Polisi Ungkap Teroris Sulsel Punya Banyak Peledak, untuk Pasutri Bomber 2 Kg


122 view
Hermawan/detikcom
Kabid Humas Polda Sulsel Kombes E Zulpan
Makassar (SIB)
Polisi mengungkap pasangan suami-istri (pasutri) berinisial L dan YSF, pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar bersama jaringan teroris di Sulsel memiliki banyak bahan peledak untuk merakit bom. Bahan peledak itu kemudian diberikan sebanyak 2 kilogram untuk bom panci yang diledakkan L dan YSF.

"Sebenarnya bom itu banyak, yang baru dia pakai sedikit," kata Kabid Humas Polda Sulsel Kombes E Zulpan saat berbincang di kantornya di Makassar, Selasa (13/4).

Kombes Zulpan awalnya menegaskan bahwa jenis bom yang dipakai L dan YSF adalah bom panci, bukan bom ikan. Dia lantas menyebut bom panci atau peledak yang disita cukup banyak karena yang dipakai oleh pelaku baru sekitar 2 kilogram dari jumlah barang bukti yang ada.

"Sudah kita sampaikan itu, nggak ada itu bom ikan. Malah kita ada sisa BB-nya (barang bukti bom panci), yang dipakai cuma 2 kilogram," imbuh Zulpan.

Dia juga mengatakan barang bukti bom dan barang bukti lain saat ini masih diamankan Densus 88 Antiteror Polri. Tim Densus 88 hingga saat ini memang masih terus menyelidiki jaringan pelaku yang tersisa.

"BB-nya dia (Densus 88) masih belum diserahkan ke kita, masih disimpan dulu kan," katanya.

Zulpan juga kembali enggan menjelaskan lebih lanjut mengenai rincian barang bukti bom atau bahan peledak yang disita. Dia menyebut tim Densus 88 masih terus bertugas di lapangan.

"Nantilah saat rilis nanti, kita akan gelar, apa BB-nya kita belum bisa beberkan secara detil. Yang jelas BB-nya ada," katanya.

Hingga saat ini sudah ada 29 terduga teroris yang ditangkap karena memiliki peran masing-masing dalam membantu aksi L dan YSf, dari merakitkan bom hingga memberi motivasi.

"Perannya memberikan motivasi, kemudian membantu survei lokasi kemudian, ada juga membantu merakit bom. Jadi semuanya punya peran," kata Zulpan.

Namun Kombes Zulpan belum merincikan lebih lanjut sosok dari 29 orang tersebut dan peran dari masing-masing mereka. Ke-29 orang yang masih ditahan di Polda Sulsel itu terdiri atas 26 laki-laki dan 3 perempuan.

"Mereka ini sebagai suporter lah, mereka orang yang mengetahui akan tindakan 2 orang (bomber) ini. Kemudian mereka juga tidak melakukan pencegahan, bahkan melakukan motivasi, 'udah kamu semangat, kamu nanti masuk surga'," katanya.

Diburu Densus 88
Sementara itu, Polri kembali menyebarkan informasi terkait terduga teroris yang masuk daftar pencarian orang (DPO) Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror. Kedua DPO teroris itu adalah Saiful Basri (41) dan Sanny Nugraha (36).

Informasi DPO teroris atas nama Sanny Nugraha dan Saiful Basri ini dibenarkan oleh Kadiv Humas Polri Irjen Raden Prabowo Argo Yuwono.

"Benar," ucap Argo.

Adapun keterlibatan Sanny Nugraha dan Saiful Basri ini di antaranya merencanakan pembuatan bom untuk melakukan serangan kepada polisi. Keduanya juga disebutkan mengetahui pembuatan bom serta mengikuti pelatihan percobaan pembuatan bom di Ciampea, Kabupaten Bogor.

Sebelumnya, Divisi Humas Polri juga menyampaikan informasi adanya 3 terduga teroris yang diburu Densus 88 Antiteror. Salah satunya Nouval Farisi ditangkap setelah keluarga memberikan informasi keberadaannya ke Polsek Setiabudi.

"Diamankan Saudara NF hasil dari informasi orang tuanya sendiri kepada Polsek Setiabudi," ujar Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan di Mabes Polri, Jumat (9/4).

Sementara itu, dua nama lainnya, yakni Arief Rahman Hakim dan Yusuf Iskandar alias Jerry, masih diburu Densus 88 Antiteror. Ketiganya disebut terlibat perencanaan dan membuat bom untuk melakukan penyerangan terhadap anggota TNI-Polri.

Selain itu, ketiga terduga teroris tersebut diketahui sudah merencanakan pengeboman di SPBU dan industri milik warga keturunan Tionghoa. Ketiganya disebutkan masuk kelompok Husein Hasni, eks anggota Front Pembela Islam (FPI) yang ditangkap Densus 88 di Condet, Jakarta Timur (Jaktim), beberapa waktu lalu.

"(Merencanakan pengeboman di) industri milik warga keturunan Tionghoa, SPBU, serta area publik yang dilakukan oleh kelompok Husein Hasni," tulis akun resmi Divisi Humas Polri itu. (detikcom/f)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com