Perkebunan Sawit Ancaman Bagi Orangutan di Tapsel


286 view
Perkebunan Sawit Ancaman Bagi Orangutan di Tapsel

Medan (SIB) -Keberadaan perkebunan sawit menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan Orangutan Tapanuli di Tapanuli Selatan (Tapsel). Perubahan tutupan lahan (land cover change) hutan menjadi tanaman sawit menyebabkan hilangnya sumber pakan dan berkurangnya luas jelajah satwa langka ini.

Ketua Forum Konservasi Orangutan Sumatera (Fokus) Kusnadi menyatakan, perluasan perkebunan sawit harus dibatasi. Pemerintah daerah diminta tidak lagi mengeluarkan izin baru. "Jadi kelestarian hutan tetap terjaga untuk menjaga kelangsungan kehidupan Orangutan Tapanuli," kata Kusnadi kepada wartawan di Medan, Jumat (23/11).

Disebutkan Kusnadi, perubahan tutupan lahan hutan menjadi sawit secara otomatis mengganggu habitat orangutan. Perubahan itu menyebabkan hilangnya sumber pakan, sebab hutan berubah menjadi sawit.

Luas jelajah Orangutan juga akan berkurang drastis, kata dia, karena luasan hutan yang dibuka mencapai ribuan hektare. Misalnya areal HGU PT Perkebunan Nusantara III Distrik Tapanuli Selatan yang mencapai 5.100 hektare lebih. Yakni Kebun Batang Toru sekitar 2.200 hektare lebih dan kebun Hapeson sekitar 2.900 hektare. Aktivitas land clearing kebun itu dimulai sekitar tahun 2010. Selain itu ada koorporasi- koorporasi lain, dan juga perkebunan rakyat dalam skala kecil.

Perubahan tutupan kawasan hutan, sambungnya, baik itu menjadi perkebunan ataupun industri lain sangat berpengaruh terhadap keberadaan Orangutan. Jika low land, dataran rendahnya berubah menjadi perkebunan, maka pohon-pohon yang selama menyediakan kebutuhan makanan Orangutan akan hilang, hal ini memaksa mereka berpindah ke areal lain.

"Makanya ada Orangutan yang hidup di kebun masyarakat. Di beberapa wilayah yang memang katakanlah ketersediaan pakannya banyak, Orangutan pasti akan menjelajahi wilayah tersebut," katanya.

Topografi di wilayah sekitar Batangtoru, kata Kusnadi, sangat terjal. Semakin tinggi, semakin sedikit pakan yang tersedia. Justru di dataran rendah inilah ketersedian pakan sangat bervariasi dan banyak. Maka itu, jika terjadi perubahan tutupan hutan akibat pembukaan lahan untuk perkebunan ataupun pertambangan akan mengganggu ketersediaan pakan Orangutan dan satwa-satwa lainnya.

"Untuk beberapa jenis satwa yang dilindungi, hal ini pasti sangat dirugikan sekali. Akhirnya negara juga dirugikan karena mengancam spesies endemik, seperti Orangutan Tapanuli yang hanya ada di Tapanuli," katanya.

Menurut dia, masyarakat Batangtoru sendiri dinilai sudah memiliki kearifan lingkungan yang baik. Jarang terdengar terjadi konflik Orangutan dengan warga. Selain itu, mereka juga menjaga hutannya dari perambahan, terutama di kawasan-kawasan dengan tingkat kemiringan tinggi. Kalau pun ada perambahan, kata Kusnadi, pelakunya biasanya  pendatang.(A11/c)

Penulis
: Admin
Editor
: Admin
Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com