Pemerintah Kebut Vaksinasi Corona, Jangan Sampai Kalah Cepat dengan Mutasi

* Airlangga: Tren Kepatuhan Protokol Kesehatan Masyarakat Meningkat

198 view
Pemerintah Kebut Vaksinasi Corona, Jangan Sampai Kalah Cepat dengan Mutasi
Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO
Sejumlah tenaga kesehatan mendapatkan vaksinasi dosis pertama vaksin coronaSinovac di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (4/2).
Jakarta (SIB)
Mutasi corona SARS-CoV-2 sudah terjadi ke beberapa bentuk. Yang paling baru dan mengkhawatirkan adalah mutasi ke varian baru di Inggris dan Afrika Selatan.

Bahkan mutasi tersebut disebut-sebut dan ditakutkan bisa mempengaruhi efektivitas vaksin di dunia.

Namun, pemerintah Indonesia memastikan vaksinasi tidak akan menghentikan program ini karena mutasi. Lagipula belum ada arahan dari WHO untuk hentikan vaksinasi.

"Jadi kita tetap akan mempergunakan vaksinasi dan melaksanakan program vaksinasi sebagai rangkaian untuk kita benteng pertahanan di masa pandemi ini. Daripada kita terus mendengar “oh ada mutasi baru vaksin dihentikan” ya berarti 9.000 orang sakit sehari, 300 orang meninggal setiap harinya," kata jubir vaksinasi corona dari Kemenkes Siti Nadia Tarmidzi dalam diskusi virtual, dilihat kumparan di Youtube change.org Indonesia, Jumat (19/2).

Dalam kondisi seperti ini negara harus mengambil tindakan untuk menyelamatkan masyarakatnya. Dan tentunya, kata dia, pemerintah melihat manfaat pada vaksinasi ini masih besar dan cukup efektif untuk mutasi ini sendiri.

"Nah ini yang harus kita tempuh dan yakini untuk itu kita melakukan akselerasi berpacu jangan sampai nanti mutasinya terus terjadi dan kemudian betul-betul tidak efektif, ,sementara kekebalan belum terjadi," tutur dia.

Para peneliti saat ini juga terus disupport untuk memperkuat segi surveillance genomic. Pemerintah juga mendukung 12 laboratorium juga melakukan kerja sama Kemenristek/BRIN agar lebih banyak meneliti virus yang bermutasi.

Meningkat
Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Airlangga Hartarto mencatat penurunan jumlah kasus aktif Covid-19 sebanyak 17,27 persen dalam sepekan. Airlangga pun menyampaikan ungkapan terima kasih kepada masyarakat atas turunnya kasus ini.

Airlangga mengatakan, berdasarkan Rapat Koordinasi terkait perkembangan pelaksanaan PPKM Mikro yang dilaksanakan pada Kamis (18/2), indikator-indikator penanganan Covid-19 menunjukkan hasil yang positif.

"Tentu indikator ini membuat kita semua bersyukur dan berterima kasih kepada seluruh masyarakat. Apalagi ada kecenderungan meningkatnya tren kepatuhan protokol kesehatan di masyarakat yang berada di kisaran 87,64 persen - 88,73 persen," kata Airlangga di akun instagram nya dikutip di Jakarta, Jumat (19/2)

Menteri Koordinator bidang Perekonomian ini menjelaskan Bed Occupancy Ratio (BOR) menunjukkan angka kurang dari 70 persen dari kapasitas yang tersedia di berbagai daerah.

"Tren kesembuhan terus meningkat dan angka kematian akibat Covid-19 terus menurun," jelas Airlangga

Ketua Umum Partai Golkar ini berharap tren positif ini tidak membuat lengah dan berpuas diri. Airlangga mengajak semua pihak untuk terus waspada dan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

"Hasil positif ini tentunya tidak akan didapat tanpa kerja sama seluruh pihak," ujar Airlangga.

Sebelumnya, Airlangga Hartarto memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan bangkit kembali atau rebound di kisaran 4,5-5,5 persen pada 2021 karena didukung peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi, pengeluaran pemerintah, dan ekspor.

"Proyeksi ini sejalan dengan outlook beberapa lembaga internasional, seperti World Bank, OECD, ADB dan IMF," kata Airlangga Hartarto di Jakarta, dikutip Antara, Rabu (17/2).

Ungkap 3 Hal
Sementara itu, menjawab banyak pertanyaan yang berkembang di masyarakat, Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Prof Hindra Irawan Satari mengatakan, ada tiga sifat efek setelah vaksinasi Covid-19, yakni lokal, bersifat umum dan berat.

“Jadi yang lokal tentunya di tempat suntikan. Ya bengkak, kemerahan, gatal, pegal, gitu ya,” ujarnya dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (19/2).

Sementara untuk bersifat umum ada beberapa gejala yang dikeluhkan. Di antaranya demam, pusing, ngantuk, nafsu makan berkurang, pegal, nyeri otot. “Namun alhamdulillah semuanya bisa ditangani. Ada yang tanpa pengobatan, ada yang dengan pengobatan, ada yang ringan,” katanya.

Hindra menyebut, hingga kini tak ada efek berat yang dikeluhkan oleh sasaran vaksinasi. Dia memastikan pihaknya terus memantau setiap hari.

“Tapi enggak ada yang sampai memerlukan tindakan serius. Tapi kami pantau laporan masuk dari hari ke hari, kami kaji setiap hari,” ungkapnya. (Kumparan/Merdeka.com/iNews.id/f)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com