Perintahkan Mobilisasi Militer, Putin Ingatkan Penggunaan Senjata Nuklir Bukan Gertakan

* AS: Tanda-tanda Kelemahan Putin, Inggris: Ini Mengerikan

222 view
Perintahkan Mobilisasi Militer, Putin Ingatkan Penggunaan Senjata Nuklir Bukan Gertakan
Foto: Sputnik/Gavriil Grigorov/Pool via REUTERS/File Photo
Presiden Rusia Vladimir Putin.

Moskow (SIB)


Presiden Rusia Vadimir Putin memerintahkan mobilisasi militer parsial dan bersumpah akan menggunakan "semua cara yang tersedia" untuk melindungi wilayah Rusia. Putin bahkan mengingatkan bahwa soal penggunaan senjata nuklir bukan hanya gertakan.

"Ketika integritas teritorial negara kami terancam, kami pasti akan menggunakan semua cara yang kami miliki untuk melindungi Rusia dan rakyat kami. Ini bukan gertakan," tegas Putin dalam pidatonya yang disiarkan televisi Rusia, seperti dilansir dari kantor berita AFP, Rabu (21/9). "Mereka yang mencoba memeras kami dengan senjata nuklir harus tahu bahwa angin juga bisa berbelok ke arah mereka," cetus Putin.

Putin mengatakan bahwa melalui dukungannya untuk Ukraina, negara-negara Barat berusaha untuk "melemahkan, memecah-belah, dan akhirnya menghancurkan negara kami."

Dalam pidatonya, Putin mengatakan mobilisasi parsial dari 2 juta pasukan cadangan militernya adalah untuk mempertahankan Rusia dan wilayahnya. Putin mengklaim Barat ingin menghancurkan Rusia dan tidak menginginkan perdamaian di Ukraina. "Untuk melindungi tanah air, kedaulatannya, saya menganggap perlu untuk mendukung keputusan Staf Jenderal tentang mobilisasi parsial," katanya.

Putin menyatakan tujuannya adalah untuk "membebaskan" kawasan jantung industri Donbas di Ukraina timur. "Kita berbicara tentang mobilisasi parsial, yaitu, hanya warga negara yang saat ini masuk dalam tentara cadangan yang akan dikenakan wajib militer, dan di atas semua itu, mereka yang bertugas di angkatan bersenjata memiliki spesialisasi militer tertentu dan pengalaman yang relevan," ujar Putin. Putin mengatakan dia telah menandatangani dekrit tentang mobilisasi parsial tersebut.

Usai pidato Putin tersebut, Menteri Pertahanan (Menhan) Rusia Sergei Shoigu mengumumkan pengerahan 300.000 tentara cadangan untuk membantu operasi militer di Ukraina. Hal itu disampaikan Shoigu usai Presiden Vladimir Putin merilis dekrit yang mengatur mobilisasi militer parsial terkait konflik di Ukraina. "Tiga ratus ribu tentara cadangan akan dipanggil," ucap Shoigu dalam wawancara dengan televisi pemerintah Rusia, seperti dilansir AFP, Rabu (21/9).

Shoigu menambahkan bahwa itu hanya sebagian kecil dari pasukan militer Rusia yang tersedia yang akan dipanggil. Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Rusia, seperti dilansir Reuters, Shoigu menyatakan para mahasiswa dan orang-orang yang sudah pernah mengikuti wajib militer (wamil) tidak akan dipanggil untuk direkrut dalam operasi militer di Ukraina.

Tanda-tanda Kelemahan

Ukraina dan Amerika Serikat mengomentari perintah terbaru Presiden Rusia Vladimir Putin soal mobilisasi militer untuk menambah pasukan dalam operasi militer yang terus berlanjut di wilayah Ukraina. Penasihat kepresidenan Ukraina, Mykhailo Podolyak, menyebut langkah Putin itu telah diprediksi.

Seperti dilansir Reuters, Rabu (21/9), Podolyak juga menilai mobilisasi militer semacam itu menggarisbawahi bahwa perang di Ukraina tidak berjalan sesuai dengan rencana Moskow.

Dalam pesan singkat kepada Reuters, Podolyak menyebut Putin berupaya mengalihkan kesalahan, karena telah memicu 'perang yang tidak beralasan' dan atas memburuknya situasi ekonomi di Rusia, kepada pihak Barat. "Seruan yang benar-benar bisa diprediksi, yang lebih tampak seperti upaya membenarkan kegagalan mereka sendiri," sebut Podolyak dalam komentarnya.

"Perang jelas tidak berjalan sesuai dengan skenario Rusia dan oleh karena itu, mengharuskan Putin mengambil keputusan yang sangat tidak populer untuk memerintahkan mobilisasi dan sangat membatasi hak-hak rakyat," ujarnya. Pernyataan Podolyak itu menjadi respons pertama dari kantor kepresidenan Ukraina. Belum ada tanggapan langsung dari Presiden Volodymyr Zelensky.

Di saat yang sama, Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Ukraina, Bridget Brink, dalam tanggapannya menyebut perintah mobilisasi militer Putin itu sebagai tanda-tanda 'kelemahan'. Dia juga mengomentari rencana digelarnya referendum di empat wilayah Ukraina yang dikuasai Moskow untuk bergabung dengan Rusia. "Referendum palsu dan mobilisasi adalah tanda-tanda kelemahan, kegagalan Rusia," tulis Brink dalam tanggapannya via Twitter, seperti dilansir AFP.

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com