RI Siapkan 440.000 Nakes dan 23.000 Vaksinator untuk Vaksinasi Corona

* IDI: 363 Petugas Kesehatan Meninggal

209 view
RI Siapkan 440.000 Nakes dan 23.000 Vaksinator untuk Vaksinasi Corona
Foto: Frank Gunn/The Canadian Press via AP
Ilustrasi Nakes sedang melakukan perawatan pasien.
Jakarta (SIB)
Upaya Pemerintah dalam menyiapkan vaksin COVID-19 terus digenjot. Selain mempersiapkan penyediaan vaksin COVID-19 dengan melewati tahapan-tahapan pengujian klinik, hingga dikeluarkannya izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) nanti, kesiapan tenaga kesehatan juga terus dilakukan.

Tercatat, sebanyak 440.000 tenaga kesehatan dan 23.000 vaksinator terus mempersiapkan diri untuk pelaksanaan vaksinasi COVID-19 hingga ke seluruh daerah. Sekretaris Jenderal Kemenkes Oscar Primadi MPH menyampaikan sampai dengan 5 Desember, sudah dilakukan pelatihan sebanyak 12.408 orang untuk 21 provinsi. Sementara workshop penyiapan bagi tenaga vaksinator ini telah dilangsungkan untuk 29.635 orang dari 34 provinsi.

"Artinya, semuanya berjalan sesuai dengan rencana kita dan insyaallah kesiapan-kesiapan itu kita jaga dari sisi jumlah, proporsional dari semua provinsi akan tercakup" ujarnya dikutip dari situs resmi Satgas COVID-19, Selasa (15/12).

Selain proses pemberian vaksinasi, upaya mengedukasi masyarakat sebelum program vaksinasi berjalan juga tidak kalah penting. Upaya edukasi ini harus sampai dengan merata ke daerah.

"Kita menginginkan bahwa masyarakat itu paham tentang pentingnya vaksinasi ini. Pemahaman kita tentang kehalalan juga sudah kita upayakan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Hal yang ketiga adalah, efektivitas vaksin tersebut juga harus dikomunikasikan dengan benar. Namun, yang tidak boleh ditinggalkan adalah mengkomunikasikan kepada masyarakat agar mematuhi dan
menjalankan protokol kesehatan dengan baik, itu adalah cara paling ampuh untuk melindungi masyarakat," ujar Oscar Primadi.

Adapun upaya melakukan vaksinasi secara bertahap, bukan tanpa tantangan. "Indonesia ini besar sekali, dari sisi keterjangkauan kita masih menemukan kendala geografis sebagai persoalan, sehingga tenaga kesehatan dan vaksinator kita kadang-kadang mempunyai sebuah usaha yang luar biasa untuk menjangkau daerah ini," kata Oscar Primadi.

Sementara itu, Juru Bicara Vaksin COVID-19 dr Reisa Asmoro Broto menyampaikan apresiasinya kepada tenaga kesehatan yang terus berjuang membantu masyarakat di masa pandemi ini. Ia mengingatkan agar seluruh lapisan masyarakat saling peduli dan saling dukung, guna mengatasi pandemi ini.

"Kita wujudkan dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan 3M (#memakaimasker, #mencucitangan, dan #menjagajarak). Dengan saling peduli mendukung bersama, kita bisa atasi pandemi ini," pungkasnya.

MENINGGAL
Terpisah, Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia ( IDI) kembali mengumumkan pembaruan data tenaga medis yang wafat akibat Covid-19. Hingga Selasa (15/12), IDI melaporkan sebanyak 363 petugas medis dan kesehatan meninggal akibat Covid-19.

"Dari Maret hingga pertengahan Desember 2020 ini, terdapat total 363 petugas medis dan kesehatan yang wafat akibat terinfeksi Covid, yang terdiri dari 202 dokter dan 15 dokter gigi, dan 146 perawat," bunyi keterangan rilis yang diterima, Selasa.

Adapun para dokter yang wafat tersebut terdiri dari 107 dokter umum (4 guru besar), dan 92 dokter spesialis (7 guru besar), serta 2 residen, dan 1 masih dalam verifikasi. Seluruhnya berasal dari 24 IDI Wilayah atau provinsi, dan 92 IDI cabang Kota/Kabupaten.

Berikut data wilayah para petugas medis dan kesehatan yang meninggal akibat Covid-19: Jawa Timur 41 dokter, 2 dokter gigi, dan 43 perawat; DKI Jakarta 31 dokter, 5 dokter gigi dan 21 perawat; Sumatera Utara 24 dokter dan 3 perawat; Jawa Barat 20 dokter, 4 dokter gigi, dan 19 perawat; Jawa Tengah 21 dokter dan 22 perawat; Sulawesi Selatan 7 dokter dan 3 perawat; Banten 7 dokter dan 2 perawat; Bali 6 dokter; DI Aceh 6 dokter dan 2 perawat; Kalimantan Timur 5 dokter dan 3 perawat, Riau 5 dokter DI Yogyakarta 6 dokter dan 2 perawat; Kalimantan Selatan 4 dokter, 1 dokter gigi, dan 6 perawat; Sumatera Selatan 4 dokter dan 5 perawat; Kepulauan Riau 3 dokter dan 2 perawat; Sulawesi Utara 3 dokter; Nusa Tenggara Barat 2 dokter dan 1 perawat; Sumatera Barat 1 dokter, 1 dokter gigi, dan 2 perawat; Kalimantan Tengah 1 dokter dan 2 perawat Lampung 1 dokter dan 1 perawat; Maluku Utara 1 dokter dan 1 perawat; Bengkulu 1 dokter; Sulawesi Tenggara 1 dokter dan 2 dokter gigi; Papua Barat 1 dokter Papua 2 perawat; Nusa Tenggara Timur 1 perawat; Kalimantan Barat 1 perawat. DPLN (Daerah Penugasan Luar Negeri) yaitu Kuwait 2 perawat.

Ketua Umum Tim Mitigasi Pengurus Besar IDI (PB IDI) Adib Khumaidi mengungkap penyebab adanya kenaikan jumlah kematian tenaga medis dan kesehatan.

Menurut dia, kenaikan ini disebabkan dari peningkatan jumlah penderita Covid-19 baik yang dirawat maupun yang orang tanpa gejala (OTG).

Selain itu, ia juga menyebut bahwa Pilkada Serentak 2020 juga menjadi potensi fluktuasi naiknya angka penularan Covid-19. "Kami mengimbau masyarakat dan kepala daerah serta pendukungnya untuk menghindari proses aktivitas yang melibatkan berkerumunnya masa. Dan bagi setiap orang untuk memeriksakan kesehatannya apabila terdapat gejala, dan melakukan testing meskipun juga tanpa gejala," kata Adib. (detikcom/Kps/a)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com