Paus Fransiskus Minta Umat Kristen Berdoa dan Berpuasa untuk Afghanistan

* Kemlu: RI Tak akan Tergesa-gesa Akui Pemerintah Taliban

316 view
Paus Fransiskus Minta Umat Kristen Berdoa dan Berpuasa untuk Afghanistan
©REUTERS
Paus Fransiskus.

Vatikan (SIB)

Paus Fransiskus kemarin menyerukan seluruh umat Kristen di dunia untuk berdoa dan berpuasa memohon kepada Tuhan untuk membawa perdamaian di Afghanistan


Dalam misa mingguan di Lapangan St Peter, Vatikan, Paus mengatakan dia mengikuti berita tentang Afghanistan dengan cemas dan ikut merasakan penderitaan mereka yang menjadi korban dari tragedi bom bunuh diri di bandara Kabul, Afghanistan Kamis lalu.


Paus juga menuturkan dia dekat dengan "mereka yang mencari batuan dan perlindungan" bagi orang-orang yang ingin meninggalkan Afghanistan.


"Saya meminta semuanya melanjutkan membantu mereka yang membutuhkan dan berdoa agar dialog dan solidaritas bisa membawa perdamaian dan persaudaraan untuk hidup berdampingan yang memberikan harapan di masa depan untuk Afghanistan," kata Paus, seperti dilansir laman Reuters, Senin (30/8).


"Sebagai umat Kristen, situasi ini juga mengikat kita. Maka dari itu, saya menghimbau seluruh umat untuk berdoa dan berpuasa, berdoa dan berpuasa, berdoa dan menyesali. Sekarang adalah saatnya untuk melakukan hal tersebut."


Serangan bom bunuh diri pada hari Kamis lalu menewaskan 13 pasukan Amerika di luar gerbang bandara saat ribuan orang akan pergi keluar dari Afghanistan sejak Taliban menguasai negara itu.


Hanya ada sedikit umat Kristen di Afghanistan dan hampir semuanya adalah orang asing di kedutaan dan pekerja kemanusiaan.

Tak Akan Tergesa-gesa

Terpisah, pihak Indonesia menyatakan telah menemui perwakilan Taliban di Afghanistan. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, disebutkan pada Kamis (26/8) mengadakan pertemuan tersebut di kantor Biro Politik Taliban di Ibu Kota Doha, Qatar.


Dalam pertemuan tertutup tersebut, Menlu Retno menyampaikan tiga harapan pemerintah Indonesia pada pemerintahan baru Afghanistan yaitu pemerintahan yang inklusif, penghormatan pada hak-hak perempuan, dan memastikan Afghanistan tidak menjadi sarang teroris.


Pertemuan itu terjadi sebelas hari setelah Taliban menguasai Ibu Kota Kabul dan lima hari menjelang tenggat akhir penarikan pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan. Retno tidak menyebutkan siapa petinggi Taliban yang ditemuinya di Doha itu.


Juru bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah kepada VOA, Minggu (29/8) menjelaskan pemerintah Indonesia tidak akan tergesa-gesa mengakui pemerintahan Taliban di Afghanistan dan akan terus mengikuti perkembangan proses internal yang sedang berlangsung di negara Asia Tengah itu.


"Apakah mereka bisa membangun satu pemerintahan atau satu sistem politik yang inklusif. Tiga hal yang disampaikan Ibu Menlu (Menteri Luar Negeri Retno Marsudi) menjadi catatan penting buat Indonesia dan saya yakin banyak negara juga memiliki pandangan yang serupa. Jadi hal-hal itu kita harapkan bisa tercapai karena itu akan menciptakan kondisi yang lebih menjanjikan bagi perkembangan Afghanistan dari sekarang dan ke depan," kata Faizasyah.


Tak Otomatis

Menurut Faizasyah, kunjungan Retno ke kantor Biro Politik Taliban di Doha tidak otomatis berarti pemerintah Indonesia mengakui pemerintahan Taliban di Afghanistan.


Faizasyah menambahkan membangun komunikasi merupakan sebuah hal yang harus dilakukan dalam menyikapi perkembangan terbaru di Afghanistan.


Apalagi Retno juga sudah banyak berinteraksi dengan Taliban dalam beragam pertemuan membahas proses perdamaian di Afghanistan.


"Pertemuan kemarin adalah bagian dari katakanlah membangun komunikasi untuk mengetahui lebih khusus lagi apa rencana ke depan dari pihak Taliban dan dari sisi lain juga menyampaikan sisi pandangan Indonesia yang kita harapan bisa diperhatian dan diimplementasikan oleh pihak Taliban," kata Faizasyah.


Faizasyah mengungkapkan pertemuan antara Menlu Retno dan perwakilan di kantor Biro Politik Taliban itu berlangsung lebih dari sejam. Namun dia menolak menjelaskan secara rinci apa saja yang dibahas antara kedua pihak.


Kendati demikian Faizasyah menyebutkan bahwa Menlu Retno menyampaikan harapan pemerintah Indonesia kepada Taliban. Pihak Taliban juga menjelaskan mengenai rencana mereka ke depan dalam memerintah Afghanistan.


Faizasyah mengakui ketiga tuntutan disampaikan Retno dalam pertemuan dengan perwakilan di kantor Biro Politik Taliban di Doha tersebut juga menjadi harapan masyarakat internasional. Namun dia mengatakan pemerintah Indonesia berharap Taliban tidak lagi seperti dua daswarsa lalu ketika berkuasa untuk pertama kalinya di Afghanistan. (Merdeka/Liputan6/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com