400 hingga 7.000 kasus di minggu ini," kata Juru Bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito dalam siaran YouTube BNPB, Selasa (15/6).

Wiku mengatakan, kenaikan kasus itu terjadi di daerah tujuan mudik. Kasus juga meningkat di daerah asal pemudik, yaitu DKI Jakarta.

"Kenaikan kasus pada minggu ke-5 pasca periode Idul Fitri ini jelas terlihat pada daerah tujuan mudik seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, Banten dan Jawa Barat, serta daerah yang menjadi asal pemudik yaitu DKI Jakarta," jelasnya.

Kenaikan kasus ini, kata Wiku menunjukkan kekhawatiran. Dia meminta agar pemerintah daerah dan warga mengikuti pembatasan yang telah ditetapkan.

"Kondisi yang mengkhawatirkan ini patut menjadi perhatian bagi pemerintah daerah serta masyarakat untuk lebih berhati-hati dan segera menetapkan strategi pengendalian kasus yang sesuai dengan kondisi dan kapasitas masing-masing daerah," kata Wiku.

Lebih lanjut, Wiku menekankan fokus pemerintah saat ini adalah mengendalikan penambahan kasus. Dia juga meminta masyarakat membatasi mobilitas dan menaati protokol kesehatan.

"Oleh karena itu fokus kita saat ini adalah untuk segera mengendalikan penambahan kasus di daerah-daerah yang sedang mengalami kegentingan kondisi kasus dengan ikut serta mematuhi kebijakan yang ada baik pembatasan mobilitas dalam dan luar negeri dan kedisiplinan protokol kesehatan," katanya. (detikcom/f)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com