Presiden Ukraina Minta Paus Fransiskus Jadi Penengah Akhiri Konflik dengan Rusia

* Bagai “Neraka”, Kota Mariupol Hancur Digempur

360 view
Presiden Ukraina Minta Paus Fransiskus Jadi Penengah Akhiri Konflik dengan Rusia
Foto: Maxar Technologies/Getty Images
HANCUR: Asap mengepul di atas blok apartemen yang hancur di Mariupol, Ukraina, dalam citra satelit, Selasa (22/3). 

Jakarta (SIB)

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky meminta Paus Fransiskus untuk menengahi konflik negaranya dengan Rusia demi membantu meringankan penderitaan manusia. Permintaan ini disampaikan Zelensky hampir satu bulan setelah invasi Rusia ke negaranya.


Dilansir dari kantor berita AFP, Rabu (23/3), Zelensky mengatakan dia telah melakukan panggilan telepon dengan Paus Fransiskus, dan telah "memberi tahu Yang Mulia tentang situasi kemanusiaan yang sulit dan pemblokiran koridor penyelamatan oleh pasukan Rusia."


"Peran mediasi Takhta Suci dalam mengakhiri penderitaan manusia akan dihargai," tulis Zelensky di Twitter usai percakapan via telepon tersebut.


Negosiator dari Rusia dan Ukraina telah mengadakan pembicaraan berkelanjutan yang bertujuan untuk mengakhiri peperangan yang telah berlangsung hampir empat minggu. Namun, sejauh ini gagal mencapai kemajuan apa pun.


Sebelumnya, Paus Fransiskus telah menyerukan diakhirinya konflik Rusia-Ukraina, dan meskipun Paus mengutuk "pembantaian" di Ukraina, dia menghindari menyebut nama Rusia.


Patriark Ortodoks Rusia Kirill dan Paus Fransiskus awal bulan ini mengadakan pembicaraan tentang Ukraina dan mendesak negosiasi untuk terus mencapai "perdamaian yang adil".


Tak lama setelah dimulainya operasi militer Rusia bulan lalu di Ukraina, Patriark Kirill menyebut lawan-lawan Moskow di Ukraina sebagai "kekuatan jahat".


Digempur

Situasi kota Mariupol di Ukraina yang dikepung pasukan Rusia dilaporkan semakin mengkhawatirkan. Seorang anggota parlemen setempat menyebut situasi di kota Mariupol bagai 'neraka di Bumi'.


Seperti dilansir BBC, Rabu (23/3), Yaroslav Zhelezniak yang merupakan anggota parlemen dari Mariupol menyatakan kekhawatiran semakin memuncak soal situasi kemanusiaan di kota pelabuhan di tepi Laut Azov tersebut.


"Neraka di Bumi," sebut Zhelezniak soal situasinya di Mariupol.


Komentar senada disebutkan seorang pengusaha bernama Dmytro yang berhasil meninggalkan kota Mariupol pada Selasa (22/3) waktu setempat. Menurut Dmytro, warga setempat yang sangat kelaparan terpaksa membunuh anjing liar untuk dimakan.


Dmytro mengatakan, teman-temannya menyebut tindakan putus asa semacam itu dilakukan dalam beberapa hari terakhir karena pasokan makanan telah habis.


"Anda mendengar kata-katanya, tapi tidak mungkin untuk benar-benar menerimanya, untuk mempercayai ini terjadi," ucap Dmytro seperti dilansir Financial Times.


"Ini adalah neraka di Bumi," sebutnya.


Mariupol merupakan target strategis utama bagi militer Rusia yang menginvasi Ukraina. Warga kota pelabuhan itu telah menghadapi gempuran Rusia selama beberapa pekan terakhir, tanpa mendapatkan pasokan listrik maupun air mengalir.


Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam pernyataan terbaru menyebut seperempat populasi kota tersebut, atau sekitar 100.000 orang, masih terjebak dalam 'kondisi tidak manusiawi'. Pasokan makanan mulai menipis dan bantuan kemanusiaan diblokir untuk masuk ke kota yang kini dikepung pasukan Rusia itu.


Dalam pidato Selasa (22/3) tengah malam, Zelensky menggambarkan kengerian yang dialami penduduk Mariupol: "Tidak ada makanan. Tidak ada air. Tidak ada obat-obatan. Di bawah gempuran terus-menerus, di bawah pengeboman terus-menerus."


Untuk kesekian kalinya, Rusia membantah menargetkan warga sipil. Sementara itu, Ukraina menyebut Rusia memblokir upaya pengiriman bantuan untuk warga sipil, seperti makanan hingga bus yang akan membawa warga keluar kota.


Rusia meminta Ukraina menyerah. Jika tidak, serangan dahsyat bakal terus dilancarkan.


"Kami menuntut pembukaan koridor kemanusiaan bagi warga sipil," kata Wakil Perdana Menteri Ukraina Iryna Vereshchuk di televisi Ukraina.


"Militer kami membela Mariupol dengan heroik. Kami tidak menerima ultimatum. Mereka menawarkan penyerahan diri di bawah bendera putih. Ini manipulasi, bohong," lanjutnya.


Diketahui, Mariupol merupakan kota terbesar yang masih dipegang oleh Ukraina di wilayah Donetsk.(detikcom/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: KORAN SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com