Terkait Dipulangkannya Tim Bulutangkis RI di All England

Presiden BWF Minta Maaf ke Jokowi dan Rakyat Indonesia, Dubes Inggris Bantah Diskriminasi


163 view
(AFP/MOHD RASFAN)
Poul Erik Hoyer Larsen minta maaf atas insiden tim Indonesia di All England 2021. 
Jakarta (SIB)
BWF meminta maaf kepada Presiden Joko Widodo dan segenap rakyat Indonesia terhadap keputusan walkover yang harus diterima tim Merah Putih di All England 2021.

Permintaan maaf tertuang dalam keterangan resmi yang ditandatangani langsung Presiden BWF Poul Erik Hoyer Larsen per tanggal Minggu (21/3).

"Saya dengan tulus meminta maaf atas segala kesusahan dan frustrasi kepada para pemain dan tim Indonesia. Atas nama seluruh keluarga besar BWF, saya ingin berbagi perasaan ini dengan yang terhormat Presiden RI Bapak Joko Widodo, Menteri Olahraga, Menteri Luar Negeri, Duta Besar untuk Kerajaan Inggris, Pemerintah, Presiden dan pengurus PBSI, masyarakat Indonesia, dan khususnya komunitas dan basis suporter bulutangkis Indonesia yang lebih luas," tulis Poul Erik dalam surat.

BWF juga menyadari Indonesia merupakan salah satu raksasa dunia bulutangkis yang melahirkan bintang badminton kelas dunia. Di mana para pemain mereka adalah ikon nasional yang membawa harapan besar bagi negaranya di kancah internasional.

Poul Erik juga menceritakan hubungan yang hangat dengan tim Indonesia ketika masih memperkuat timnas Denmark. Ia juga hadir dan mengaku bangga melihat Indonesia sukses menggelar Asian Games 2018.

"Sebagai presiden BWF, saya ingin memberi tahu Anda bahwa kami telah mengambil insiden ini sebagai pelajaran serius dari situasi baru Covid-19, dan kami akan berusaha melakukan perbaikan."

"Ke depan kami percaya hubungan jangka panjang antara Indonesia dan BWF akan tetap harmonis dan semakin kuat di masa depan," ujar Poul Erik.

Rombongan tim Indonesia yang dipaksa mundur dari All England 2021.
Semula tim Indonesia dinyatakan harus menjalani isolasi di Birmingham hingga 23 Maret lantaran berada satu pesawat dengan orang yang terpapar virus corona dalam penerbangan dari Istanbul ke Inggris, yang juga menyebabkan atlet-atlet Indonesia dipaksa mundur dari All England 2021.

Namun kemudian manajer tim Indonesia, Ricky Soebagdja, memastikan seluruh rombongan bisa pulang dari tanggal yang semula ditentukan pemerintah setempat. Ricky mengatakan hal itu karena koordinasi yang baik antara PBSI dengan KBRI, Kemenlu dan Kemenpora.

Bantah Diskriminasi
Sementara itu, Duta Besar (Dubes) Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Owen Jenkins menyatakan tidak ada tindakan diskriminasi yang terjadi terkait dengan penarikan tim bulutangkis Indonesia dari turnamen All England. Jenkins pun menyatakan sangat sedih atas kejadian ini.

"Saya sangat sedih atas kejadian yang sangat disayangkan ini, yang telah menyebabkan tim bulutangkis Indonesia gagal mengikuti turnamen All England," kata Jenkins.

"Saya bisa merasakan kekecewaan para penggemar bulutangkis di Indonesia, namun terutama kekecewaan para atlet yang telah bekerja sangat keras untuk mencapai puncak prestasi mereka," imbuh Dubes Inggris tersebut dalam rilis pers yang disampaikan Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, Senin (22/3).

"Saya berharap kita semua dapat memahami bahwa tidak ada tindakan ataupun perlakuan diskriminasi yang terjadi. Semua orang yang berkunjung ke Inggris harus mengikuti aturan yang berlaku untuk melindungi kesehatan sesama pengunjung, dan masyarakat yang lebih luas di Inggris," kata Jenkins.

Menurut Jenkins, insiden ini adalah sebuah kecelakaan murni (bukan kesalahan siapa pun), di mana tim bulutangkis Indonesia - dan para penumpang lain, termasuk seorang pemain bulutangkis Turki - tiba di Inggris dengan pesawat yang membawa seseorang, yang kemudian dinyatakan positif Covid-19.

"Penerbangan ini adalah sebuah pesawat kecil dengan lorong tunggal. Dalam situasi seperti ini, tindakan yang normal dilakukan adalah, menyatakan seluruh penumpang yang ada di dalam penerbangan tersebut telah terpapar Covid-19. Ini berarti semua orang di pesawat itu harus melakukan isolasi mandiri untuk melindungi kesehatan masyarakat. Peraturan pemerintah Inggris tidak mengizinkan pengecualian apapun terkait persyaratan isolasi mandiri ini," papar Jenkins.

Lebih lanjut Jenkins dalam pernyataannya menyebutkan bahwa di Inggris, setiap orang diperlakukan sama, tanpa memandang siapapun Anda. Sebagai contoh, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson diminta untuk mengisolasi diri selama 10 hari pada bulan November tahun lalu, setelah bertemu dengan seseorang yang kemudian dinyatakan positif Covid-19.

"Dan beliau melakukan isolasi mandiri selama 10 hari. Setiap orang diharapkan untuk mengikuti aturan yang sama, karena kita semua berada dalam situasi ini bersama-sama," tutur Dubes Inggris tersebut.

Dikatakan bahwa beberapa laporan juga menyebutkan isu lain yang terjadi selama akhir pekan sebelumnya, yang mengharuskan sejumlah individu yang terlibat dalam turnamen untuk mengisolasi diri, sementara tes rutin Covid-19 diulang. Tes yang berulang semuanya menunjukkan hasil negatif dan atas saran dari penasihat perlindungan kesehatan, individu-individu tersebut dapat kembali melanjutkan keikutsertaannya di All England. Insiden ini tidak ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa tim Indonesia karena tidak ada indikasi bahwa salah satu dari pemain tersebut memiliki kontak dengan kasus positif Covid-19.

"Sangat disayangkan dan mengecewakan bahwa tim Indonesia tidak dapat mengikuti turnamen All England - terutama untuk seluruh kontingen Indonesia dan semua penggemar bulu tangkis," kata Jenkins.

"Para pemain telah berlatih sangat keras untuk bertanding, dan banyak orang telah bekerja sangat keras agar turnamen All-England berlangsung di lingkungan yang aman bagi semua atlet yang bertanding dan staf terkait lainnya," tandasnya. (CNNI/detikcom/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com