Tunjukkan Rekaman Pembantaian di Bucha

Presiden Ukraina Tantang PBB: Segera Bertindak Terhadap Rusia Atau Bubar

* Rusia Bantah Terlibat Pembantaian di Bucha

211 view
Presiden Ukraina Tantang PBB: Segera Bertindak Terhadap Rusia Atau Bubar
Foto: Rtr
KUBURAN MASSAL: Warga lokal dikawal prajurit militer Ukraina menunjukkan kepada wartawan internasional, Selasa (5/4) kuburan massal berisi mayat warga sipil yang dikatakan dibunuh tentara Rusia setelah meninggalkan Bucha, kawasan Kyiv, Ukraina. 

New York (SIB)

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menantang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk bertindak segera terhadap Rusia atau "membubarkan diri saja". Hal itu disampaikan dalam pidatonya secara virtual di depan Dewan Keamanan PBB pada Selasa (5/4) waktu setempat, di mana dia menunjukkan rekaman mengerikan mayat-mayat - termasuk anak-anak - yang disebutnya merupakan korban kekejaman Rusia.


Dilansir dari kantor berita AFP, Rabu (6/4), Zelensky menyamakan tindakan pasukan Rusia di Bucha dan kota-kota Ukraina lainnya dengan kekerasan yang dilakukan oleh teroris seperti kelompok ISIS. Zelensky pun meminta Dewan Keamanan PBB beranggotakan 15 negara - yang bertujuan untuk memastikan perdamaian dan keamanan internasional - agar mengusir Rusia sehingga tidak dapat memblokir keputusan tentang agresinya sendiri, perangnya sendiri.


Diketahui bahwa Rusia, sebagai salah satu dari lima anggota tetap DK PBB, memiliki hak veto, yang telah berulang kali digunakan untuk menggagalkan resolusi dan negosiasi di badan dunia itu. Itu artinya, Rusia tidak dapat dikeluarkan dari badan dunia tersebut, karena Rusia akan memveto setiap pemungutan suara atau rekomendasi dari Dewan Keamanan untuk mengeluarkannya. "Jika tidak ada alternatif, maka opsi selanjutnya adalah membubarkan diri Anda (PBB) semuanya," cetus Zelensky. "Bapak dan Ibu, apakah Anda siap untuk menutup PBB? Jika jawaban Anda tidak, maka Anda harus segera bertindak," lanjutnya.


Di depan DK PBB, Zelenskyy menayangkan klip grafis berdurasi 90 detik dari apa yang dia katakan sebagai gambar dari kota-kota termasuk Bucha dan kota pelabuhan Mariupol yang dikepung Rusia.


Rekaman itu menunjukkan orang-orang mati yang sebagian tidak tertutupi - termasuk anak-anak - di kuburan dangkal, beberapa mayat di halaman dan orang-orang mati dengan tangan terikat. "Sekarang dunia dapat melihat apa yang dilakukan militer Rusia di Bucha," kata Zelenskyy.


"Mereka dibunuh di apartemen mereka, rumah mereka, meledakkan granat, warga sipil dihancurkan oleh tank sambil duduk di mobil mereka di tengah jalan, hanya untuk kesenangan mereka. Mereka memotong anggota badan, menggorok leher mereka," ujar pemimpin Ukraina itu.


"Perempuan-perempuan diperkosa dan dibunuh di depan anak-anak mereka, lidah mereka dicabut hanya karena para penyerang tidak mendengar apa yang ingin mereka dengar dari mereka," tuturnya. "Ini tidak berbeda dengan teroris lain seperti Daesh (nama lain ISIS) dan di sini dilakukan oleh anggota Dewan Keamanan PBB," katanya.


Bantah Terlibat

Pemerintah Rusia sebelumnya telah membantah terlibat pembantaian di Bucha, dan menyebutnya sebagai provokasi untuk menggagalkan perundingan damai antara kedua negara. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan temuan mayat-mayat di kota itu adalah "provokasi" yang bertujuan untuk menggagalkan pembicaraan antara Moskow dan Kyiv.


"Satu pertanyaan muncul: Apa tujuan dari provokasi yang tidak benar ini? Itu adalah dalih untuk menggagalkan negosiasi yang sedang berlangsung," kata Lavrov dalam pesan video yang disiarkan di televisi Rusia seperti diberitakan kantor berita AFP, Rabu (6/4).


Lavrov mengatakan situasi di Bucha bertujuan untuk mengalihkan perhatian dari proses negosiasi, mengalihkan perhatian dari fakta bahwa pihak Ukraina, setelah Istanbul, mulai mundur lagi, mencoba mengajukan syarat-syarat baru. Namun, Lavrov menambahkan bahwa Rusia siap untuk melanjutkan pembicaraan.


Pembicaraan antara Rusia dan Ukraina berlanjut setelah diplomat top mereka bertemu di resor Turki, Antalya bulan lalu, pertemuan pertama sejak dimulainya operasi militer Moskow pada 24 Februari. Rusia pekan lalu mengumumkan akan secara drastis mengurangi kegiatan militernya di Ukraina utara setelah pertemuan di Istanbul, Turki.


Ukraina telah mengusulkan perjanjian internasional dengan negara-negara lain yang menjamin keamanannya dengan imbalan menerima status netral dan non-nuklir, tidak bergabung dengan NATO dan menolak menjadi tuan rumah pangkalan militer asing. Menurut proposal Ukraina, Rusia tidak akan menentang masuknya Ukraina ke Uni Eropa.


Larang Semua Investasi Baru

Sementara itu, Amerika Serikat (AS), berkoordinasi dengan G7 dan Uni Eropa, melarang semua investasi baru di Rusia.


Larangan investasi ini menjadi bagian dari rentetan sanksi terbaru untuk Rusia terkait invasinya di Ukraina. Seperti dilansir AFP, Rabu (6/4), langkah gabungan itu diungkapkan oleh seorang sumber yang memahami penjatuhan sanksi-sanksi dari AS untuk Rusia.


Disebutkan sumber itu bahwa larangan investasi tersebut juga untuk merespons dugaan kekejaman oleh pasukan Rusia di kota Bucha, pinggiran Kyiv, ibu kota Ukraina. "Akan mencakup larangan terhadap semua investasi baru di Rusia, peningkatan sanksi terhadap lembaga keuangan dan perusahaan milik negara di Rusia, dan sanksi-sanksi terhadap para pejabat pemerintah Rusia dan anggota keluarga mereka," ujar sumber itu kepada AFP pada Selasa (5/4) waktu setempat.


Lebih lanjut, sumber tersebut menyatakan bahwa hukuman terbaru terhadap perekonomian Rusia ini dipicu oleh dugaan pembunuhan dan kekejaman lainnya yang dilakukan terhadap warga sipil di area-area Ukraina yang baru-baru ini ditinggalkan pasukan Rusia, salah satunya kota Bucha.


"Kami telah menyimpulkan bahwa Rusia melakukan kejahatan perang di Ukraina, dan informasi dari Bucha tampaknya menunjukkan bukti lebih lanjut untuk kejahatan perang itu," tutur sumber tersebut.


Sanksi-sanksi baru itu, menurut sumber tersebut, akan memicu kerugian signifikan pada Rusia dan membawanya lebih jauh ke jalan menuju isolasi ekonomi, finansial dan teknologi'.


"Langkah-langkah ini akan merendahkan instrumen penting dari kekuatan negara Rusia, memicu kerugian akut dan ekonomi secara langsung terhadap Rusia, dan meminta pertanggungjawaban kleptokrasi Rusia yang mendanai dan mendukung perang," tegas sumber tersebut.


Diprediksi oleh sumber tersebut bahwa perekonomian Rusia akan menyusut hingga 15 persen tahun ini. "Kolapsnya ekonomi PDB Rusia akan menghapus keuntungan ekonomi selama 15 tahun terakhir di Rusia," tandas sumber tersebut.


Sebelumnya, Presiden Joe Biden menuduh Presiden Vladimir Putin telah melakukan kejahatan perang dan menuntut agar Putin dibawa ke Pengadilan. Tuduhan itu menyusul laporan bahwa Rusia telah melakukan pembantaian terhadap warga sipil di Bucha, Ukraina. “Anda melihat apa yang terjadi di Bucha. Ini menjamin, dia adalah penjahat perang,” kata Biden kepada wartawan, seperti dilansir AFP, Rabu (6/4)


Penemuan kuburan massal dan mayat yang terikat diduga ditembak dari jarak dekat, telah memicu kecaman internasional.


“Kami harus mengumpulkan informasi. Kami harus terus menyediakan senjata yang dibutuhkan Ukraina untuk melanjutkan pertempuran. Dan kami harus mendapat semua detailnya sehingga ini bisa menjadi kenyataan, mengadakan pengadilan kejahatan perang,” ucap Biden.


Bantuan Militer Tambahan

Amerika Serikat (AS) akan mengirimkan bantuan militer tambahan senilai US$ 100 juta (Rp 1,4 triliun) untuk Ukraina.


Bantuan militer tambahan ini diumumkan setelah situasi mengerikan terungkap di kota Bucha, Ukraina, sepeninggal pasukan Rusia.


"Saya telah mengizinkan, sesuai dengan pendelegasian dari Presiden sebelumnya pada hari ini, pemberian segera bantuan keamanan yang bernilai hingga US$ 100 juta untuk memenuhi kebutuhan mendesak Ukraina bagi tambahan sistem anti-armor," ucap Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dalam pernyataannya pada Selasa (5/4) dan dilansir AFP, Rabu (6/4).


Blinken menambahkan bahwa dunia dikejutkan dan merasa ngeri oleh kekejaman yang dilakukan pasukan Rusia di Bucha dan di seluruh Ukraina. Juru bicara Pentagon atau Departemen Pertahanan AS, John Kirby, dalam pernyataan terpisah menyebut bahwa pendanaan ekstra akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan mendesak Ukraina untuk sistem anti-armor Javelin. Dia menekankan bahwa militer Ukraina telah merasakan manfaat rudal yang diluncurkan dari bahu dengan sangat efektif untuk mempertahankan negara mereka. Pada 1 April lalu, Pentagon juga mengumumkan bantuan militer tambahan senilai US$ 300 juta.


Kirby menyatakan bahwa pengiriman bantuan militer terkini itu menjadikan total bantuan militer AS ke Ukraina mencapai lebih dari US$ 1,7 miliar sejak awal invasi Rusia, yang direncanakan dan tidak beralasan pada 24 Februari. Jumlah itu juga mencapai lebih dari US$ 2,4 miliar bantuan militer untuk negara lain sejak Presiden Joe Biden menjabat.


Sebelumnya dilaporkan bahwa AS juga sedang berusaha meningkatkan volume dan kekuatan persenjataan yang dikirimkan untuk Angkatan Bersenjata Ukraina. "Kita harus terus menyediakan senjata yang dibutuhkan Ukraina untuk melanjutkan pertempuran," ucap Biden dalam pernyataannya seperti dilansir Reuters, Selasa (5/4). (AFP/detikcom/Rtr/CNNI/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: KORAN SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com