Profesor Singapura Nilai Jokowi Jenius

* Pemimpin Paling Efektif di Dunia

185 view
Profesor Singapura Nilai Jokowi Jenius
Foto: Dok/detikcom
Kishore Mahbubani.
Jakarta (SIB)
Seorang profesor sekaligus peneliti di National University of Singapore, Kishore Mahbubani, memuji Jokowi sebagai sosok pemimpin yang jenius. Dia menyebut Jokowi sebagai pemimpin paling efektif di dunia.

Sorotan terhadap kejeniusan Jokowi ini ia sampaikan dalam tulisan berjudul 'The Genius of Jokowi'. Tulisan ini tayang pada 6 Oktober 2021 di Project Syndicate, sebuah media nirlaba yang fokus pada isu-isu internasional.

Kishore Mahbubani menyebut, Jokowi telah menjadi pemimpin yang layak mendapat pengakuan atas keberhasilannya dalam memimpin. Jokowi, tulis Mahbubani, membuat model pemerintahan yang bisa dipelajari oleh dunia. "Pada saat bahkan beberapa negara demokrasi kaya memilih penipu sebagai pemimpin politik mereka, keberhasilan Presiden Indonesia Joko Widodo layak mendapat pengakuan dan penghargaan yang lebih luas. 'Jokowi' memberikan model pemerintahan yang baik yang dapat dipelajari oleh seluruh dunia," ujar Kishore Mahbubani dalam tulisannya itu.

Lebih lanjut, dia menyebut, Jokowi bisa menjembatani kesenjangan politik di Indonesia. Dia membandingkan keberhasilan Jokowi ini dengan Joe Biden dalam Pilpres AS 2020 yang belum bisa mengatasi perpecahan.

"Sebagai permulaan, Jokowi telah menjembatani kesenjangan politik Indonesia. Hampir satu tahun setelah Joe Biden memenangi pemilihan Presiden AS 2020, 78 persen dari Partai Republik masih tidak percaya dia terpilih secara sah. Biden menjabat sebagai senator AS selama 36 tahun, tetapi dia tidak dapat menyembuhkan perpecahan partisan Amerika. Sebaliknya, capres dan cawapres yang dikalahkan Jokowi dalam pemilihannya kembali 2019--Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno--kini menjabat di kabinetnya (masing-masing sebagai Menteri Pertahanan dan Menteri Pariwisata)," tulisnya.

Selain itu, dia juga menyoroti cara Jokowi membalikkan momentum pertumbuhan partai-partai paling 'islamis' di Indonesia, sebagian dengan menjadi inklusif. Dia membandingkannya dengan Presiden Brasil Jair Bolsonaro, yang memperdalam perpecahan di Brasil.

"Jokowi telah menyatukan kembali negaranya secara politik. Seperti yang dia katakan kepada saya dalam sebuah wawancara baru-baru ini, 'Pilar ketiga ideologi Indonesia, Pancasila, menekankan persatuan dalam keragaman'. Untuk itu, pembangunan koalisinya yang terampil menyebabkan disahkannya omnibus law tahun lalu, yang bertujuan untuk meningkatkan investasi dan menciptakan lapangan kerja baru," ujarnya.

Kishore Mahbubani menyebut, Jokowi telah menetapkan standar baru dalam pemerintahan Indonesia. Hal inilah yang, menurutnya, membuat negara demokrasi lain iri.

"Dia telah menetapkan standar pemerintahan baru yang seharusnya membuat iri negara-negara demokrasi besar lainnya," ungkapnya.

Utang Rendah
Kishore Mahbubani menyebut, utang publik Indonesia terbilang rendah berdasarkan ukuran internasional.

"Utang publik Indonesia rendah menurut standar internasional, kurang dari 40% dari PDB," ujar Kishore Mahbubani dalam tulisannya.

Dia juga menyoroti Koefisien Gini Indonesia (Gini Ratio) yang sederhananya adalah alat untuk mengukur kesenjangan pendapatan dan kekayaan.

Kishore Mahbubani menjelaskan, sebelum Jokowi menjabat pada tahun 2014, Koefisien Gini di Indonesia terus meningkat, dari 28,6 pada tahun 2000 menjadi 40 pada tahun 2013.

"Koefisien kemudian menurun menjadi 38,2, penurunan signifikan pertama dalam 15 tahun. Namun, tidak seperti banyak pemimpin yang menganjurkan program besar pemerintah untuk membantu orang miskin, Jokowi bijaksana secara fiskal," terangnya.

Pengalaman pribadi Jokowi tentang kemiskinan menurutnya adalah kunci untuk memahami pencapaiannya.

Tahun 2016, misalnya, pemerintah melakukan redistribusi tanah kepada masyarakat miskin melalui formalisasi kepemilikan tanah. Jokowi juga telah memperkenalkan Kartu Indonesia Sehat dan skema jaminan kesehatan nasional baru yang ditujukan untuk memberikan perawatan kesehatan menyeluruh.

"Demikian pula, pemerintah meluncurkan Kartu Indonesia Pintar untuk meningkatkan partisipasi sekolah dan mencapai pendidikan merata, dan menyelenggarakan program bantuan tunai untuk masyarakat miskin (Program Keluarga Harapan)," tambahnya.

Dia juga mengapresiasi Jokowi yang mereformasi undang-undang perburuhan, mungkin dalam hal ini yang dimaksud adalah Undang-undang Cipta Kerja, untuk memungkinkan perusahaan menghemat di masa-masa sulit.

Jokowi, lanjut Kishore Mahbubani juga berkomitmen untuk pembangunan infrastruktur. Selama masa kepemimpinannya, pemerintah telah menggencarkan pembangunan jalan di seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Papua.

Dia juga menyoroti jalur kereta api sepanjang 2.000 kilometer yang direncanakan dari Banda Aceh hingga Lampung. Proyek lain yang diusulkan termasuk kereta api sepanjang 1.000 kilometer di seluruh Sulawesi dan pengembangan jalur kereta api jarak jauh di Kalimantan.

"Sementara itu, jaringan kereta bawah tanah Jakarta berkembang pesat, mengurangi beberapa kemacetan lalu lintas terburuk di dunia," tuturnya.

Di Jawa, ujarnya, lebih dari 700 kilometer jalan tol termasuk jalan tol Trans-Jawa dibangun antara tahun 2015 dan 2018. Menurutnya itu suatu prestasi yang dulu dianggap mustahil, mengingat hanya 220 kilometer jalan yang dibangun di pulau Jawa pada dekade sebelumnya.

Reformasi yang dilakukan Jokowi dia nilai juga telah membantu meningkatkan peringkat Indonesia dalam indeks kemudahan berusaha yang dirilis Bank Dunia. Indonesia berhasil memperbaiki peringkat dari 120 pada tahun 2014 menjadi 73 pada tahun 2020.

"Saat ini, Indonesia seharusnya menikmati ledakan ekonomi, tetapi Covid-19 menghantam negara ini dengan keras. Namun, Jokowi bertindak lebih awal dan tegas untuk mengamankan 175 juta dosis vaksin untuk populasi 270 juta. Banyak dosis berasal dari China, dan Jokowi menerima pukulan Sinovac untuk menunjukkan kepercayaannya pada vaksin China dan mengirim sinyal politik yang lebih luas," paparnya.

Tetapi dia berpendapat bahwa Jokowi secara geopolitik bersikap bijaksana, karena telah menjaga hubungan baik dengan China dan Amerika Serikat (AS).

"Dia mengatakan kepada saya bahwa dia telah mendorong AS untuk berinvestasi lebih banyak di Indonesia, karena investasi China telah jauh lebih besar dalam beberapa tahun terakhir," ujar Kishore Mahbubani.

Dia menambahkan, Indonesia berpartisipasi dalam banyak proyek yang terkait dengan China Belt and Road, termasuk kereta api Jakarta-Bandung, zona ekonomi khusus pariwisata di Jawa, pembangkit listrik tenaga air Kayan di Kalimantan Utara, perluasan pelabuhan Kuala Tanjung di Sumatera, dan pengembangan Bandara Internasional Lembeh di Sulawesi.

Dari catatan, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat utang pemerintah tembus ke Rp 6.625 triliun atau setara 40,85% terhadap PDB. Itu adalah posisi hingga akhir Agustus 2021.

Puji Ahok
Profesor Kishore juga pernah memuji Basuki T Purnama (Ahok). Saat itu Ahok masih menjadi Gubernur DKI. Seorang profesor sekaligus dekan di sekolah itu menilai Ahok mirip Lee Kuan Yew, Perdana Menteri pertama Singapura. "Anda beruntung karena punya gubernur seperti Ahok. Dia seolah mengingatkan saya seperti Mister Lee Kwan Yew saat masih muda," kata dekan kebijakan publik sekolah itu, Profesor Kishore Mahbubani di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (24/2/2016).

Persamaan Ahok dengan Lee adalah gaya kepemimpinannya. Mereka sama-sama berorientasi praktik, bukan teori di atas kertas belaka. "Dia ingin mengerjakan sesuatu sampai selesai, bukan melihat rencana-rencana saja. Inilah yang dilakukan Lee Kwan Yew yang saya lihat ada di diri Ahok," kata Mahbubani.

Mahbubani menilai faktor kepemimpinan adalah hal penting dalam mengubah kota menjadi lebih baik. Dia mengakui memang bakal tidak mudah mengubah kota besar seperti Jakarta. Mahasiswa yang diajak ke Balai Kota DKI diharapkannya bisa terinspirasi oleh Ahok. "Kita punya berbagai riset tentang pembangunan kota, kualitas air, persoalan daya saing, tantangan sosial. Kita senang kalau bisa bekerja sama memberikan hasil riset itu. Nantinya pengajar kita bisa datang ke Jakarta untuk melakukan riset," tuturnya. (detikcom/detikfinance/a)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com