Polri: Senjata Api Diduga Milik Laskar FPI Bukan Pabrikan

* BIN Bantah Tiga Anggotanya Ditangkap FPI

310 view
Polri: Senjata Api Diduga Milik Laskar FPI Bukan Pabrikan
Liputan6.com/Faizal Fanani
Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran (kanan) bersama Pangdam Jaya Mayjen Dudung Abdurachman menunjukkan barang bukti penyerangan petugas di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (7/12/2020). Enam dari 10 pengikut Rizieq Shihab tewas ditembak polisi di Tol Jakarta-Cikampek.
Jakarta (SIB)
Mabes Polri masih menyelidiki kasus enam anggota laskar FPI yang tewas di Tol Jakarta-Cikampek (Japek) Km 50. Polisi menyebut senjata api (senpi) yang diduga digunakan laskar FPI itu saat kontak tembak di Tol Japek adalah senjata nonpabrikan.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian mengatakan pihaknya telah selesai melakukan uji balistik kedua senpi itu. Asal-usul senjata api diduga milik laskar FPI itu, kata Andi, tidak jelas.

"Penyidik lebih fokus pada fakta penggunaannya. Kalau asal-usulnya tidak jelas, karena hasil pemeriksaan ahli balistik menyatakan dua pucuk senpi yang telah digunakan laskar FPI adalah senjata nonpabrikan," kata Andi Rian saat dihubungi, Minggu (20/12).

Sebelumnya, Bareskrim Polri sudah menerima hasil otopsi jenazah enam anggota laskar FPI pengikut Habib Rizieq Shihab (HRS) yang tewas. Dari hasil otopsi yang diterima penyidik, ada 18 bekas luka tembakan pada seluruh jenazah.

"Secara umum ada 18 (delapan belas) luka tembak," kata Brigjen Andi Rian Djajadi saat dimintai konfirmasi, Jumat (18/12).

Andi menuturkan hasil otopsi jenazah enam anggota laskar FPI sudah diterima tim penyidik pada minggu lalu. Andi mengatakan, dari hasil otopsi yang diterima, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan lain pada jenazah.

"Sudah sejak minggu lalu (hasil otopsi). Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan lain pada tubuh seluruh jenazah," tuturnya.

Sementara itu, FPI mengklaim ada lebih dari 18 luka tembak di jasad enam anggota laskar FPI.

"Dari jenazah yang kita lihat lebih dari 18 tembakan," ujar jubir FPI Slamet Ma'arif.

BIN Bantah
Sementara itu, kabar yang menyebut tiga anggota Badan Intelijen Negara (BIN) tertangkap oleh FPI di Megamendung, Bogor, Jawa Barat beredar. Hal itu kemudian dibantah oleh juru bicara BIN, Wawan Hari Purwanto yang menyebut bahwa kabar tersebut adalah tidak benar.

"Belakangan ini beredar berita tiga anggota BIN tertangkap FPI. Itu semua adalah hoax," kata Wawan kepada wartawan, Minggu.
Wawan memastikan tidak ada nama anggota BIN yang tertangkap oleh FPI. Menurutnya, mereka semua yang disebutkan oleh FPI bukan anggota BIN.

"Sebagaimana dilansir tertangkap oleh FPI, mereka semua yang disebutkan oleh FPI jelas-jelas bukan anggota BIN, alias anggota BIN gadungan," ujar Wawan.

Kemudian Wawan juga menyebut bahwa tidak ada operasi BIN bernama 'Operasi Delima'. Wawan memastikan bahwa kartu anggota yang dipakai untuk mengaku anggota BIN itu palsu.

"Bukan seperti yang dimiliki BIN asli. Banyak orang mengaku anggota BIN di berbagai wilayah di Indonesia. Banyak juga yang dijatuhi hukuman di pengadilan," katanya.

"Apalagi membawa kartu identitas, hal ini tidak mungkin dilakukan dalam operasi intelijen. Apalagi disebut ada Deputi 22, tidak ada Deputi 22 itu di BIN," sambungnya.

Lebih jauh, Wawan menjelaskan bahwa di BIN tidak ada surat perintah (Sprint) tertulis operasi apapun. Sehingga, kata dia, jika ada surat perintah berisi nama dan sandi operasi secara tertulis, apapun itu namanya, semua tidak benar.

"Sebab di BIN tidak lazim ada tugas operasi di-sprint-kan. Jika ada orang yang mengaku-ngaku dari BIN silakan dilaporkan kepada yang berwajib. Biar jelas dan tuntas secara hukum dan tidak digoreng dipanggung opini publik," pungkasnya.

Sebelumnya beredar rekaman video eksklusif yang didapat salah satu media mengenai tiga oknum diduga anggota BIN yang tertangkap oleh FPI. Dalam video itu disebutkan bahwa anggota BIN tertangkap di kawasan Megamendung, yang terjadi tiga hari sebelum peristiwa penembakan 6 laskar FPI di Tol Cikampek.

Diduga anggota BIN juga disebutkan menyamar sebagai jurnalis dan setelah diperiksa mereka kedapatan membawa kartu tanda anggota (KTA) yang membuktikan keanggotaannya di BIN yang sedang menjalankan operasi Delima. (detikcom/pikiran rakyat/f)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com