Penunggak Iuran BPJS di Desa dari Kalangan Menengah ke Atas


247 view
Penunggak Iuran BPJS di Desa dari Kalangan Menengah ke Atas
Foto: Audia Natasha Putri
Ilustrasi.

"Bahkan pernah suatu kali, saya menemui seorang warga yang sudah cukup sepuh (tua-red). Meski telah menggunakan atribut Kader JKN, warga tersebut salah paham, dikira saya minta-minta uang dan salah mengira saya sebagai penagih utang. Warga itu sampai mengancam saya," papar Sri.

Dari pengalamannya tersebut, Sri menjadi tersadar akan pentingnya memiliki JKN. Terlebih sebelum suaminya meninggal dunia awal Januari 2021, Sri juga mengandalkan kartu JKN untuk pengobatan sang suami. "Suami sakit diabetes dan berulang kali dirawat.

Sampai menjalani operasi besar dan semua itu saya tidak mengeluarkan biaya sepeserpun. Semua ditanggung JKN. Sayangnya, setelah suami meninggal, saya tidak tahu jika Kartu JKN yang saat itu terdaftar di kelas dua otomatis dihentikan," katanya.

Sri menyampaikan semasa hidup, suaminya berprofesi sebagai perangkat desa sehingga otomatis iuran JKN dipotong dari gaji. Saat itu, ia merasa berat jika harus membayar untuk kelas dua, akhirnya Sri pun mengurus untuk turun ke kelas tiga.

Meski sebelumnya status kepesertaan JKN miliknya sempat dinyatakan tidak aktif, setelah bolak-balik untuk mengaktifkan JKN kelas tiga, Sri terdaftar sebagai Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK). "Alhamdulillah, akhirnya saya mengajukan PBI JK. Harapan saya badan sehat terus jadi tidak perlu berobat. Tapi sungguh, tidak punya jaminan kesehatan itu tidak enak," pungkasnya. (detikcom/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com