Presiden Dibunuh, Haiti Minta AS dan PBB Kirim Pasukan Bantu Jaga Keamanan

Dua Warganya Terlibat, AS Kirim FBI Bantu Penyelidikan

408 view
Presiden Dibunuh, Haiti Minta AS dan PBB Kirim Pasukan Bantu Jaga Keamanan
Foto: AP/Insider
DITANGKAP: Dua warga AS (tanda panah) merupakan bagian dari 17 pelaku pembunuhan presiden Haiti Jovenel Moise yang berhasil ditangkap dalam keadaan hidup, Jumat (9/7) waktu setempat.
Port-au-Prince (SIB)
Otoritas Haiti meminta bantuan pasukan keamanan Amerika Serikat (AS) dan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk membantu melindungi infrastruktur penting di wilayahnya, setelah Presiden Jovenel Moise dibunuh tentara bayaran.

Seperti dilansir Reuters dan AFP, Sabtu (10/7), pembunuhan Moise oleh sekelompok pria bersenjata pada Rabu (7/7) dini hari dikhawatirkan membawa Haiti semakin dalam kepada krisis politik yang bisa memperburuk situasi kelaparan, kekerasan geng kriminal dan wabah virus corona (Covid-19) yang sedang melanda negeri tersebut.

Menteri Urusan Pemilu, Mathias Pierre, menuturkan bahwa permintaan untuk bantuan keamanan AS telah dibahas dalam percakapan antara Perdana Menteri (PM) interim, Claude Joseph, dengan Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, pada Rabu (7/7) waktu setempat. Pierre menyatakan bahwa Haiti juga mengajukan permintaan yang sama kepada Dewan Keamanan PBB pada Kamis (8/7) waktu setempat.

"Kita berada dalam situasi di mana kita meyakini infrastruktur negara ini -- pelabuhan, bandara dan infrastruktur energi -- mungkin menjadi target," ucap Pierre. "Kami berpikir bahwa tentara bayaran bisa menghancurkan sejumlah infrastruktur untuk memicu kekacauan di negara ini. Dalam percakapan dengan Menteri Luar Negeri AS dan PBB, kami mengajukan permintaan ini," imbuhnya.

Pierre juga menyebut bahwa tujuan lain dari permintaan bantuan keamanan ini untuk memungkinkan pemilihan presiden (pilpres) dan pemilu legislatif yang dijadwalkan pada 26 September mendatang, bisa tetap digelar. Saat ditanya soal permintaan bantuan keamanan ini, seorang juru bicara Pentagon atau Departemen Pertahanan AS mengonfirmasi bahwa pemerintah Haiti memang meminta bantuan keamanan dan penyelidikan. Juru bicara Pentagon itu juga menyatakan akan tetap melakukan komunikasi rutin dengan Haiti untuk membahas bagaimana AS bisa membantu.

Para pembunuh Moise disebut sebagai tentara bayaran oleh otoritas Haiti, namun motif dan aktor intelektual di balik pembunuhan itu masih belum jelas.

Hakim setempat yang menyelidiki kasus ini menuturkan kepada Reuters bahwa Moise ditemukan tergeletak tidak bernyawa di lantai kamar tidurnya. Pintu depan kediaman Moise di Port-au-Prince memiliki tanda-tanda dibuka paksa, dengan sejumlah ruangan lainnya sempat digeledah. "Tubuhnya penuh dengan peluru. Ada banyak darah di sekitar jenazahnya dan pada tangga," sebut jaksa Petionville, Carl Henry Destin.

Bantu Penyelidikan
Otoritas AS sebelumnya mengumumkan pengiriman sejumlah penegak hukum dari Biro Investigasi Federal (FBI) dan Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) ke Haiti dalam waktu dekat untuk membantu penyelidikan. Diketahui bahwa Kepolisian Haiti mengungkapkan pembunuhan Moise dilakukan satu unit komando beranggotakan 28 orang, yang terdiri atas 26 warga Kolombia dan 2 warga AS keturunan Haiti.

Dua warga AS itu diidentifikasi sebagai James Solages (35) dan Joseph Vincent (55), yang berasal dari Florida, AS. "Kami mengetahui penangkapan dua warga AS di Haiti dan sedang memantau situasi secara saksama," ucap seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS.

Dari total 28 tersangka yang terlibat, sebanyak 17 orang di antaranya berhasil ditangkap dalam keadaan hidup, termasuk Solages dan Vincent. Penangkapan dilakukan di wilayah Petionville, pinggiran ibu kota Port-au-Prince, dengan melibatkan baku tembak antara polisi dan para tersangka.

Kepolisian Haiti menyebut tiga orang lainnya tewas dalam baku tembak dan delapan orang lainnya masih buron hingga kini. Selain memburu delapan tersangka yang buron, Kepolisian Haiti menyatakan pihaknya juga memburu dalang utama di balik operasi pembunuhan tersebut.

Dalam pernyataan terbaru pada Jumat (9/7) waktu setempat, Gedung Putih mengumumkan akan mengirimkan para pejabat senior dari Biro Investigasi Federal (FBI) dan Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) ke Haiti untuk membantu otoritas setempat dalam penyelidikannya. "Amerika Serikat tetap terlibat dan dalam konsultasi erat dengan mitra kami di Haiti dan internasional untuk mendukung rakyat Haiti setelah pembunuhan presiden mereka," ucap Sekretaris Pers Gedung Putih, Jen Psaki.

Psaki menambahkan bahwa memperkuat kapasitas penegakan hukum Haiti telah menjadi prioritas penting AS bahkan sebelum pembunuhan presiden terjadi. Dituturkan Psaki bahwa AS memberikan bantuan US$ 5 juta untuk memperkuat kapasitas Kepolisian Nasional Haiti dalam menindak geng-geng kriminal setempat. Tidak hanya itu, lanjut Psaki, AS juga akan mengirimkan pasokan vaksin virus corona (Covid-19) ke Haiti paling cepat pekan depan.

Kepolisian dan badan-badan intelijen AS dan Kolombia dilaporkan sedang menyelidiki keterkaitan sejumlah warga mereka dengan pembunuhan tersebut. Komandan Angkatan Bersenjata Kolombia, Jenderal Luis Fernando Navarro, menuturkan kepada wartawan bahwa para penyidik di Kolombia mendapati 17 tersangka di antaranya pensiun dari militer Kolombia antara tahun 2018 dan 2020.

Selain AS, Kolombia juga akan mengirimkan kepala direktorat intelijen nasional dan direktur intelijen kepolisian nasional ke Haiti bersama Interpol untuk membantu penyelidikan. (AFP/Rtr/dtc/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com