Hasil Investigasi Tim Kemanusiaan Intan Jaya Papua

Pendeta Yeremia Ditembak Oknum TNI


589 view
Pendeta Yeremia Ditembak Oknum TNI
Foto Dok
Haris Azhar
Jakarta (SIB)
Ketua Tim Kemanusiaan untuk Intan Jaya Haris Azhar mengungkap hasil investigasi terkait penembakan pendeta Yeremia Zanambani yang dibunuh pada 19 September 2020, di Hitadipa, Intan Jaya. Haris Azhar membeberkan kronologi penembakan pendeta Yeremia yang diduga melibatkan oknum TNI.

Haris menyebut Tim Independen Kemanusiaan untuk Intan Jaya ini adalah tim yang terdiri atas sejumlah tokoh agama, akademisi, dan aktivis kemanusiaan di Papua. Tim ini dibentuk untuk merespons situasi kekerasan yang terjadi pada Pendeta Yeremia Zanambani.

Haris mengungkap insiden tersebut bermula pada 17 September ketika terjadi tembakan ke rombongan anggota TNI di Sugapa Lama, yang mengakibatkan 1 anggota meninggal dunia dan 1 laras panjang milik TNI diambil oleh OPM.

Setelah kejadian itu, Haris menyebut beberapa masyarakat Hitadipa dipanggil. Pada pertemuan itu, aparat meminta agar senjata yang hilang diambil OPM segera dikembalikan, serta meminta agar pendeta mengumumkan dan juga meminta warga mengutus orang ke kampung lain di Distrik Hitadipa, dengan pesan yang sama agar senjata dikembalikan.

"Pesan tersebut juga diiringi dengan ancaman bahwa kalau tidak dikembalikan distrik Hitadipa akan di-bom. Praktik ini terus terjadi pada tanggal 18 September, keesokan harinya," kata Haris dalam keterangan tertulis yang diterima Minggu (1/11).

Kemudian pada 19 September, Haris menyebut masyarakat dikumpulkan oleh aparat di lapangan depan kantor Koramil, dipimpin oleh Danramil. Dalam pertemuan itu, Haris Azhar menyebut masyarakat diberi waktu dua hari untuk mengembalikan senjata yang dirampas pada 17 September dan jika tidak dikembalikan dalam dua hari tersebut, akan dilakukan operasi penumpasan ke warga.

Selain itu, sebut Haris Azhar, diperintahkan kepada dua orang pemuda untuk mencari Melianus Wandagau, kepala suku Moni di Sugapa Lama--lokasi perampasan senjata pada 17 September. Masih pada hari yang sama, lanjut dia, sekitar pukul 12, masyarakat kembali dikumpulkan di depan Gereja Imanuel 1 oleh anggota TNI Koramil Alpius. Haris lalu menyebut beberapa nama masyarakat Hitadipa yang menjadi musuh, salah satunya nama pendeta Yeremia.

"Alpius juga mengatakan bahwa 'orang-orang atau masyarakat Hitadipa yang menjadi musuh, lawan dan perang dengan saya (TNI/Polri) adalah, antara lain, Jimi Sani, Pdt Yeremia Zanambani, Pdt Yakobus Maiseni, Ibu Ev. Naomi Kobogau/Maiseni, Roni Majau dan Amoli Wandagau. Akibat pernyataan ini semua ibu-ibu dan bapak-bapak, termasuk pendeta dan gembala menangis di depan Alpius," kata Haris.

Lalu sekitar pukul 13.00, kata Haris, terjadi penembakan dari arah utara oleh OPM ke arah Markas Koramil Persiapan Hitadipa tepatnya Gedung SD YPPGI yang mengakibatkan satu personel BKO Aptekel Koramil Persiapan Hitadipa tewas di pos tersebut. Beberapa menit kemudian, hingga 13.55, Haris Azhar menyebut TNI melalukan tembakan balasan ke bagian utara kampung Hitadipa daerah Muara Sungai Hiyabu dan Sungai Dogabu selama kurang-lebih 30 menit.

Selanjutnya pada pukul 14.55, Haris Azhar menyebut ibu almarhum Meriam Zoani/Zanambani yang akrab disapa Mama, bertemu dengan rombongan anggota TNI, di ujung lapangan terbang Hitadipa. Pasukan TNI disebut berjumlah cukup banyak, barisannya sepanjang 50-60 meter, dipimpin oleh Alpius.

Dalam kronologi yang masih berdasarkan keterangan Haris, Mama disebut terkejut dan takut melihat rombongan tersebut. Mama baru agak sedikit lega ketika melihat Alpius, pimpinan pasukan di lokasi Hitadipa, bahkan keduanya sempat saling tatap mata.

"Mama dan Pendeta sudah anggap Alpius seperti anak sendiri karena Alpius kerap beberapa kali ke rumah mereka untuk mandi, minta makan, atau makan bersama, ambil air untuk kebun yang dikelola Alpius," ucap Haris.

"Alpius sendiri biasa panggil 'Mama'. Mama dan Pendeta juga tahu bahwa Alpius sering main dan kenal baik dengan warga," kata Haris.

Pada saat pertemuan tersebut, Alpius bertanya ke Mama dan ini percakapan mereka berdasarkan keterangan Haris Azhar:
"Apa Mama lihat orang?" Mama jawab, "tidak".

"Apa Mama lihat orang di jalan?" dijawab, "tidak". Dan menjawab lebih jauh, bahwa "dia seharian hanya bersama pendeta, yang saat ini masih ada di kandang babi". Kemudian pertanyaan ketiga diberikan Alpius, "Jadi bapak ada di kandang babi?" dijawab oleh Mama, "ya".

"Anggota TNI dengan atribut lengkap lewat jembatan induk Sungai Hiyabu, sampai di Kampung Taundugu ada yang jaga di jalan, sementara ada anggota TNI lain turun ke Kampung Taunduga langsung bakar bangunan kesehatan dan rumah dinas tenaga kesehatan yang digunakan masyarakat di Taundugu. Alasan anggota TNI bakar fasilitas kesehatan dan rumah masyarakat ini adalah OPM berada di balik bangunan dan rumah masyarakat, makanya menewaskan satu anggota TNI pada tanggal 19 September 2020 dan meninggal dunia," sebut dia.

"Akibatnya, kerugian milik warga berupa kehilangan tempat tinggal, ijazah SD dan SMP anak-anak ikut terbakar, perlengkapan rumah tangga, satu unit motor ikut terbakar, dan bangunan rumah fasilitas kesehatan milik pemerintah daerah dibakar," imbuhnya.

Tim Independen Kemanusiaan Intan Jaya melanjutkan, pada pukul 15.30 WIT, 4 anggota TNI, menuju kandang babi milik pendeta. Dua anggota TNI disebut berdiri dengan jarak 23,79 meter dari Jalan Induk Kabupaten Intan Jaya, sedangkan 2 anggota lainnya, salah satunya, Alpius, langsung menuju bangunan kandang babi.

"Langsung ada perintah 'angkat tangan!' dan dijawab sambil angkat tangan oleh Pendeta, mengatakan bahwa saya adalah 'Hamba Tuhan'," ucap Haris.

Namun dua anggota TNI disebut tetap melakukan 2 tembakan, satu tembakan ke tangan kiri dan tembakan lainnya ke arah dinding. Pendeta jatuh lalu diduga ditusuk dengan pisau tajam pada bagian belakang badan.

"Bahwa sekitar pukul 18 sore, cuaca sudah mulai gelap, pendeta belum kembali. Mama memberanikan diri ke kandang babi untuk menjemput Pendeta. Saat tiba di kandang babi, Mama dapati pendeta sudah tersungkur jatuh di atas tanah dalam keadaan fisik tergeletak di atas tanah, tengkurap (tubuh bagian depan menghadap ke tanah), berlumur darah. Akan tetapi pendeta masih bisa berkomunikasi lisan," jelas dia.

"Mama bertanya ke 'kenapa?' (apa yang terjadi?). Pendeta menjawab, 'orang yang kita kasih makan yang tembak dan tikam'," ungkap Haris. (detikcom/a)
Penulis
: Redaksi
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com