Presiden Ukraina Bantah Rusia Tarik Pasukan

* AS Sebut Ada 7.000 Tentara Rusia di Perbatasan

469 view
Presiden Ukraina Bantah Rusia Tarik Pasukan
(Foto: Russian Defense Ministry Press Service/ AP)
TARIK PASUKAN: Menggunakan kereta api, sejumlah tank tempur Rusia bersiap berangkat meninggalkan wilayah Crimea usai mengikuti latihan perang di dekat perbatasan Ukraina. Kementerian Pertahanan Rusia, Kamis (17/2) kembali mengumumkan menarik pasukan dan alutsista yang diklaim bagian dari latihan militer dekat Ukraina. 

Kyiv (SIB)

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bersumpah akan berdiri tegak melawan invasi Rusia. Dia menegaskan tidak pernah melihat tanda-tanda Rusia menarik pasukan dari perbatasan Ukraina.


Seperti dilansir AFP, Kamis (17/2), Presiden Volodymyr Zelensky menyempatkan diri menyaksikan pasukannya berlatih dengan beberapa senjata anti-tank baru yang dipasok negara Barat di dekat Rivne, sebelah barat ibu kota Ukraina. Dalam kesempatan itu dia juga sempat berpidato menyatakan sumpah akan melawan invasi Rusia. "Kami tidak takut ramalan, kami tidak takut siapa pun, musuh apa pun, kami akan membela diri," kata Zelensky.


Zelensky menyebut demonstrasi senjata dan retorika Ukraina kontras dengan gambar di media pemerintah Rusia yang menunjukkan pasukan Moskow mengakhiri latihan besar di Krimea. Dia pun menyangkal Rusia menarik mundur pasukannya. "Kami melihat rotasi kecil. Saya tidak akan menyebut rotasi ini penarikan pasukan oleh Rusia. Kami tidak bisa mengatakan itu," kata Zelensky dalam komentar yang disiarkan televisi. "Kami tidak melihat perubahan," lanjutnya.


Hal serupa juga disampaikan, Kepala NATO Jens Stoltenberg. Dia menepis anggapan bahwa ancaman di perbatasan Rusia dan Ukraina telah berkurang. "Moskow telah memperjelas bahwa mereka siap untuk menentang prinsip-prinsip dasar yang telah menopang keamanan kami selama beberapa dekade dan melakukannya dengan menggunakan kekuatan," katanya.


"Saya menyesal mengatakan bahwa ini adalah normal baru di Eropa," lanjut dia.


Stoltenberg bahkan mengatakan, tidak ada tanda-tanda de-eskalasi dari pergerakan pasukan Rusia yang dilaporkan sejauh ini. "Sejauh ini kami tidak melihat tanda-tanda de-eskalasi di lapangan, tidak ada penarikan pasukan atau peralatan. Rusia mempertahankan kekuatan invasi besar-besaran yang siap menyerang dengan kemampuan canggih dari Krimea hingga Belarusia," ujarnya.


AS Tidak Percaya

Hal senada juga disampaikan Amerika Serikat (AS). Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan pihaknya tidak melihat bukti penarikan pasukan militer Rusia dari Ukraina. Blinken mengaku justru melihat sebaliknya. Seperti dilansir AFP, Kamis (17/2), Blinken menuding penarikan pasukan Rusia dari Ukraina hanya sebatas klaim. Dia menyebut ada perbedaan yang dikatakan Rusia dengan realita di perbatasan. "Sayangnya ada perbedaan antara apa yang dikatakan Rusia, dan apa yang dilakukannya dan apa yang kita lihat bukanlah kemunduran yang berarti," katanya di ABC News.


"Sebaliknya, kami terus melihat kekuatan, terutama kekuatan yang akan berada di garda depan setiap agresi baru terhadap Ukraina, terus berada di perbatasan, berkumpul di perbatasan," lanjut dia.


Blinken menyebut ancaman invasi Rusia tetap "nyata". Dia bahkan menyebut Putin bisa kapanpun menarik pelatuk untuk memulai invasi. "Presiden Putin telah menempatkan kapasitas untuk bertindak dalam waktu yang sangat singkat," kata diplomat tinggi AS itu. "Dia bisa menarik pelatuknya -- dia bisa menariknya hari ini. Dia bisa menariknya besok. Dia bisa menariknya minggu depan. Pasukan ada di sana jika dia ingin memperbarui agresi terhadap Ukraina," tambahnya

Blinken mendesak diplomasi untuk menyelesaikan situasi. Dia juga menegaskan Amerika Serikat siap untuk berdiplomasi tapi juga siap untuk melakukan agresi "Kami siap untuk diplomasi. Kami siap untuk agresi. Kami siap dengan cara apa pun," imbuhnya.


Pejabat senior Amerika Serikat juga menganggap klaim Rusia soal penarikan pasukan dari perbatasan Ukraina adalah palsu. Pejabat Gedung Putih memaparkan klaim Presiden Vladimir Putin bahwa Rusia tidak ingin perang dan mau berdialog adalah kedok belaka.


Menurutnya, Rusia justru terus menambah pasukannya di dekat Ukraina dalam beberapa hari terakhir. Saat ini, katanya, seluruh pasukan Rusia di sepanjang perbatasan Ukraina meningkat hingga 7.000 pasukan.


"Kemarin, pemerintah Rusia mengatakan telah menarik pasukan dari perbatasan Ukraina. Mereka lantas mendapat banyak perhatian dari klaimnya itu. Tapi kami tahu itu bohong," ucap pejabat AS yang meminta identitasnya jangan dipublikasikan seperti dikutip Reuters pada Rabu (16/2).


"Setiap indikasi yang kami miliki sekarang adalah mereka (Rusia) hanya bermaksud menawarkan secara terbuka untuk berbicara dan membuat klaim tentang deeskalasi, sementara diam-diam memobilisasi perang," paparnya menambahkan.


Rusia saat ini diperkirakan masih menempatkan sedikitnya 150 ribu pasukan lengkap dengan alat tempur di sepanjang perbatasan dekat Ukraina.


Menurut pejabat AS itu, kemungkinan invasi Rusia ke Ukraina masih besar. Ia memperingatkan Rusia dapat menggunakan dalih palsu untuk melakukan serangan kapan saja, termasuk klaim soal aktivitas NATO atau serangan ke wilayah Rusia.


"Kita sepertinya akan melihat lebih banyak laporan palsu dari media pemerintah Rusia dalam beberapa hari mendatang. Kita tidak tahu apa bentuk dalih palsu itu. Tapi kami berharap dunia sudah siap," ucapnya seperti dikutip CNN.


Pada Selasa (15/2), Putin mengklaim mengirim beberapa pasukan kembali ke pangkalan setelah menyelesaikan latihan di Crimea, wilayah Ukraina yang dianeksasi oleh Rusia pada 2014. Namun, AS dan negara Eropa kompak meragukan klaim tersebut.


Tarik Mundur Tentara

Sementara itu, Rusia kembali mengumumkan penarikan mundur tentaranya ke pangkalan mereka. Penarikan tentara ini dilakukan setelah mereka menyelesaikan latihan perang yang memicu kekhawatiran negara-negara Barat soal invasi ke Ukraina.


Seperti dilansir AFP, Kamis (17/2), pengumuman yang disampaikan Kementerian Pertahanan Rusia pada Kamis (17/2) waktu setempat itu menandai penarikan terbaru yang dilaporkan dari kontingen militer Rusia, yang oleh Barat diperkirakan jumlahnya melebihi 100.000 tentara dan siap menginvasi Ukraina. "Unit-unit distrik militer selatan yang mengakhiri latihan taktis di tempat-tempat pelatihan di Semenanjung Crimea telah kembali dengan kereta api ke pangkalan permanen mereka," sebut Kementerian Pertahanan Rusia dalam pernyataan yang dikutip kantor-kantor berita Rusia.


Tayangan televisi yang dikelola pemerintah Rusia menunjukkan pasukan perangkat keras militer melintasi jembatan yang dibangun baru-baru ini, yang menghubungkan Crimea dengan daratan utama Rusia. Secara terpisah, Kementerian Pertahanan Rusia menyebutkan bahwa 'unit tank dari distrik militer selatan mulai kembali ke pangkalan permanen mereka' setelah berpartisipasi dalam latihan militer. Tidak disebutkan lebih lanjut di mana unit itu telah dikerahkan, namun dinyatakan bahwa unit itu akan diangkut dengan kereta api sejauh 1.000 kilometer untuk kembali ke garnisun mereka.


Sehari sebelumnya, atau pada Rabu (16/2) waktu setempat, Kementerian Pertahanan Rusia juga mengumumkan penarikan tentara kembali ke garnisun mereka, setelah latihan militer di wilayah Crimea, yang dicaplok dari Ukraina tahun 2014 lalu, dinyatakan telah berakhir. (AFP/detikcom/CNNI/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com