Pasukan Keamanan Tembaki Demonstran Anti-Kudeta Myanmar, 9 Orang Tewas

* Jurnalis Ditangkap dan Didakwa, ASEAN Serukan Solusi Damai

285 view
Pasukan Keamanan Tembaki Demonstran Anti-Kudeta Myanmar, 9 Orang Tewas
Foto: AFP/Stringer
BERLARI: Pengunjuk rasa berlari sembari memegang perisai buatan sendiri berlari menghindari gas airmata selama demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon, Rabu (3/3).
YANGON (SIB)
Pasukan keamanan Myanmar menembak dan menewaskan sembilan orang selama demonstrasi memprotes kudeta militer pada Rabu (3/3), demikian dilaporkan saksi mata dan media. Tindakan brutal itu terjadi sehari setelah Perhimpunan Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN) menyerukan diakhirinya kekerasan dan penyelesaian krisis secara damai di negara itu.

Laporan media menyebutkan, dua orang tewas dalam bentrokan di Mandalay, kota terbesar kedua Myanmar, Mandalay. Sementara satu orang tewas ketika polisi melepaskan tembakan di kota utama Yangon, kata seorang saksi mata di sana.

Monywa Gazette melaporkan lima orang tewas di pusat kota itu dalam tembakan polisi. Satu orang ditembak dan tewas di pusat Kota Myingyan, kata aktivis mahasiswa Moe Myint Hein, (25).

“Mereka menembaki kami dengan peluru tajam. Satu orang terbunuh, dia masih muda, seorang remaja laki-laki, ditembak di kepala,” kata Moe Myint Hein, yang terluka di kaki, kepada Reuters melalui telepon.

Seorang juru bicara dewan militer yang berkuasa tidak menjawab panggilan telepon yang meminta komentar.

Kekerasan itu terjadi sehari setelah menteri luar negeri dari tetangga Asia Tenggara mendesak pengekangan tetapi gagal bersatu di belakang seruan agar militer membebaskan pemimpin pemerintah yang digulingkan Aung San Suu Kyi dan memulihkan demokrasi.

Setidaknya 30 orang telah tewas sejak kudeta pada 1 Februari, yang mengakhiri langkah tentatif Myanmar menuju pemerintahan demokratis, memicu protes nasional dan kekecewaan internasional.

Pasukan keamanan juga menahan sekitar 300 pengunjuk rasa saat mereka membubarkan protes di Yangon, kantor berita Myanmar Now melaporkan. Seorang aktivis mengatakan beberapa pemimpin protes termasuk di antara mereka yang dibawa pergi.

Video yang di-posting di media sosial menunjukkan antrean panjang pria muda, tangan di atas kepala, masuk ke truk tentara saat polisi dan tentara berjaga. Reuters tidak dapat memverifikasi rekaman tersebut.

Militer membenarkan kudeta tersebut dengan mengatakan keluhannya atas kecurangan pemilih dalam pemilu 8 November diabaikan. Partai Suu Kyi menang telak, mendapatkan masa jabatan lima tahun kedua. Komisi pemilihan mengatakan pemungutan suara itu adil.

Pemimpin Junta Jenderal Senior Min Aung Hlaing mengatakan intervensi itu untuk melindungi demokrasi Myanmar yang masih muda dan telah berjanji untuk mengadakan pemilihan baru tetapi tidak diberi kerangka waktu.

Ditangkap dan Didakwa
Otoritas militer Myanmar mengadili enam jurnalis karena meliput protes anti-kudeta yang berlangsung di sejumlah kota di Myanmar beberapa waktu terakhir.

Seperti dilansir AFP, Rabu (3/3), salah satu yang diadili merupakan seorang fotografer media terkemuka Associated Press, Thein Zaw (32), yang ditangkap pada Sabtu (27/2) lalu, saat dia meliput demonstrasi di Yangon.

Lima jurnalis lainnya disebut berasal dari media lokal, seperti Myanmar Now, Myanmar Photo Agency, 7Day News, Zee Kwet Online News dan seorang jurnalis lepas.

Pengacara Thein Zaw, Tin Zar Oo, mengatakan kliennya dan lima jurnalis Myanmar lainnya telah didakwa berdasarkan undang-undang "menyebabkan ketakutan, menyebarkan berita palsu atau menimbulkan kemarahan pegawai pemerintahan secara langsung atau tidak langsung".

Satu bulan lalu, junta militer mengamandemen undang-undang itu, di mana hukuman maksimumnya berubah dari dua tahun menjadi tiga tahun penjara."Ko Thein Zaw hanya melaporkan sejalan dengan undang-undang kebebasan pers -- dia tidak ikut protes, dia hanya melakukan pekerjaannya," kata Tin Zar Oo.

Dia menambahkan bahwa keenam jurnalis itu kini ditahan di penjara Insein, Yangon.

Secara terpisah, wakil pimpinan berita internasional AP, Ian Philips, menyerukan agar Thein Zaw segera dibebaskan. "Jurnalis independen harus diperbolehkan memberitakan dengan bebas dan aman tanpa takut akan pembalasan," katanya.

"AP mengecam dengan tegas penahanan sewenang-wenang Thein Zaw." imbuhnya.

Solusi Damai
Sementara itu, Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) menyerukan solusi damai untuk penyelesaian krisis politik di Myanmar, yang dipicu kudeta militer terhadap pemerintah sipil pada 1 Februari 2021.

“Kami mengimbau semua pihak terkait untuk mencari solusi damai, melalui dialog konstruktif dan rekonsiliasi untuk kepentingan masyarakat,” demikian pernyataan Ketua ASEAN mengenai pertemuan informal perhimpunan tersebut pada Selasa (2/3), yang salah satunya membahas isu Myanmar.

Mengacu pada pernyataan yang dikutip Rabu (3/3), ASEAN menyatakan keprihatinan atas situasi di Myanmar dan meminta semua pihak untuk menahan diri dan tidak melakukan kekerasan lebih lanjut.

ASEAN juga menyampaikan kesiapannya untuk membantu Myanmar secara positif, damai, dan konstruktif.

Negara tetangga Myanmar seperti Indonesia dan Singapura telah menyerukan penghentian kekerasan dan penyelesaian krisis melalui dialog, serta pembebasan para tahanan politik.

Namun, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi menekankan bahwa “pilihan ada di tangan masing-masing anggota ASEAN”. (Detikcom/Okz/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com