RI Belum Siap Mitigasi Cegah Asteroid Jatuh


280 view
RI Belum Siap Mitigasi Cegah Asteroid Jatuh
Foto: iStockphoto/dzika_mrowka
Ilustrasi asteroid menuju Bumi.
Jakarta (SIB)
Peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Rhorom Priyatikanto menjelaskan saat ini Indonesia belum memiliki teknologi yang secara aktif untuk memitigasi jatuhnya asteroid di wilayah Indonesia.

Mitigasi benda-benda langit sejak dini diperlukan guna menyelamatkan umat manusia dari ancaman hantaman asteroid.

"Belum ada langkah mitigasi aktif yg secara mandiri dilakukan Indonesia" ujar peneliti LAPAN Rhorom Priyatikanto, Jumat (19/3).
Lebih lanjut ia menjelaskan misi pencegahan malapetaka asteroid bukan menjadi urusan satu negara saja. Namun kata dia hal ini menjadi kewajiban bersama dari seluruh negara.

Rhorom mengatakan ada misi yang kini tengah fokus dalam mitigasi asteroid yang berpotensi menghantam Bumi. Misi tersebut digagas oleh Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang dinamai Double Asteroid Redirection Test (DART).

Misi tersebut tengah dipersiapkan untuk mencegah tabrakan asteroid dengan Bumi. Targetnya, wahana tersebut akan menghampiri asteroid kembar Didyamos untuk berusaha membelokkan lintasan asteroid dengan cara menabrakkan diri.

"Ada misi DART yang sedang dipersiapkan. Targetnya, wahana tersebut akan menghampiri asteroid kembar Didymos bulan September 2022 dan berusaha membelokkan lintasan asteroid ini dengan cara menabrakkan diri," ujarnya.

Menurut Rhorom asteroid itu bukanlah jenis asteroid yang berpotensi bahaya bagi Bumi. Namun dia berkata asteroid ini dipilih untuk dilakukan uji teknologi.

Dikutip situs resmi NASA, DART merupakan uji teknologi yang digerakkan untuk mencegah dampak dari asteroid ke Bumi. Misi ini akan menjadi demonstrasi pertama dari teknik untuk mengubah gerakan asteroid di luar angkasa.

Dalam misi tersebut DART menggunakan pesawat ruang angkasa yang diterbangkan untuk menabrakkan diri ke target dengan kecepatan 6,6 kilometer per detik.

Pesawat tanpa awak itu dilengkapi dengan sistem otonom canggih yang disertai kamera on board dengan nama Draco.
Sebelumnya para astronom dunia sudah menciptakan skenario mitigasi bila asteroid berdiameter lebih dari 140 meter hendak menabrak Bumi.

Rhorom menjelaskan setidaknya dua kali tiap pekan terdapat asteroid menabrak atmosfer Bumi yang kemudian menjadi meteor. Meteor itu kebanyakan berukuran kecil, disebut rata-rata berdiameter 50 cm, dan jarang ada yang berukuran sangat besar.

Skenario mitigasi itu dia sebut meliputi pemantauan intensif hingga misi pembelokan lintasan benda langit tersebut. Sejumlah teknologi terkait mitigasi itu saat ini tengah diuji coba oleh lembaga antariksa, salah satunya Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA).

Menurut Rhorom masyarakat tidak perlu khawatir soal bahaya disebabkan meteor sebab pada umumnya berukuran relatif kecil dan besar kemungkinan habis terbakar di atmosfer sebelum mencapai permukaan bumi. Misalnya seperti yang terjadi di Pantai Pagimana, Kecamatan Pagimana, Kabupaten Binggai, Sulawesi Tengah pada Selasa (16/3).

Meski begitu disampaikan ada kejadian meteor berukuran sangat besar yang rata-rata terjadi sekali dalam 10 ribu tahun.
"Langkah mitigasi telah dirancang untuk kejadian yang rata-rata terjadi sekali dalam 10 ribu tahun," ujar Rhorom. (CNNI)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Tag:Asteroid
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com