Sanksi ke Rusia Tidak Cukup Hentikan Invasi

Presiden Ukraina Minta Bantuan Pasukan dan Amunisi

* Kemenkum HAM Siapkan Paspor Khusus untuk 140 WNI

352 view
Presiden Ukraina Minta Bantuan Pasukan dan Amunisi
(Foto: Rtr)
MENGUNGSI: Seorang bocah duduk di atas koper saat menunggu rombongan keluarganya di Bandara Internasional Boryspil, barat Ukraina, Jumat (25/2) untuk mengungsi dari serangan militer Rusia. Kebanyakan dari mereka mengungsi ke Polandia. 

Kiev (SIB)

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengatakan sanksi yang diterapkan pada Rusia saat ini tidak cukup menghentikan invasi ke negaranya. "Rusia dijatuhi sanksi kemarin, tetapi itu belum cukup untuk membuat pasukan asing ini pergi dari tanah kami. Hanya lewat solidaritas dan tekad itu (perginya pasukan Rusia) dapat dicapai," kata Zelensky dalam pesan video, seperti dikutip dari CNN, Jumat (25/2).


Zelensky menuturkan, warga Ukraina masih terus berjuang melawan Rusia. "Pertempuran masih terjadi. Kami tidak akan lelah," ujarnya. Zelensky juga mengungkapkan kondisi Ukraina di hari kedua Rusia menginvasi negara itu. "Pada pukul 4 pagi, pasukan Rusia kembali meluncurkan serangan rudal ke teritori Ukraina.


Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyatakan bahwa invasi pasukan Rusia tidak hanya menargetkan instalasi militer negaranya, tapi juga area sipil. Otoritas Ukraina melaporkan bahwa puluhan areal sipil menjadi target serangan militer Rusia dalam 24 jam terakhir. "Rusia mengatakan mereka tidak menyerang objek sipil, tapi 33 area sipil telah diserang selama 24 jam terakhir," ungkap seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri Ukraina, Vadym Denysenko, kepada Reuters dan dilansir BBC.


"Mereka bilang objek-objek sipil tak menjadi target. Namun, mereka bohong. Kenyataannya, mereka tidak membedakan antara objek sipil dengan area tempat mereka beroperasi," ujar Zelensky seperti dikutip AFP. "Mereka membunuh orang-orang dan mengubah kota yang damai menjadi target militer. Itu sungguh buruk dan tidak akan pernah dimaafkan," tegasnya.


Lebih lanjut dia memuji warga Ukraina atas 'kepahlawanan' mereka dalam menghadapi Rusia. "Warga Ukraina menunjukkan kepahlawanan," cetus Zelensky. "Seluruh pasukan kita melakukan segalanya yang mungkin dilakukan untuk melindungi rakyat," ucapnya.


Dalam pernyataannya, Zelensky juga menyatakan keyakinannya bahwa kelompok sabotase asal Rusia telah memasuki ibu kota Kiev dan dia meyakini dirinya menjadi target nomor satu mereka. Namun dia bersumpah bahwa dirinya akan tetap berada di Kiev di tengah ancaman itu. "Menurut informasi kami, musuh telah menandai saya sebagai target nomor 1, keluarga saya sebagai target nomor 2," ungkap Zelensky merujuk pada Rusia.


"Mereka ingin menghancurkan Ukraina secara politik dengan menghancurkan kepala negara. Kami memiliki informasi bahwa kelompok sabotase musuh telah memasuki Kiev," ungkapnya. "Saya tinggal di kompleks pemerintahan bersama dengan yang lainnya," ujarnya. "Saya akan tetap berada di ibu kota. Keluarga saya juga ada di Ukraina," imbuhnya. Ia menegaskan bahwa pasukan Ukraina akan berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan negara dan melindungi warga sipil.


Selain itu, Zelensky secara tidak langsung 'menyindir' para sekutunya yang masih belum memberikan bantuan pasukan ke Ukraina. "Pagi ini, kami membela negara kami sendirian. Seperti kemarin, negara terkuat di dunia hanya melihat dari jauh," ungkap Zelensky, yang dinilai merujuk pada Amerika Serikat.


Sejak prediksi invasi Rusia-Ukraina mencuat, AS termasuk salah satu negara yang cukup berkoar bakal membela Kiev. Namun hingga kini, AS urung menempatkan pasukannya di Ukraina, meski telah menjatuhkan sanksi ke Moskow. Tidak hanya itu, NATO, yang mana adalah sekutu AS, juga enggan menempatkan pasukannya untuk membela Ukraina.


137 Tewas

Dikutip dari Al Jazeera, Zelensky juga menyebutkan 137 warga sipil dan militer tewas di hari pertama serangan Rusia.

Selain itu dalam informasi yang beredar di media sosial, warga Ukraina banyak yang mengungsi di terowongan kereta bawah tanah.


Dokumentasi twitter dari akun @FrancescaEbel menunjukan kondisi warga Kiev, Ukraina, yang bermalam di terowongan bawah tanah.


"Takut bahwa Rusia dapat menyerang ibu kota kapan saja, banyak orang Ukraina berlindung jauh di bawah tanah, di sistem metro #Kyiv. Masyarakat telah membawa anjing, selimut & teka-teki silang mereka, berjongkok untuk malam yang panjang di depan. #Ukraina," tulis @FrancescaEbel.


- Francesca Ebel (@FrancescaEbel) February 24, 2022

Zelenskyy meminta Uni Eropa untuk segera membantu Ukraina dengan senjata, amunisi, serta dukungan operasi penjaga perdamaian PBB.


"Nasib Eropa sedang diputuskan di Ukraina: jika Putin tidak mendapatkan penolakan yang layak sekarang, dia akan melangkah lebih jauh" ucap Zelenskyy.


Semakin Terkepung

Sementara itu, Rusia menyatakan masih membuka pintu dialog dengan Ukraina terlepas dari invasi ke negara pecahan Uni Soviet itu. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan syarat utama pintu dialog terbuka adalah jika tentara Ukraina bersedia menyerah. "Kami siap untuk negosiasi setiap saat, segera setelah pasukan Ukraina menanggapi seruan kami dan meletakkan senjata mereka," kata Lavrov dalam jumpa pers di Moskow.


Dalam jumpa pers yang sama, Lavrov menegaskan bahwa niat Rusia menginvasi Ukraina adalah untuk membebaskan warga negara tetangganya itu dari "penindasan".


Pernyataan Lavrov itu dikemukakan ketika agresi Rusia di Ukraina semakin meluas. Militer Ukraina menuturkan manuver pasukan Rusia semakin mendekati Ibu Kota Kiev, terutama dari arah utara dan timur laut pada Jumat (25/2) waktu setempat.


Pergerakan militer Rusia yang semakin mendekati Kiev dikhawatirkan memperbesar ancaman ibu kota jatuh ke tangan pasukan Presiden Vladimir Putin di hari kedua invasi. "Tentara Rusia berusaha melewati kota utara Chernigiv--di mana mereka dipukul mundur oleh tentara Ukraina--untuk menyerang Kiev," kata militer Ukraina melalui pernyataan di Facebook seperti dikutip AFP.


Militer Ukraina juga memaparkan pasukan Rusia terus berupaya memasuki Kiev dari Kota Konotop di timur ibu kota. Kota Konotop kini telah diduduki pasukan Rusia. Sebelumnya, pasukan Rusia sudah mulai bergerak menuju Ibu Kota Ukraina, Kiev, sejak Jumat pagi. Warga sekitar diminta melaporkan pergerakan Rusia dan melawan menggunakan molotov. Rentetan tembakan juga dilaporkan terdengar di dekat distrik pemerintah di Ibu Kota Kiev. "Kami mendesak warga untuk menginformasikan pergerakan pasukan, membuat bom molotov, dan melawan musuh," demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Ukraina melalui Facebook.


AFP melaporkan bahwa pasukan Rusia mulai bergerak ke arah Kiev melalui Belarus pada Jumat pagi. Ukraina sempat melakukan berbagai cara untuk menghalau Rusia, termasuk meledakkan jembatan menuju Kiev. Komandan militer Ukraina, Valerii Zaluzhnyi, mengklaim berhasil memukul mundur pasukan Ukraina di Chernihiv, utara Kiev. "Kendaraan musuh terpaksa mundur dari Chernihiv ke arah Sedniv dan dari Horodnya ke Semenivka," kata Zaluzhnyi dikutip CNN.


Nginap Di KBRI

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI) menyatakan, 72 warga negara Indonesia (WNI) sudah berkumpul di KBRI Kiev, Ukraina.


Kemlu dan KBRI Kiev telah menggelar sejumlah pertemuan virtual dengan para WNI yang tersebar di wilayah-wilayah lain.


Mereka terus memonitor kondisi dan menjelaskan langkah-langkah perlindungan. Dari 138 WNI yang berada di Ukraina, mayoritasnya terkonsentrasi di Kiev dan Odessa.


Menurut Direktur Perlindungan WNI Kemenlu Judha Nugraha, pihaknya telah mengadakan pertemuan virutal dengan para WNI di Ukraina pada Kamis malam (24/2) waktu Jakarta atau petang waktu Kiev.


Pertemuan virtual tersebut dilakukan untuk memonitor kondisi dan menjelaskan langkah-langkah perlindungan WNI di tengah situasi konflik antara Rusia dan Ukraina yang kian memanas.


"Mereka dalam kondisi selamat dan tetap tenang. Kami meminta mereka utk meningkatkan kewaspadaan dan segera berkumpul di KBRI. KBRI juga membantu penjemputan bagi mereka yang kesulitan transportasi," terang Judha.


Bagi WNI yang tak dapat melakukan perjalanan ke Kiev, KBRI akan melakukan penjemputan ke lokasi-lokasi mereka.


Bersama dengan sejumlah Lembaga terkait, KBRI Kiev menyusun rencana kontingensi untuk melindungi para WNI.

Siapkan 'Paspor Khusus'


Kemenkumham RI langsung mengambil langkah strategis untuk mengamankan warga Indonesia dengan menyiapkan paspor khusus bagi 140 WNI di Ukraina.


"Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) telah menyiapkan langkah dari perspektif tugas keimigrasian guna mempermudah akses lalu lintas WNI di berbagai perbatasan internasional. Dalam fungsi Imigrasi, Kementerian Hukum dan HAM telah mempersiapkan diri menghadapi kontingensi dalam rangka evakuasi WNI dari Ukraina," kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemenkumham Andap Budhi Revianto dalam siaran persnya.


Dalam kondisi normal, setiap orang diwajibkan memiliki paspor. Tetapi, dalam situasi kontingensi, bisa saja paspor itu hilang ataupun rusak.


"Dalam situasi kontingensi, paspor bisa saja rusak, hilang, atau tertinggal karena kedaruratan. Dalam kondisi tersebut, Imigrasi nanti akan mengeluarkan surat perjalanan laksana paspor (SPLP) sebagai pengganti paspor," terang Andap. (BBC/AFP/detikcom/CNNI/c)


Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com