Pro dan Kontra Vaksin Nusantara, Jokowi: Saya Dukung Segala Penelitian Tangani Covid-19

* BPOM-Menkes Setuju Tidak untuk Dimintakan Izin Edar

316 view
TANDATANGANI: Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meneken nota kesepahaman (MoU) terkait penelitian vaksin Nusantara disaksikan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa, Kepala BPOM Penny K Lukito dan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhajir Effendy, di Markas Besar TNI AD (Mabes AD), Jalan Veteran, Jakarta Pusat (Jakpus), Senin (19/4). (Foto: Dok/Detikcom)
Jakarta (SIB)
Pengembangan Vaksin Nusantara hingga masih menuai pro dan kontra. Saat ini, penelitian Vaksin Nusantara sudah memulai fase uji klinis II meski tanpa izin BPOM.

Polemik Vaksin Nusantara rupanya tak luput dari perhatian Presiden Jokowi. Jokowi menilai, dalam kondisi pandemi saat ini, apa pun jenis penelitian terkait penanganan Covid-19 diperlukan. Namun, ia menekankan, penelitian harus berdasarkan kajian ilmiah dan prosedur yang berlaku.

"Saya mendukung penelitiannya, risetnya, saya mendukung segala upaya penelitian untuk penanganan Covid-19," ujar Jokowi, Selasa (20/4).

Lebih lanjut, menurut dia, terkait treatment untuk penyembuhan Covid-19, siapa pun boleh mengembangkan penelitian. Namun, hingga saat ini yang terlihat kemajuannya dengan jelas adalah Vaksin Merah Putih.

"Ini kan penelitian, siapa pun silakan untuk membuat vaksin sendiri. Tapi progres yang saat ini kelihatan adalah salah satunya vaksin merah putih, meskipun mungkin baru 2022 selesai," jelas Jokowi.

Jokowi menilai, pro kontra soal penelitian Vaksin Nusantara harusnya dibahas dalam kajian ilmiah.
Harusnya, para pakar di bidang pengembangan vaksinlah dan lembaga dengan yang memiliki kewenangan yang mengisi ruang perdebatan.

"Ini kan urusan ilmiah, biarlah sesuai dengan mekanisme ilmiah. Mestinya perdebatannya itu perdebatan ilmiah, ini masak politikus ngurusin vaksin, lawyer ngurusin vaksin, apa urusannya?"

"Itu kan ada tahapan-tahapannya, diikuti saja. Ini ramai banget, ada yang dukung BPOM-lah, ada yang dukung Pak Terawanlah"

Lebih lanjut, terkait penanganan Covid-19, Jokowi menekankan pentingnya seluruh masyarakat untuk selalu menerapkan protokol kesehatan. Utamanya menggunakan masker.

"Harus eling dan wospodo, ingat dan waspada,"
Jokowi mengatakan, Indonesia harus menjaga tren penurunan kasus Covid-19. Jangan sampai, Indonesia mengalami penambahan kasus seperti yang terjadi di India atau berbagai negara lainnya.

Menekan angka penyebaran corona, kata Jokowi, penting sebab jika kasus naik maka bukan hanya sektor kesehatan yang terdampak, tapi juga sektor ekonomi. Padahal, sektor ekonomi Indonesia sudah mulai mengalami perbaikan.

Teken MoU
Uji vaksin Nusantara dihentikan, kini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut sudah menyetujui kesepahaman Memorandum of Understanding (MoU) bersama Kementerian Kesehatan dan TNI AD terkait pengambilan sampel darah sejumlah relawan di RSPAD Gatot Soebroto.

Menurut Kepala BPOM Penny K Lukito, penelitian vaksin dendritik yang diprakarsai eks Menteri Kesehatan dr Terawan Agus Putranto nantinya tidak untuk dimintakan izin edar ataupun dikomersilkan.

"Iya. Penelitian berbasis pelayanan," jelas Penny saat dihubungi, Selasa (20/4).
Peran BPOM yang tercantum dalam MoU dijelaskan Penny, hanya memberikan arahan terkait standar atau kaidah klinis penelitian. Penny menyebut BPOM sudah memiliki panduan dan standar tertentu.

"Untuk panduan dan standar-standar tentunya dari Badan POM. Semua sudah tersedia," lanjutnya.

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa bersama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Kepala BPOM Penny K Lukito meneken nota kesepahaman (MoU) terkait penelitian vaksin Nusantara.

MoU tentang 'Penelitian Berbasis Pelayanan Menggunakan Sel Dendritik untuk Meningkatkan Imunitas Terhadap Virus SARS-CoV-2' ini diteken pada Senin (19/4).

Penandatanganan MoU ini disaksikan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhajir Effendy.

Menanggapi kelanjutan vaksin Nusantara, Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban melihat hal ini sebagai jalan tengah.

"Ini kelihatannya merupakan jalan tengah dari vaksin yang kontroversial ini. Sebetulnya di AS uji klinik fase 1 dan fase 2 juga baru dimulai bulan Juni tahun ini. Dan fase 2 itu baru selesai Juni tahun depan," kata Prof Zubairi saat dihubungi, Selasa (20/4).

Sebelumnya,KSAD Jenderal Andika Perkasa menyebut penelitian itu berbeda makna dengan melanjutkan produksi vaksin Nusantara.

Andika mengatakan RSPAD Gatot Subroto akan melakukan penelitian tentang sel dendritik. Penelitian dilakukan setelah ada temuan BPOM atas kelemahan critical dan major dalam kandungan vaksin Nusantara. (Kumparan/detikhealth/detikcom/d)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Tag:Jokowi
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com