RI Harus Bersyukur Miliki Pancasila Bagian Penting dari Resolusi Konflik

* Generasi Muda Perlu Dibekali Semangat Nilai Pancasila Sejak Sekolah Dasar

141 view
RI Harus Bersyukur Miliki Pancasila Bagian Penting dari Resolusi Konflik
Foto: MPR
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo dalam Peringatan Hari Kesaktian Pancasila
Jakarta (SIB)
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menekankan pentingnya memasukkan pendidikan Pancasila sebagai mata pelajaran wajib di sekolah hingga perguruan tinggi. Menurutnya, hal ini penting untuk memastikan ideologi bangsa tumbuh subur di hati para peserta didik.

Dalam Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, Bamsoet mengatakan, langkah tersebut juga diperlukan untuk mengakomodir keinginan anak-anak muda yang ternyata juga menginginkan kehadiran pendidikan Pancasila di dalam pendidikan formal.

"Sebagaimana terlihat dari hasil survei Indikator Indonesia yang dilakukan pada 4-10 Maret 2021 kepada 1.200 responden berusia 17-21 tahun. Terungkap bahwa 82,3 persen anak muda menilai perlunya pendidikan Pancasila masuk pelajaran sejak sekolah dasar. Keinginan ini harus direspons aktif oleh pemerintah, khususnya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Jumat (1/10).

Ketua DPR RI ke-20 sekaligus mantan Ketua Komisi III Bidang Hukum & Keamanan DPR RI ini menjelaskan setiap negara selalu mempunyai sejarah konflik dalam dinamika kehidupan kebangsaannya, termasuk Indonesia.

Untuk itu, ia menilai Indonesia harus bersyukur karena memiliki Pancasila yang selalu berperan sebagai bagian penting dari resolusi konflik. Menurutnya, Pancasila menyatukan seluruh elemen bangsa pada sebuah visi kebangsaan. Ia menambahkan, Pancasila juga hadir sebagai dasar negara, falsafah, dan pandangan hidup bangsa.

"Pancasila menekankan bahwa keberagaman yang kita miliki adalah fitrah kebangsaan yang tidak dapat diingkari dan pungkiri. Sejak kita mendeklarasikan diri sebagai sebuah negara kesatuan, yang hidup dalam kemajemukan budaya, suku, ras, dan agama, sejak saat itulah konsep kebhinnekaan telah menyatukan kita dalam satu ikatan kebangsaan," jelasnya.

Lebih lanjut, Bamsoet menekankan adanya ancaman terhadap nilai kebhinnekaan yang nyata. Ia menjelaskan sikap intoleransi pada keberagaman mewarnai setiap perjalanan kehidupan kebangsaan.

Misalnya, pada setiap penyelenggaraan kontestasi politik atau pemilu, politik identitas seringkali disalahgunakan sebagai alat perjuangan. Sehingga, menimbulkan polarisasi masyarakat baik sebelum, selama, bahkan sesudah pemilu dilaksanakan.

"Karenanya kita perlu membekali generasi muda dengan semangat nilai Pancasila, sejak mereka menempuh pendidikan di sekolah dasar. Sehingga sekolah juga menjadi institusi yang tidak hanya melahirkan anak bangsa yang memiliki kecerdasan intelektual saja, tetapi juga memiliki kecerdasan kebangsaan. Memiliki hati Indonesia, berjiwa Pancasila," tandasnya.

Sebagai informasi, kegiatan peringatan yang berlangsung di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta ini dipimpin oleh Presiden Joko Widodo sebagai Inspektur Upacara.

Hadir pula sejumlah pejabat yang berperan sebagai Pembaca Naskah UUD 1945 yakni Ketua MPR RI Bambang Soesatyo, Pembaca Teks Pancasila Ketua DPD RI La Nyalla Mattalitti, Pembaca Ikrar Ketua DPR RI Puan Maharani serta Pembaca Doa Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas. (detikcom/c)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com