Putin Minta Dunia Cegah Runtuhnya Afghanistan Usai Dikuasai Taliban

Biden Sebut Evakuasi dari Afghanistan Tersulit Sepanjang Masa

191 view
Putin Minta Dunia Cegah Runtuhnya Afghanistan Usai Dikuasai Taliban
Foto: DW (News)
Presiden Rusia Vladimir Putin 
Moskow (SIB)
Presiden Rusia Vladimir Putin meminta komunitas global untuk mencegah ‘runtuhnya’ negara Afghanistan setelah dikuasai kelompok Taliban. "Gerakan Taliban menguasai hampir seluruh wilayah negara itu," kata Putin pada konferensi pers bersama Kanselir Jerman Angela Merkel di Kremlin. "Ini adalah kenyataan dan dari kenyataan inilah kita harus melanjutkan, mencegah runtuhnya negara Afghanistan," imbuhnya seperti diberitakan kantor berita AFP, Sabtu (21/8).

Putin dan Merkel mengatakan pembicaraan mengenai Afghanistan mendominasi selama kunjungan kerja terakhir pemimpin Jerman itu ke Rusia. Putin juga mengkritik ‘kebijakan tidak bertanggung jawab’ yang memaksakan ‘nilai-nilai luar’ di Afghanistan yang dilanda perang. "Anda tidak bisa memaksakan standar kehidupan politik dan perilaku dari luar kepada seseorang," cetus Putin.

Presiden Rusia itu juga menyoroti pentingnya mencegah ‘teroris’ memasuki negara-negara tetangga dari Afghanistan, termasuk dengan kedok pengungsi.

Moskow telah optimis tapi hati-hati tentang kepemimpinan baru di Kabul dan mencoba menjalin kontak dengan Taliban, dalam upaya untuk menghindari ketidakstabilan yang meluas ke negara-negara tetangga bekas Uni Soviet. Kremlin dalam beberapa tahun terakhir telah menjangkau Taliban - yang dilarang karena dianggap kelompok ekstremis di Rusia - dan menerima kedatangan perwakilannya di Moskow beberapa kali, terakhir bulan lalu.

Bekerja Sama
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan bahwa ada kemungkinan Inggris akan bekerja sama dengan Taliban jika perlu. "Yang ingin saya pastikan kepada orang-orang adalah, upaya politik dan diplomatik kita untuk menentukan solusi bagi Afghanistan, bekerja dengan Taliban, tentu saja jika diperlukan, akan terus berlanjut," ucap Boris Johnson, seperti dilansir dari AFP, Sabtu (20/8).

Johnson mengatakan, situasi di bandara Kabul, di mana banyak orang berkerumun mencari eksodus, menjadi sedikit lebih baik.

Pemerintah Inggris mengatakan, telah mengatakan evakuasi 1615 orang sejak Sabtu (14/8), termasuk 339 warga negara Inggris dan tanggungan mereka. Kemudian ada 320 staf kedutaan dan 402 warga Afghanistan.

Evakuasi Tersulit
Presiden Amerika Serikat Joe Biden buka suara mengenai sulitnya operasi evakuasi darurat dari Kabul, ibu kota Afghanistan yang kini dikuasai kelompok Taliban. Seperti diberitakan kantor berita AFP, Sabtu (21/8), Biden bahkan menyebut evakuasi ini sebagai salah satu operasi evakuasi udara paling sulit yang pernah ada. Namun, Biden menambahkan dia akan memobilisasi setiap sumber daya untuk memulangkan warga Amerika. "Ini adalah salah satu pengangkutan udara terbesar dan tersulit dalam sejarah," kata Biden dalam pidato yang disiarkan televisi dari Gedung Putih, menyoroti unsur-unsur berbahaya dalam mengkoordinasikan evakuasi massal saat dikepung oleh pasukan Taliban, yang mengambil alih ibu kota Afghanistan pada Minggu (15/8) lalu.

"Saya tidak bisa menjanjikan apa hasil akhirnya, atau bahwa itu akan tanpa risiko kerugian," katanya tentang kekacauan usai keluarnya AS dari Afghanistan setelah hampir 20 tahun perang dan pembangunan kembali. "Tetapi sebagai panglima tertinggi, saya dapat meyakinkan Anda bahwa saya akan memobilisasi setiap sumber daya yang diperlukan untuk melakukan evakuasi menyeluruh," ujar Biden. "Biar saya perjelas: Setiap orang Amerika yang ingin pulang, kami akan membawa Anda pulang," tegasnya.

Biden mengatakan pasukan AS telah menerbangkan 13.000 orang keluar dari Afghanistan sejak 14 Agustus, dan 18.000 sejak Juli, dengan ribuan lainnya dievakuasi dengan penerbangan sewaan pribadi yang difasilitasi oleh pemerintah AS.

Biden juga mengatakan pemerintahannya telah terus-menerus berhubungan dengan Taliban untuk mengkoordinasikan dan memfasilitasi evakuasi personel AS dengan aman.

Laporan terbaru mengenai evakuasi dari Kabul, militer AS di Afghanistan mengerahkan tiga helikopter untuk menjemput 169 warga AS yang tidak dapat mencapai gerbang bandara Kabul. Seperti diberitakan kantor berita AFP, Sabtu (21/8), ini terjadi saat para pejabat AS mengkonfirmasi operasi evakuasi dari Afghanistan sempat terhenti selama sekitar tujuh jam pada Jumat (20/8) waktu setempat, karena pangkalan penerima di Qatar sudah terlalu penuh sehingga tidak dapat menampung para pengungsi.

Itu membuat ribuan warga Afghanistan lainnya yang sudah diizinkan meninggalkan negara mereka ke Amerika Serikat harus menunggu di bandara Kabul. "Saat itu pagi-pagi sekali, dan itu berlangsung sekitar enam sampai tujuh jam," kata Mayor Jenderal Hank Taylor kepada wartawan, seraya menambahkan bahwa evakuasi kini telah kembali dilanjutkan.

Departemen Luar Negeri AS telah dikritik karena terlalu birokratis dan tidak memiliki cukup staf untuk memproses ribuan warga Afghanistan yang ingin pergi ke Amerika Serikat.

Taylor mengatakan pesawat AS telah menerbangkan sekitar 6.000 orang, termasuk beberapa ratus warga AS, dari Kabul dalam 24 jam hingga Jumat (20/8) pagi waktu setempat, sebelum kemudian sempat terhenti karena permasalahan di Qatar tersebut.

Penerbangan dari Kabul dilanjutkan kembali pada Jumat malam setelah operasi AS di Qatar mengatur perjalanan bagi banyak pengungsi ke pangkalan militer AS di Ramstein, Jerman.

Sederet Kekejaman Taliban
Taliban berhasil menguasai Afghanistan setelah Presiden Ashraf Ghani melarikan diri. Di awal kekuasaannya Taliban melakukan sejumlah tindakan keji. Kekejian pertama yang dilakukan Taliban adalah membunuh anggota keluarga jurnalis. Kekejian lainnya adalah membunuh eks ISIS hingga membunuh wanita yang keluar rumah tanpa burqa.

Berikut rangkuman kekejaman Taliban:

Bunuh Keluarga Jurnalis
Peristiwa pembunuhan anggota keluarga jurnalis itu terjadi saat Taliban sedang melakukan penggeledahan dari rumah ke rumah untuk mencoba menemukan jurnalis tersebut. Sang jurnalis diketahui saat ini bekerja di Jerman. Sementara itu, anggota keluarga lainnya dilaporkan berhasil melarikan diri. Direktur Jenderal kantor berita Deutch Welle, Peter Limbourg, mengecam keras aksi tersebut dan meminta pemerintah Jerman untuk mengambil tindakan.

"Pembunuhan kerabat dekat salah satu editor kami oleh Taliban kemarin sungguh tragis, dan membuktikan bahaya akut mengancam semua karyawan kami dan keluarga mereka di Afganistan. Jelas bahwa Taliban sudah melakukan serangan terorganisir memburu para jurnalis, baik di Kabul maupun di provinsi-provinsi lain. Kita kehabisan waktu!" kata dia seperti dilansir Deutsche Welle (DW), Jumat (20/8).

Dalam beberapa waktu terakhir, Taliban telah menggerebek setidaknya tiga rumah jurnalis DW. Selain itu, Nematullah Hemat dari stasiun televisi swasta Ghargasht TV diyakini telah diculik oleh Taliban, dan Toofan Omar, kepala stasiun radio swasta Paktia Ghag Radio, menurut pejabat pemerintah, diburu dan ditembak mati oleh kelompok Taliban.

Eksekusi Mati
Taliban juga dilaporkan telah mengeksekusi mati bekas kepala kelompok ISIS di Asia Selatan, Omar Khorasani. Khorasani selama setahun ini mendekam di penjara di Ibu Kota Afghanistan, Kabul. Menurut laporan Wall Street Journal dan The Week, Jumat (20/8), Khorasani, juga dikenal sebagai Mawlawi Ziya ul-Haq, dibawa dari penjara pemerintah Afghanistan dan dieksekusi mati.

Khorasani ditangkap oleh pasukan keamanan Afghanistan dalam satu operasi pada Mei 2020 lalu. Khorasani tadinya memimpin operasi kelompok ISIS di Asia Selatan, tetapi telah diganti pada saat penangkapannya. Menurut laporan-laporan media, Khorasani dibunuh di penjara Pul-e-Charkhi di Kabul. Sumber-sumber keluarganya menyebut bahwa Taliban telah membunuh dia. Khorasani telah dimakamkan di kampung halamannya di Kunar pada 17 Agustus lalu.

Buru Warga
Berdasarkan dokumen PBB, Taliban memburu warga Afghanistan yang pernah bekerja dengan pasukan Amerika Serikat dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Dokumen rahasia itu diterbitkan oleh Norwegian Centre for Global Analyses, yang memberikan informasi intelijen kepada PBB.

"Taliban menangkap, mengancam membunuh, menangkap anggota keluarga atau individu yang menjadi sasaran kecuali mereka menyerahkan diri kepada Taliban," tulis dokumen yang telah dilihat BBC.

Dokumen itu menyebutkan mereka yang menghadapi risiko adalah yang memiliki posisi di militer, kepolisian dan unit investigasi. "Taliban telah mengidentifikasi individu-individu sebelum mengambil alih semua kota-kota besar," tulis dokumen itu. Dokumen itu juga menyebutkan para milisi Taliban menyaring individu-individu dan mengizinkan evakuasi sebagian personel asing dari bandara Kabul, namun situasi di bandara masih tetap kacau.

Tangkap Gubernur
Kekejian selanjutnya yang dilakukan Taliban adalah menangkap Salima Mazari, salah satu dari sedikit gubernur perempuan di Afghanistan. Hingga kini, belum ada informasi terkait keberadaan Salima Mazari.

Dilansir dari Insider, Jumat (20/8), ditangkapnya Salima Mazari juga disampaikan jurnalis TV di Afghanistan, Nadia Momand. Melalui akun Twitter-nya, pada Rabu (18/8) lalu, Momand menyampaikan bahwa Taliban dilaporkan telah menangkap Salima Mazari. Momand pun menyerukan pembebasannya.

Dilansir India Today, Salima Mazari dilaporkan ditangkap usai Taliban menguasai seluruh negara dan kepemimpinan Afghanistan, serta Presiden Ashraf Ghani melarikan diri dari negara itu.

Salima Mazari (40), merupakan Gubernur Charkint di Afghanistan bagian utara, yang berpenduduk lebih dari 30 ribu orang. Dalam laporan The Guardian, Salima Mazari dikenal sebagai sosok yang merekrut dan melatih militan untuk memerangi Taliban sejak 2019.

Tidak Pakai Burqa
Seorang wanita Afghanistan dilaporkan telah dibunuh oleh kelompok Taliban. Pembunuhan terjadi setelah wanita itu kedapatan muncul di depan umum tanpa mengenakan burqa.

Sejumlah media asing, salah satunya Fox News dan Sky News melaporkan insiden itu. Laporan itu juga didukung oleh foto yang menunjukkan wanita itu bersimbah darah setelah dia ditembak mati di provinsi Takhar di timur laut Afghanistan.

Foto wanita tersebut dipublikasi Fox News pada Rabu (18/8) waktu setempat, hari ketika Taliban yang kembali menguasai Afghanistan, berjanji akan menghormati hak-hak kaum perempuan. Media tersebut melaporkan wanita itu dibunuh di Taloqan, provinsi Takhar, karena dia meninggalkan rumahnya tanpa mengenakan burqa. (AFP/detikcom/BBC/DWI/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com