Pengacara Bharada E Mengaku dapat Ancaman Minta Perlindungan Jokowi


451 view
Pengacara Bharada E Mengaku dapat Ancaman Minta Perlindungan Jokowi
(CNN Indonesia/Yulia Adiningsih)
Dua pengacara Bharada E mengaku mendapat ancaman dari orang tak dikenal selama mendampingi kliennya di kasus kematian Brigadir J 

Jakarta (SIB)

Pengacara Bharada Richard Eliezer alias Bharada E, Deolipa Yumara, mengaku mendapatkan ancaman. Deolipa meminta perlindungan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Kita juga waktu ke Bareskrim juga diancam-ancam. Perkara besar sama aja ada yang ancam. Orang kan ada yang suka ada yang nggak suka. Ada kenal ada nggak kenal. Ada cinta ada benci. Kalau kami kan tetap mencintai semuanya," kata Deolipa kepada wartawan, Selasa (9/8).

Deolipa mengaku tahu pihak yang mengancamnya. Deolipa enggan membeberkan soal siapa pengancamnya. Namun dia mengungkapkan permintaan perlindungan kepada Jokowi.

"Saya tahu dong tahu (identitas pemberi ancaman), makanya kita perlindungan ke Pak Jokowi kalau ada apa-apa," ujarnya.

Deolipa menyebutkan, ancaman yang diterimanya belum dinilai parah. Menurutnya, sebagai pengacara, dia kerap mendapatkan ancaman saat menangani perkara besar.

"Tidak (parah ancamannya), biasa aja. Biasa kok, santai-santai. Biasa kita ngehadapin yang begitu-begitu," tambahnya.

Tak Tahu Adanya Pelecehan

Istri Irjen Ferdy Sambo, berinisial PC, disebut dilecehkan oleh Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J. Namun Bharada Richard Eliezer atau Bharada E konsisten dengan keterangan tak tahu adanya pelecehan itu.

"Betul, dia (Bharada E tidak tahu. Tidak tahu (ada pelecehan)," kata pengacara Bharada E, Deolipa Yumara.

Hal ini juga diungkapkan oleh Komnas HAM yang ragu akan adanya dugaan pelecehan seksual terhadap istri Sambo.

Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik mengatakan saksi dalam peristiwa baku tembak ini tidak melihat adanya pelecehan.

"Sebagai penyelidik, kami bertanya-tanya ada apa ini, begitu. Tentu saja kami tidak mau menuduh sembarangan, tapi kami menduga, ada yang tidak logis begitu," kata Taufan dalam diskusi secara daring, Jumat (5/8).

"Jadi saksi yang menyaksikan penodongan itu tidak ada, makanya kami juga belum bisa meyakini apakah terjadi pelecehan seksual atau tidak," sambung dia.

Tulis Surat Berduka

Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E mengungkapkan segala kegelisahannya terkait kematian Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat alias Brigadir J lewat surat tulisan tangan.

Salah satu surat itu berisi ucapan dukacita untuk keluarga Brigadir J.

Dilansir detikX, Selasa (9/8), kegelisahan Bharada E memuncak pada Sabtu (6/8), sekitar pukul 10 malam di Rumah Tahanan Bareskrim, Mabes Polri, Jakarta Selatan.

Kala itu, rentetan pemeriksaan dijalaninya dengan status tersangka atas kasus pembunuhan Nofriansyah Yoshua Hutabarat alias Brigadir Yoshua.

Dua kuasa hukumnya, Deolipa Yumara dan Muhammad Boerhanuddin, hanya bisa mengajaknya berdoa dan memasrahkan diri kepada Tuhan.

Menurut Deolipa, kondisi Eliezer saat itu membuatnya tak bisa lagi memendam informasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Jumat, 8 Juli 2022, ketika rekannya, Yoshua, meninggal dunia di rumah dinas bosnya, Inspektur Jenderal Ferdy Sambo. Eliezer lantas menuliskan segala kegelisahannya di dalam surat tertulis setelah berdoa bersama.

"Dia berada di bawah tekanan, kemudian dia membuat surat itu," kata Deolipa kepada detikX, Minggu (7/8).

Beredar kabar, dalam surat itu, Eliezer menulis bahwa dirinya sedang berada di lantai dua ketika peristiwa pembunuhan Yoshua.

Awalnya, dia mengetahui ada yang tidak biasa di lantai satu. Eliezer kemudian menuju tangga dan, dari tangga, dia melihat Yoshua sudah terkapar bersimbah darah.

Dia juga melihat bosnya, Ferdy Sambo, sedang berdiri sambil memegang pistol di dekat Yoshua.

Deolipa tidak membantah kabar itu. Namun ia enggan menjelaskan lebih lanjut mengenai isi surat kliennya. "Ya, begitu," katanya. "Itu wilayah penyidikan. Sudah menjadi alat bukti."

Yang jelas, menjelang tengah malam setelah menulis surat tersebut, Eliezer kembali menjalani pemeriksaan.

Kepada penyidik, ia memberikan surat tersebut sekaligus mengganti seluruh kesaksian sebelumnya yang tertulis dalam berita acara pemeriksaan (BAP).

Penyidik memberikan sekitar 60 pertanyaan kepada Eliezer pada pemeriksaan itu. Kepada penyidik, Eliezer memang tetap mengaku dirinya menembak Yoshua, tetapi ia bukan pelaku tunggal.

Selain surat pengakuan itu, Bharada E menulis surat untuk keluarga Brigadir J. Dia mengucapkan dukacita di surat itu.

"Saya Bharada E mengucapkan turut berbelasungkawa atas kejadian ini. Buat Bapak, Ibu, dan Reza (keluarga Brigadir J), sekali lagi saya mengucapkan turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya. Tuhan Yesus selalu menguatkan Bapak, Ibu, Reza serta keluarga Bang Yos," tulis Bharada E. Surat itu diberi tanda tangan.

USUT TUNTAS

Terpisah, Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali berbicara mengenai insiden tewasnya Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J. Jokowi meminta Polri mengungkap kebenaran yang ada.

"Jangan ada yang ditutupi, ungkap kebenaran apa adanya, ungkap kebenaran apa adanya," kata Jokowi dalam video di akun YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (9/8).

Jokowi mengingatkan Polri menjaga citra. Jokowi tidak ingin kepercayaan masyarakat menurun terhadap Polri.

"Sehingga jangan sampai menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri, itu yang paling penting. Citra Polri apa pun tetap harus kita jaga," tegas Jokowi.

Jokowi mengatakan sejak awal dia konsisten meminta kasus ini diusut tuntas. Jokowi juga meminta Polri tidak ragu.

"Sejak awal saya sampaikan, sejak awal saya sampaikan, usut tuntas. Jangan ragu-ragu," ucap Jokowi.(detikcom/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com