Paus Fransiskus Ingin Temui Pemimpin Gereja Ortodoks Rusia yang Dukung Invasi Rusia ke Ukraina


358 view
Paus Fransiskus Ingin Temui Pemimpin Gereja Ortodoks Rusia yang Dukung Invasi Rusia ke Ukraina
Foto: Twitter/@CubaMINREX
Pemimpin Gereja Katolik, Paus Fransiskus dalam pertemuan dengan Pemimpin Gereja Ortodoks Rusia, Patriark Kirill di Kuba pada 2016. 

Vatikan (SIB)

Vatikan sedang mempelajari kemungkinan pertemuan antara pemimpin Katolik Paus Fransiskus dengan pemimpin gereja Ortodoks Rusia, Patriark Kirill.


Vatikan merencanakan perjalanan Paus Fransiskus ke Libanon pada Juni, setelahnya, dia direncanakan terbang ke Yerusalem.


Dilansir dari Reuters pada Selasa (12/4), di Yerusalem, Paus Fransiskus akan menemui Patriark Kirill, yang sejauh ini mendukung perang Rusia di Ukraina.


Sebelumnya, Patriark Kirill dan Paus Fransiskus pernah bertemu di Kuba pada tahun 2016. Itu adalah pertama kali seorang Paus dan pemimpin Gereja Ortodoks Rusia bertemu sejak Skisma Besar yang memisahkan agama Kristen Timur dan Barat di Eropa tahun 1054.


Sebelumnya, pemimpin Gereja Ortodoks Rusia yang berusia 75 tahun itu merestui invasi Rusia ke Ukraina. Posisi yang telah memecah Gereja Ortodoks di seluruh dunia dan melepaskan pemberontakan internal yang menurut para teolog dan akademisi belum pernah terjadi sebelumnya.


Sementara, Paus Fransiskus yang saat ini berusia 85 tahun dijadwalkan berada di Lebanon pada 12-13 Juni. Selanjutnya dia akan terbang ke Amman, Yordania pada 14 Juni. Lalu pergi ke Yerusalem di hari yang sama untuk menemui Patriark Kirill.


Salah satu sumber Reuters mengatakan perjalanan itu tampaknya hampir pasti, sementara yang lain mengatakan itu adalah kemungkinan.


Sekembalinya dari perjalanannya ke Malta minggu lalu, Paus Fransiskus mengatakan dia berharap bertemu Patriark Kirill di suatu tempat di Timur Tengah tahun ini, tetapi tidak mengatakan di mana.


Patriark sebelumnya telah membuat pernyataan membela tindakan Rusia di Ukraina. Dia juga memandang perang sebagai benteng melawan budaya Barat liberal yang ia anggap dekaden.


"Biarkan Tuhan membantu kita bersatu selama masa sulit ini untuk Tanah Air kita, termasuk di sekitar pihak berwenang," kantor berita Interfax mengutip Kirill mengatakan pada suatu khotbah di Moskow.


Sebelumnya, Rusia mengirim puluhan ribu tentara ke Ukraina pada 24 Februari untuk menurunkan kemampuan militer negara itu dan membasmi orang-orang yang disebut nasionalis berbahaya.


Di sisi lain, Paus Francis telah menolak terminologi itu, menyebutnya perang.


Sejak perang dimulai, Fransiskus hanya menyebut Rusia secara eksplisit dalam doa-doa, seperti dalam acara global khusus untuk perdamaian pada 25 Maret. Namun ia telah memperjelas penentangannya terhadap tindakan Rusia, dengan menggunakan kata-kata invasi, agresi, dan kekejaman.


Pada hari Minggu (10/4), Paus menyerukan gencatan senjata Paskah di Ukraina. Referensi yang jelas ke Rusia, mempertanyakan nilai dari “menanam bendera kemenangan di tumpukan puing". (PK/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: KORAN SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com