* Sungai Darah Mengalir Tebar Kematian dan Kehancuran

Paus: Hentikan Pembantaian di Ukraina

* Diultimatum Rusia Letakkan Senjata, Ukraina Menolak

218 view
Paus: Hentikan Pembantaian di Ukraina
(AP Photo/Alessandra Tarantino via news4jax.com)
MENYAPA: Paus Fransiskus menyapa kerumunan umat di misa Minggu Paskah dari atas mobil di Lapangan Santo Petrus di Vatikan, Minggu (17/4). 

Vatican City (SIB)

Paus Fransiskus pada Minggu (17/4) mengutuk dengan keras perang di Ukraina dengan mengatakan bahwa "agresi bersenjata" itu tak bisa diterima dan harus dihentikan.


Berbicara di depan ribuan orang di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, dalam pemberkatan mingguannya, dia juga mengatakan, pengeboman rumah sakit dan target sipil lainnya adalah tindakan "barbar" dan tanpa "alasan strategis yang sah".


"Atas nama Tuhan, saya minta kalian: hentikan pembantaian ini!" kata Fransiskus.


Dia mengatakan, kota-kota di Ukraina berisiko "tereduksi menjadi kuburan."


Sepekan sebelumnya di tempat yang sama, Fransiskus menolak penggunaan istilah "operasi militer khusus" oleh Rusia tentang invasinya di Ukraina.


"Di Ukraina, sungai darah dan air mata sedang mengalir. Ini bukan sekadar operasi militer tapi sebuah perang yang menebar kematian, kehancuran dan penderitaan," kata dia.


Paus Fransiskus juga mengutuk kekejaman perang di Ukraina pada Misa malam Paskah, Sabtu (16/4) yang dia hadiri tapi tak dia pimpin, mungkin karena sakit kaki yang memaksanya untuk membatasi kegiatan.


Misa dihadiri oleh Ivan Fedorov, wali kota Melitopol, yang ditahan oleh pasukan Rusia bulan lalu dan kemudian dibebaskan dalam pertukaran tahanan.


Kardinal Italia Giovanni Battista Re menggantikan Paus memimpin kebaktian itu, yang melibatkan prosesi dalam kegelapan hampir menyeluruh di bagian tengah gereja terbesar Dunia Kekristenan itu.


Paus duduk di depan Basilika Santo Petrus di kursi putih besar di samping, tampak waspada dan berdiri selama pembacaan Injil.


Dia membaca homili sambil duduk tapi dengan suara normal dan kemudian bangkit untuk membaptis tujuh orang yang memeluk Agama Katolik.


Paus berpaling dari teks yang disiapkan untuk menyapa Fedorov, keluarganya dan tiga anggota parlemen Ukraina yang duduk di depan.


Dia berbicara tentang "kegelapan perang, kekejaman".


"Kami semua berdoa untukmu dan bersamamu. Kami berdoa karena ada begitu banyak penderitaan. Kami hanya bisa menemanimu, doa kami dan berkata kepadamu 'jangan berkecil hati, kami menemanimu,'" kata Fransiskus.


Dia mengakhiri dengan mengatakan "Kristus telah bangkit" dalam bahasa Ukraina.


Vatikan mengatakan, Fransiskus bertemu secara pribadi dengan delegasi Ukraina sebelum Misa.


Digempur

Sementara itu, Kota di pinggiran Kiev, Brovary Ukraina juga digempur serangan roket. Kejadian ini menambah daftar serangan pasukan Rusia di ibu kota Ukraina dan sekitarnya selama tiga hari terakhir.


Dilansir CNN, Minggu (17/4) roket menyerang Brovary pada Minggu pagi waktu setempat. Kabar itu disampaikan Wali Kota Brovary, Ihor Sapozhko.


Sapozhko mengatakan, fasilitas infrastruktur telah rusak akibat gempuran roket tersebut. Dia juga menyampaikan ada kemungkinan terjadi gangguan pada pasokan listrik dan air.


Diketahui pasukan Rusia kembali menyerang sejumlah sasaran di sekitar dan ibu kota Kiev selama tiga hari terakhir.


Serangan ini dilakukan setelah pasukan Rusia mulai menarik diri dari sekitar Kiev bulan lalu dan mengalihkan fokus mereka untuk menguasai wilayah Donbas, Ukraina Timur.


Dilaporkan kantor berita AFP, Rusia juga meningkatkan serangan udara terhadap fasilitas militer di Kiev. Peningkatan itu dilakukan sehari setelah memperingatkan akan memperbarui serangannya di ibukota sebagai tanggapan atas apa yang dikatakan sebagai serangan Ukraina di tanah Rusia.


Moskow mengatakan mereka menggunakan rudal jarak jauh berbasis laut untuk menyerang sebuah pabrik tank.


Wali Kota Keiv Vitali Klitschko mengatakan, setidaknya satu orang tewas dan beberapa lainnya terluka dalam serangan udara tersebut.


Ultimatum

Di kesempatan terpisah, Rusia meminta tentara Ukraina di Mariupol yang terkepung untuk meletakkan senjata mereka mulai Minggu pukul 06.00 waktu Moskow (10.00 WIB), namun belum ada laporan apa pun 30 menit setelah ultimatum.


Sirene serangan udara terdengar secara berkala di seluruh Ukraina, tapi belum ada laporan tentang adanya pertempuran di kota pelabuhan itu.


Rusia mengatakan, pasukannya telah mengamankan kawasan perkotaan Mariupol dan hanya sejumlah kecil petempur Ukraina masih tersisa di dalam sebuah pabrik baja pada Sabtu.


Klaim Moskow bahwa mereka telah merebut Mariupol –medan peperangan terbesar dan daerah bencana kemanusiaan paling buruk– tidak dapat diverifikasi secara independen.


Jika klaim itu benar, Mariupol menjadi kota besar Ukraina pertama yang jatuh ke tangan Rusia sejak invasi mereka pada 24 Februari.


"Dengan mempertimbangkan situasi bencana yang berkembang di pabrik baja Azovstal, juga karena prinsip kemanusiaan semata, Angkatan Bersenjata Rusia menawarkan militan batalion nasionalis dan tentara bayaran asing mulai 06.00 (waktu Moskow) pada 17 April 2022 untuk menghentikan kekerasan dan meletakkan senjata mereka," kata kementerian pertahanan Rusia dalam pernyataan.


"Semua yang meletakkan senjata diberi jaminan bahwa nyawa mereka akan selamat," tulis pernyataan, seraya menambahkan bahwa petempur Ukraina bisa meninggalkan pabrik itu pada pukul 10.00 tanpa senjata dan amunisi.


Juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia Igor Konashenkov dalam keterangan pers mengatakan, 1.464 personel militer Ukraina menyerah dalam pertempuran di Mariupol.


Sebagai kota pelabuhan utama di Laut Azov, Mariupol menjadi salah satu lokasi pertempuran paling sengit dalam konflik Rusia-Ukraina.


Kementerian Pertahanan Ukraina mengatakan pada Jumat (15/4) bahwa pasukannya masih berperang melawan Rusia di Mariupol setelah hampir tujuh pekan sejak kota itu dikepung.


Tolak Ultimatum

Ukraina memberikan respon atas ultimatum Rusia di Mariupol. Pejabat Mariupol mengatakan pasukan Ukraina akan terus mempertahankan kota pelabuhan tersebut dari serangan Rusia.


Dilansir CNN, Minggu (17/4) sikap itu disampaikan oleh penasihat Wali Kota Mariupol, Petro Andriushchenko, sebagai tanggapan atas ultimatum Kementerian Pertahanan Rusia. Ultimatum ini berisi perintah meletakkan senjata bagi pasukan Ukraina dan tentara asing di Mariupol.


"Pada (Sabtu) malam, penjajah (Rusia) mengumumkan bahwa mereka akan menyediakan 'koridor penyerahan' untuk pasukan yang tersisa," kata Petro Andriushchenko di Telegram.


"Tapi mulai hari ini, para pejuang kami terus melakukan perlawanan," imbuhnya.


Andriushchenko juga mengatakan, perlawanan terhadap Rusia berlanjut di luar pabrik baja Azovstal, fasilitas raksasa yang telah menjadi benteng pertahanan pasukan Ukraina yang bertempur di Mariupol.


Pertempuran juga terjadi di Jalan Taganrog yang terletak lima kilometer dari Azovstal. Pertempuran terjadi pada Sabtu (16/4) malam waktu setempat.


"Selama pertempuran, penjajah menembaki rumah-rumah pribadi dengan artileri berat. Penembakan di daerah pelabuhan juga berlanjut." jelas Andriushchenko.


Tak Manusiawi

Sementara itu, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky mengatakan, situasi di Kota Mariupol tidak manusiawi. Kota Mariupol disebut hancur usai diserang militer Rusia sejak beberapa hará terakhir.


"Situasi di Mariupol tetap parah. Tidak manusiawi. Rusia sengaja mencoba menghancurkan semua orang yang ada di sana," kata Zelensky dalam pesan video, Sabtu (16/4), dikutip dari AFP.


Zelensky juga mendesak Barat untuk memasok senjata berat ke Ukraina, mengingat Rusia mengklaim berhasil menguasai hampir seluruh kota itu.


Selain itu, Menteri Transformasi Digital Ukraina, Mykhailo Fedorov, mengatakan, Mariupol terancam menghadapi bencana kemanusiaan. Ia juga menegaskan, Ukraina tengah mengumpulkan bukti kekejaman pasukan Rusia di kota itu.


"Kami akan menyerahkan semuanya [bukti kekejaman Rusia] ke Den Haag. Tidak akan ada impunitas," kata Fedorov.


Belum Disepakati

Ukraina menghentikan sementara evakuasi warga sipil dari Ukraina Timur. Hal ini dilakukan setelah kesepakatan dengan pasukan Rusia belum dapat disepakati.


"Sampai pagi ini, 17 April, kami belum bisa menyepakati gencatan senjata dengan penjajah di jalur evakuasi. Itulah mengapa, sayangnya, kami tidak membuka koridor kemanusiaan hari ini," tulis Wakil Perdana Menteri Ukraina Iryna Vereshchuk di media sosial, dilansir kantor berita AFP, Minggu (17/4).


Pihak berwenang Ukraina telah mendesak orang-orang di daerah Donbas timur untuk pindah ke barat untuk menghindari serangan besar-besaran Rusia, yang bertujuan merebut wilayah Donetsk dan Luhansk.


Vereshchuk juga mendesak pasukan Rusia untuk mengizinkan evakuasi dari kota pelabuhan Mariupol yang terkepung dan hancur, yang diklaim pasukan Moskow telah dikuasai mereka.


"Sekali lagi, kami menuntut dibukanya koridor kemanusiaan untuk evakuasi warga sipil, terutama perempuan dan anak-anak, dari Mariupol," tulisnya.


Larang

Presiden Rusia, Vladimir Putin dilaporkan kesal dengan Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson yang terus menunjukkan dukungannya ke Ukraina.


Putin pun melarang PM Inggris tersebut masuk ke Rusia karena dianggap telah mengobarkan histeria anti-Rusia.


Kantor Berita Rusia, TASS, melaporkan bahwa Kremlin telah memberikan sanksi kepada sejumlah anggota pemerintahan Inggris, Sabtu (16/4).


Selain Johnson, Menteri Luar Negeri Inggris, Lizz Truss dan Menteri Pertahanan Inggris, Ben Wallace juga dilarang masuk Rusia.


Selain dianggap mengobarkan histeria anti-Rusia, mereka juga disebut tanpa malu-malu menghasut rezim neo-Nazi Kiev.


Moskow secara khusus menuduh Inggris sengaja memperparah situasi di sekitar Ukraina, dengan menyediakan senjata mematikan kepada Kiev.


Selain itu juga mengoordinasikan upaya serupa atas nama NATO, dan mengancam akan memperluas daftar sanksinya dengan segera.


Kementerian Pertahanan Rusia menegaskan, negara itu telah melarang 13 anggota pemerintahan dan politikus Inggris masuk Rusia, termasuk Johnson, Truss dan Wallace.


“Langkah ini diambil sebagai tanggapan atas informasi tak terkendali dan kampanye politik London yang bertujuan mengisolasi Rusia secara internasional,” bunyi pernyataan yang dikutip dari Daily Mail.


“Selain itu juga menciptakan kondisi untuk membatasi negara kami dan mencekik ekonomi domestik,” tambahan pernyataan itu.


Kementerian tersebut menegaskan dalam waktu dekat, daftar cekal itu akan diperluas dengan memasukkan politisi dan anggota parlemen Inggris yang berkontribusi mengobarkan histeria Anti-Rusia.


Serta mendorong Barat secara kolektif menggunakan bahasa ancaman dalam dialog dengan Moskow, dan menurut mereka tanpa malu-malu menghasut rezim yang disebutnya neo-Nazi Kiev.


Inggris sendiri merupakan bagian dari usaha internasional untuk menghukum Rusia karena melakukan penyerangan ke Ukraina, dengan membekukan asset, larangan bepergian dan sanksi ekonomi.


Inggris juga telah memberikan sanksi kepada lebih dari 1.200 individu dan perusahaan Rusia, termasuk Putin, putrinya, Menlu Rusia Sergei Lavrov, dan sejumlah oligarki, termasuk pemilik Chelsea, Roman Abramovich.


Johnson juga telah menuduh Rusia telah melakukan kejahatan perang di Bucha dan Irpin.


Ia juga mendorong agar usaha Putin harus terus digagalkan. (Reuters/Antaranews/Detikcom/CNNI/KompasTV/a)


Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com