Polisi: Massa Turunkan Merah Putih, Kibarkan Bendera Hitam di Poso


502 view
Jakarta (SIB)- Sejumlah orang dari peserta aksi bela bendera tauhid di Kabupaten Poso sempat mengibarkan bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid. Mereka sempat menurunkan bendera Merah Putih yang sedang berkibar di halaman DPRD Kabupaten Poso.

Peristiwa ini lalu diketahui anggota keamanan dan langsung melapor ke Kapolres Poso AKBP Bogiek Sugiyarto. Mengetahui hal itu, Bogiek langsung menegur massa untuk mengibarkan kembali bendera merah putih seperti semula.

"Kapolres Poso langsung memperingatkan tokoh warga yang ikut orasi bahwa penurunan bendera Merah Putih dan diganti dengan bendera kain hitam yang bertuliskan lailahaillallah," kata Karo Penmas Polri Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo lewat keterangan tertulisnya, Sabtu (27/10).

"Berselang sesaat kemudian bendera kain hitam yang bertuliskan lailahaillallah langsung diturunkan oleh peserta aksi dan kemudian dinaikkan kembali bendera Merah Putih," sambungnya.

Dedi mengatakan pengibaran bendera juga terjadi di Lapangan Sintuwu Maroso. Hanya saja di lokasi tersebut tak ada bendera merah putih yang diturunkan massa untuk diganti dengan bendera hitam.

"Begitu juga di tiang bendera Lapangan Sintuwu Maroso. Namun tiang bendera di Lapangan Sintuwu Maroso tidak ada bendera merah putih yang sedang berkibar," tutur Dedi.

Kemendagri menyatakan ada larangan mengibarkan bendera dari suatu organisasi terlarang. Larangan ini bukan hanya berlaku di kantor instansi pemerintah, tapi juga di ruang publik.

"Jadi bendera-bendera yang tak boleh di instansi negara itu termasuk ruang publik adalah bendera yang organisasi terlarang, seperti PKI, HTI, GAM, OPM. Semua adalah bendera yang dilarang UU. Itu tugas polisi untuk menegakkan," ujar Dirjen Otonomi Daerah (Otda) Sumarsono saat dihubungi, Sabtu (27/10). 

Diusut
Sementara itu Kabareskrim Komjen Arief Sulistyanto meminta jajaran Polda Sulawesi Tengah menyelidiki peristiwa pengibaran bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid di halaman DPRD Kabupaten Poso. Dia tak ingin peristiwa serupa terulang.

"Agar dibuatkan LP (laporan polisi) model A, segera proses. Ini harus dilakukan agar tidak ditiru," kata Arief lewat keterangan tertulis yang diterima, Sabtu (27/10).

Sebelum mengibarkan bendera hitam, massa menurunkan bendera Merah Putih. Arief mengatakan perbuatan tersebut dapat dikenakan pasal 24 juncto pasal 65 juncto pasal 66 UU No. 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Pelaku terancam hukuman 5 tahun penjara.
"Identifikasi orang-orang yang menaikkan bendera dan penanggung jawab kegiatan. Ini jelas-jelas melanggar UU No. 24 Tahun 2009 pasal 24 juncto pasal 65 juncto pasal 66," tegasnya.

Arief menilai menurunkan merah putih kemudian menggantinya dengan bendera hitam tersebut merupakan penghinaan terhadap simbol negara. Perbuatan ini juga menodai perjuangan para pahlawan yang memerdekakan Indonesia.

Arief ingin peristiwa ini ditindaklanjuti secara serius karena menyangkut kewibawaan negara.

"Ini perbuatan penghinaan pada bendera kebangsaan. Para pahlawan yang berkorban dengan darah dan nyawa diabaikan," tuturnya.

"Jangan dianggap remeh kejadian seperti ini apalagi sudah viral di medsos. Akan bisa diikuti oleh orang lain di tempat lain. Ini menyangkut kewibawaan negara," sambung Arief.

Dikonfirmasi terpisah, Kapolda Sulteng Brigjen Ermi Widyatno mengatakan pihaknya tengah melakukan penyelidikan terkait peristiwa tersebut.
"Kami sedang melakukan penyelidikan," ujar Ermi lewat pesan singkat. (detikcom/l)
Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com