Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah:

Pancasila adalah Puncak Kebudayaan Bangsa Indonesia


344 view
Pancasila adalah Puncak Kebudayaan Bangsa Indonesia
Foto Dok
Ahmad Basarah
Jakarta (SIB)
Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah mengatakan kebudayaan merupakan unsur ketiga dari ajaran Trisakti Bung Karno. Menurutnya, perjuangan kebudayaan adalah perjuangan membangun cipta, rasa dan karsa yang dalam konteks Indonesia berarti membangun bangsa yang menuju pada masyarakat yang adil dan makmur.

"Dengan kata lain, pembangunan kebudayaan Indonesia artinya menurut istilah Bung Karno, disebut sebagai Nation and Character Building," ujar Basarah dalam keterangannya, Jumat (23/4).

Hal ini dia ungkapkan dalam Webinar Pra Kongres Persatuan Alumni GMNI yang bertema 'Tantangan dan Strategi Kebudayaan Dalam memperkokoh Kepribadian Bangsa', pada Kamis kemarin. Acara ini merupakan rangkaian kegiatan menuju Kongres IV PA GMNI yang dijadwalkan berlangsung pada 19-21 Juni 2021 di Bandung.

Basarah melanjutkan tidak akan mungkin tujuan pembangunan Indonesia bisa tercapai manakala pembangunan tidak disandarkan pada pembangunan karakter. Menurutnya, Nation and Character Building mutlak diperlukan dalam sendi-sendi pembangunan bangsa, salah satunya lewat Pancasila.

"Pancasila sebagai ekspresi dari cipta, rasa dan karsa bangsa Indonesia yang dirumuskan dan disepakati oleh Bung Karno dan para pendiri bangsa lainnya adalah puncak kebudayaan bangsa Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila adalah cita-cita peradaban tertinggi bangsa Indonesia," tegas Basarah.

Basarah mengatakan Pancasila sebagai puncak kebudayaan nasional juga bukanlah ideologi utopia tapi Pancasila sebagai ideologi yang dinamis dan dapat bekerja di tengah masyarakatnya. Contohnya, di masa pandemi Cobid-19 ini ada kewajiban dalam setiap agama untuk membantu kesulitan terhadap sesama umat manusia.

"Dalam Islam disebut zakat, di agama Katolik ada ajaran amal kasih. Di agama Kristen ada ajaran persepuluhan dan persembahan. Di agama Hindu ada ajaran Dana dan Danapunya. Begitu juga dalam agama Budha ada ajaran Anisa Dana. Hal tersebut adalah implementasi dari sila Ketuhanan dan Kemanusiaan dalam Pancasila," ungkapnya.

Sementara itu, Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Hilmar Farid menekankan pentingnya pengembangan kebudayaan tradisional. Bahwa budaya nasional berakar pada tradisi dan kebudayaan tradisional. Pengembangan kebudayaan ini menjadi salah satu strategi dari Kemendikbud.

"Saat ini banyak orang yang tidak lagi bersentuhan dengan tradisi di masa lampau. Kita juga sudah lakukan perluasan kegiatan seni, pertunjukan festival dan lain-lain. Tujuannya adalah membangun interaksi masyarakat lebih luas. Intinya adalah membuka ruang interaksi luas dengan masyarakat, dan hasilnya alhamdulillah bagus," ucapnya.

"Yang jelas Kebudayaan Nasional tumbuh di dalam kerangka aksi. Kepribadian Nasional tak bisa tumbuh dalam ceramah, pidato dan lain-lain, Ia harus dikerjakan dalam bentuk nyata," imbuh Wimar.

Duta Besar RI untuk Austria Darmansyah Djumala juga menekankan pentingnya membuat narasi baru tentang diplomasi kebudayaan. Hal ini menjadi tantangan, sebab diplomasi budaya tidak hanya menampilkan produk kultural saja, melainkan menyuguhkan narasi baru, yaitu proyeksi terhadap nilai-nilai yang akan diproyeksikan ke luar negeri.

"Berpikir dan bersikap moderat dan toleran adalah jati diri bangsa kita. Inilah yang saya sebut dengan proyeksi nilai-nilai yang harus dikembangkan dalam diplomasi kebudayaan," jelasnya.

Terakhir Budayawan Eros Djarot menguraikan pentingnya memahami budaya bangsa dengan utuh. Pemahaman ini menjadi penting jika dikaitkan dengan situasi terkini. Menurutnya, untuk menghancurkan suatu bangsa dan negara saat ini tidak perlu melakukan invasi militer, melainkan cukup dengan melakukan invasi budaya saja.

"Kenyataan inilah yang harus kita pahami. Intinya kita harus kembali kepada hal mendasar. Kembali kepada jati diri, Nation and character building. Pembukaan UUD Tahun 1945 sebagai hasil kebudayaan bangsa Indonesia harus dijadikan pedoman dalam membangun dan mempertahankan eksistensi bangsa dan negara Indonesia dari derasnya arus globalisasi," pungkas Erros. (detikcom/c)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com