* PDIP: Karena Beban Berat, PPP: Tertekan Covid-19

Presiden Jokowi Makin Kurus

* Pengamat: Muncul Sinyal Reshuffle Kabinet ?

267 view
Presiden Jokowi Makin Kurus
Foto: Dok/Presiden Joko Widodo
Presiden Joko Widodo
Jakarta (SIB)
Fahri Hamzah menyoroti berat badan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang 'kempes'. PDI Perjuangan (PDIP) menilai hal tersebut merupakan wujud kepedulian Waketum Partai Gelora itu kepada Jokowi yang biasanya dikritik Fahri.

"Itu gaya ekspresi Fahri untuk menunjukkan simpati nya, lebih tepatnya empati, pada presiden Jokowi," ujar elite PDIP Andreas Hugo Pareira, Kamis (13/8).

Soal badan Presiden Jokowi yang kempes, Andreas menghubungkannya dengan kondisi negara yang sedang dalam krisis karena pandemi Corona (Covid-19). Menurut Anggota DPR ini, beban Jokowi saat ini semakin berat.
"Tentu dalam situasi pandemi Covid-19 saat ini memikul beban yang tidak ringan dalam memimpin dan mengelola negara ini," ungkap Andreas.

Sebelumnya diberitakan, Fahri Hamzah menilai badan Jokowi semakin 'kempes'. Penilaian itu disampaikan Fahri dalam perbincangan d'Rooftalk , Rabu (12/8) malam. Eks politikus PKS itu menanggapi perihal Jokowi yang dikritik karena dua kali marah-marah ke menterinya.

"Bukan sekadar komplain, dia (Jokowi) bilang, 'Mas Fahri, berat badan saya itu nggak pernah turun lebih dari 2 kilo (kilogram), sekilo naik, sekilo naik. Sekarang 3 kilo nggak naik-naik. Kemarin saya lihat dia di Jawa Barat, ya Allah, tambah kempes kawan ini," kata Fahri.

Fahri kemudian melanjutkan perbincangan. Dia menyebut harus ada pejabat yang bisa memberikan ketenangan kepada Jokowi.
"Artinya, maksudnya itu, ini kan orang-orang di sekitar dia itu setiap hari kan harus.... Jokowi juga manusia, harus ada yang menanggung. 'Pak, sudah, tenang saja, saya beresin, Pak, begini, begini'. Kan bisa itu dilakukan. Kan mesti begitu cara kita berteman," sebut Fahri.

Mantan Wakil Ketua DPR RI itu lalu mengaku sudah menganggap Jokowi sebagai teman. Fahri Hamzah kemarin mendapat bintang tanda jasa dari Presiden Jokowi.

"Saya mengatakan ini, presiden itu saya anggap teman. Dan saya hanya bisa membantu kalau orang itu jadi teman. Karena feodalisme itu harus diberantas," tuturnya.

Tertekan
Sementara itu, PPP pun menilai kondisi itu wajar apalagi di tengah tekanan pandemi Covid-19.
"Ya memang semua pimpinan negara di dunia ini dalam kondisi tertekan di 2020 akibat Covid-19. Bencana non alam ini tidak hanya mengguncang sektor kesehatan masyarakat, tapi juga menyasar ekonomi yang menjadi melambat. Tentu Pak Jokowi juga begitu, pikirannya terus terkonsentrasi bagaimana penanganan Covid lancar sehingga ekonomi terselamatkan," ujar Wasekjen PPP Achmad Baidowi kepada wartawan, Kamis (13/8).

Pria yang akrab disapa Awiek itu menilai kondisi pandemi inilah yang menambah beban pikiran Jokowi. Awiek menyebut kondisi ini mempengaruhi fisik Jokowi.

"Di satu sisi penyerapan anggaran penanganan Covid masih rendah, sehingga menambah beban pikiran Pak Jokowi, karena itu bisa berpengaruh pada fisik. Mudah-mudahan Presiden kuat dan diberi kesehatan," kata Awiek.

Selain itu, Ketua DPP NasDem, Irma Suryani Chaniago mengaku sepakat dengan pernyataan Fahri Hamzah yang menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) semakin 'kempes'. Irma menilai Jokowi seperti bekerja keras sendirian.
"Saya kenal baik dengan Pak Fahri Hamzah dan saya paham sekali yang beliau maksud dengan 'kempes sekali kawan ini'," ujar Irma kepada wartawan, Kamis (13/8).

"Saya rasa komentar Fahri tersebut merupakan sindiran positif pada para pembantu Presiden dan bentuk keprihatinan beliau terhadap Presiden yang menurut beliau kerja keras sendirian," imbuhnya.

Irma juga mengaku sepakat dengan Fahri, karena menurutnya beberapa pos kementerian terkesan seperti bekerja biasa di tengah pandemi. Menurut Irma, itu yang menjadi pekerjaan Jokowi semakin berat.

"Saya pribadi juga melihat ada beberapa Kementerian yang menurut saya hanya kerja biasa biasa saja, dan itu tentu makin memberatkan kerja Presiden," katanya.

Sinyal Reshuffle Kabinet
Presiden Jokowi makin kurus di tengah pandemi Covid-19 yang dampaknya meluas. Akankah Presiden, yang letih, mengambil langkah tegas reshuffle kabinet?

"Kita tanya apa problem saat ini, di atas 20 persen bicara tentang beratnya ekonomi dan sulit pekerjaan, 13 persenan baru bicara Covid. Jadi problem ekonomi lebih berat " kata Rico Marbun memaparkan hasil riset Median yang dipimpinnya, Kamis (13/8).
Dalam kondisi yang berat, Presiden perlu didukung tim yang tangguh. Namun, menurut Rico, Jokowi kurang terbantu oleh kabinet saat ini.

"Sepertinya memang terlihat jelas sekali Jokowi kurang puas dengan kerja pembantu dan menterinya. Rasanya dalam tahap ini beliau kecewa ke hampir sebagian besar jajarannya," ungkap Rico.

Di tengah kempesnya Jokowi dan lemahnya support menteri, muncul isu reshuffle kabinet. Isu terdengar, menteri diminta standby sampai 22 Agustus.

"Tidak tahu, apakah jangan-jangan akan ada reshuffle berbarengan dengan hari kemerdekaan? Cuma Presiden yang tahu," kata Rico.

Yang jelas, Jokowi memerlukan menteri yang profesional dan mampu mengikuti ritme kerja Presiden. Bukan bagi-bagi kursi politik.
"Mungkin saja Presiden merasa bahwa formasi kabinet saat ini bukanlah formasi krisis. Jadi perlu diganti, meski di saat yang sama bisa saja beliau menghadapi dilema dividen politik partai koalisi. Itu mungkin menambah tekanan hebat Presiden," pungkasnya. (detikcom/c)

Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com