Pakar Soroti Lima Masalah Bahasa Indonesia di Media


300 view
Pakar Soroti Lima Masalah Bahasa Indonesia di Media
Foto: Ist/harianSIB.com
Budayawan dan Dosen Universitas Pasundan Dr Hawe Setiawan

Jakarta (SIB)

Bahasa Indonesia telah diperjuangan sebagai Bahasa persatuan jauh sebelum Indonesia merdeka, antara lain oleh Mohammad Tabrani Soerjowitjitro.

Tapi penggunaan Bahasa Indonesia dalam kehidupan masyarakat, khususnya oleh kalangan jurnalis masih bermasalah.

Budayawan dan Dosen Universitas Pasundan Dr Hawe Setiawan mencatat setidaknya ada lima masalah, yakni penyusunan kalimat yang logis, hemat, pemilihan kata yang tepat, penempatan kata dalam sistem kalimat, dan pemakaian gaya bahasa serta ungkapan khas.

Dia mencontohkan, soal penggunaan kata sinergitas yang tidak tepat dalam kalimat yang dicuplik dari sebuah media online.

"Menpora Zainudin Amali menekankan sinergitas antara pemangku kepentingan di bidang kepemudaan demi mewujudkan pemuda Indonesia yang berkualitas."

"Sinergitas ataukah sinergi?," kata Hawe. Begitu pun dengan kalimat, "antara pemangku kepentingan bidang kepemudaan" seharusnya ada padanan dan siapa, sebelum dilanjutkan dengan "demi mewujudkan pemuda Indonesia yang berkualitas."

Contoh lain dikutip dari cnnindonesia.com 28 Juli 2022, "Beberapa remaja tanggung yang kerap nongkrong di Citayam Fashion Week mengaku tak setuju jika dipindahkan ke tempat lain, termasuk jika pindah ke kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara."

Dalam kalimat tersebut, kata Hawe, "Siapa yang mungkin dipindahkan? "Beberapa remaja tanggung" ataukah tempat penyelenggaraan "Citayam Fashion Week"?

Hawe Setiawan mengungkapkan hal itu dalam diskusi Forum Bahasa Media Massa (FBMM) bertajuk "Tabrani dan Masa Depan Bahasa Indonesia" di Aula Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Cikini - Jakarta, Jumat (5/8).

Turut menjadi pembicara dalam diskusi yang dipandu Rita Sri Hastuti itu mantan Ketua Umum FBMM T.D. Asmadi dan Wartawan Republika yang juga Pegiat Jejak Republik, Pryantono.

Tentang sosok Tabrani, selain sebagai pegiat Jong Java asal Madura, ia juga ketua panitia Kongres Pemuda 1926, sarjana Indonesia yang mempelajari jurnalisme di Jerman, dan salah seorang penggagas pers Indonesia.

Tabrani, kata Hawe, menyebut zamannya sebagai "kurun peralihan" (overgangsperiode).

Dalam kurun itu, ikhtiar untuk menggagas, mencari, dan memakai bahasa Indonesia ditempuh dalam pertautannya dengan perjuangan politik.

Itulah ikhtiar bersama untuk menampik kolonialisme, khususnya kolonialisme dalam arti tata kuasa yang antara lain mewujud dalam pemakaian bahasa Belanda di tanah jajahan.

Dalam hal ini, bahasa Indonesia menjadi salah satu pilar "persatuan" (eenheid) masyarakat antikolonial. Bahasa Indonesia juga hendak dijadikan medium pendidikan masyarakat oleh elite pengetahuan.

"Adapun "senjata" (wapen) yang sangat diperlukan dalam perjuangan seperti itu tiada lain dari media massa, khususnya surat kabar harian," kata Hawe.

Buku karya Tabrani yang berjudul Ons Wapen: De Nationaal Indonesische Pers en Hare Organisatie (Senjata Kita: Pers Nasional Indonesia dan Organisasinya) terbitan 1929, menurut Hawe, mestinya jadi salah satu bacaan wajib buat mahasiswa jurnalistik di Indonesia.

Sebab buku yang tebalnya sekitar 50-an halaman itu berisi uraian ilmiah mengenai lapangan persuratkabaran dan tantangannya di Indonesia pada zaman kolonial.

Tabrani yang merupakan tokoh pergerakan dan ketua panitia Kongres Pemuda I pada 1926 dan perumus Sumpah Pemuda, di masa kemerdekaan kemudian tercatat pernah menjadi direktur di perusahaan Coca Cola.

"Ini bagi saya menarik sekali bila dibuatkan biografi untuk mendapatkan gambaran lebih utuh tentang sosok Pak Tabrani," kata Hawe. (detikcom/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com