Pandemi Picu “Resesi Seks” di Singapura, Pernikahan Turun Drastis

* Di RI Angka Kelahiran Diprediksi Bertambah 400 Ribu

241 view
Pandemi Picu “Resesi Seks” di Singapura, Pernikahan Turun Drastis
REUTERS/EDGAR SU
Foto: Lonjakan kasus Covid-19 di Singapura.
Jakarta (SIB)
Singapura mengalami fenomena 'resesi seks'. Hal ini terlihat dari rendahnya angka pernikahan dan kelahiran anak di negara pusat finansial Asia itu.

Jumlah pernikahan di negara itu turun drastis ke level terendah dalam 34 tahun terakhir. Sementara jumlah angka kelahiran juga tergelincir ke level terendah selama tujuh tahun.

Fenomena 'resesi seks' ini rupanya dapat menyebabkan depresi ekonomi. Ini bisa menjadi masalah serius untuk berbagai sektor mulai ritel hingga real estat.

"Penurunan tingkat seks dan tingkat pernikahan jelas terkait ... tidak perlu menjadi jenius ekonomi untuk mengetahui bahwa lebih sedikit pernikahan dan anak-anak melemahkan permintaan ekonomi secara keseluruhan," ujar Jake Novak analis dari Jake Novak News.

Beberapa ahli fokus pada fakta bahwa generasi Milenial berurusan dengan utang pinjaman yang terus meningkat. Ini membuat realitas ekonomi mereka jauh lebih buruk daripada ketika generasi sebelumnya seusia mereka.

Mengutip Channel News Asia (CNA), sebelumnya ada 19.430 pernikahan tahun lalu. Jumlah ini turun 12,3% dari tahun sebelumnya 22.165.

Ini juga jadi catatan terendah sejak 1986, ketika ada 19.348 pernikahan. Covid-19 menjadi biang kerok yang melemahkan hasrat warga untuk menikah dan punya anak.

"Pembatasan pertemuan besar pada tahun lalu bisa menyebabkan pasangan menunda pernikahan mereka," ujar rilis Divisi Kependudukan dan Bakat Nasional Singapura.

Di tahun lalu, median usia pernikahan di Negeri Singa adalah 30 tahun untuk pria dan 28 tahun untuk wanita. Sebanyak 30% pernikahan melibatkan pasangan transnasional tapi ini turun 37% dari 2019.

Bukan hanya pernikahan, pandemi juga menyebabkan berkurangnya keputusan menjadi orang tua. Hanya ada 31.816 kelahiran di negeri itu di 2020 atau 3,1% lebih rendah dibanding sebelumnya, 32.844.

Ini adalah jumlah terendah sejak 2013. Dalam lima tahun 2016-2020, rata-rata ada 32.500 kelahiran, sedikit lebih banyak dari 32.400 dalam lima tahun sebelumnya 2011-2015.

Usia rata-rata ibu yang melahirkan pertama adalah 30,8 di 2020. Ini mirip dengan di 2019, 30,6 tahun.

Badan kependudukan Singapura mengatakan bahwa dalam survei terhadap sekitar 4.000 orang di Juni 2020, beberapa responden mengatakan bahwa mereka telah menunda pernikahan dan menjadi orang tua.

Bagaimana di Indonesia?
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr dr Hasto Wardoyo, SpOG (K) menyebut angka kelahiran di Indonesia tak jauh berbeda sejak sebelum pandemi. Dilaporkan peningkatan dan penurunan yang cukup dinamis setiap bulan.

Menurut Hasto, jumlah peserta keluarga berencana (KB) kini sekitar lebih dari 36 juta. Memang ditemukan beberapa peserta yang baru berhenti menggunakan KB.

"Penurunan rata-rata dengan adanya pandemi berkisar 5 persen, artinya ada sekitar 1,8 juta sampai dengan 1,85 juta bisa putus pakai kontrasepsi terutama di bulan April sampai dengan Mei 2020, awal pandemi," ungkap Hasto,Jumat (1/10).

"Dari yang putus pakai ini bisa 15 sampai dengan 20 persen hamil di tiga bulan pertama, putus atau berhenti KB-nya. Kalau 20 persen dari 1,8 juta, ya artinya 360 ribu kehamilan," sebutnya.

Hasto kemudian memprediksi angka kelahiran di 2021 maksimal bertambah 400 ribu, dibandingkan 2020.

"Karena kalau hamil mulai April Mei 2020, maka akhirnya sekitar Januari, Februari 2021. Kita buktikan saja nanti hasil pendataan 2021," pungkas dia.

Sementara, jika dilihat dari angka kematian selama pandemi Covid-19, total akumulatif kasus kematian Corona selama 19 bulan, berkontribusi 5 persen dari jumlah kasus meninggal per tahun biasanya.

"Dalam keadaan tanpa pandemi selama 19 bulan kematian kita sekitar 2,4 sampai dengan 2,5 juta. Bisa dihitung angka akumulatif kematian Corona 19 bulan 141.939 dibagi 2,5 juta dikali 100 persen. Jadi kontribusi Covid-19 sebagai penyebab kematian sekitar 5 persen dari kematian biasanya," sambung dia. (CNBCI/Detikhealth/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com