ROV Singapura Temukan Torpedo KRI Nanggala-402, TNI AL Buka Peluang Evakuasi

* TNI AL Tepis Isu Liar KRI Nanggala Diserang Kapal Asing

216 view
ROV Singapura Temukan Torpedo KRI Nanggala-402, TNI AL Buka Peluang Evakuasi
Rahmat Fathan/detikcom
Konferensi pers terkait perkembangan evakuasi KRI Nanggala-402 di Mabes AL, Cilangkap, Jaktim.
Jakarta (SIB)
TNI AL terus melakukan evakuasi KRI Nanggala-402 yang tenggelam di perairan utara Bali. Penemuan terbaru adalah torpedo kapal selam KRI Nanggala.

"Update yang terbaru kita sudah menemukan, mengangkat pakai ROV itu hydrophone KRI Nanggala, dan beberapa foto yang diambil, ditemukan torpedonya juga," ucap Asrena KSAL Laksamana Muda TNI, Muhammad Ali, di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (27/4).

Ali mengatakan sampai saat ini proses evakuasi masih berlanjut dengan bantuan Swift Rescue dari Singapura untuk proses pengangkatan. Beberapa bagian kecil kapal selam juga telah dievakuasi. Ali menyebut ROV hanya mampu mengangkat beban seberat 150 kg. Torpedo juga belum diangkat.

"Itu nanti akan di-updete terus dan sebisa mungkin kita akan angkat bagian-bagian kecil karena kemampuan ROV itu 150 kg. Tapi nanti kita koordinasikan lagi," kata dia.

Buka Peluang
TNI AL tengah mempersiapkan beragam skenario untuk melakukan proses pengangkatan kapal selam KRI Nanggala-402 yang tenggelam di perairan Bali. Metode pengangkatan kapal Kursk Rusia yang tenggelam pada 12 Agustus 2000 jadi pertimbangan.

Asrena KSAL Laksamana Muda Muhammad Ali menyebut setidaknya bermacam skenario tengah disiapkan untuk mengangkat KRI Nanggala-402. Sebab, kedalaman kapal yang karam di titik 838 meter dianggap jadi kesulitan tersendiri.

"Metode pengangkatan ini bermacam-macam, bergantung pada kedalaman posisi kapal itu berada di kedalaman posisi kapal itu di posisi berapa. Ini juga mempengaruhi faktor tingkat kesulitan pengangkatan kapal tersebut," ujar Ali.

Ali menyinggung insiden tenggelamnya kapal selam Rusia Kursk yang menewaskan 118 awak. Kapal selam buatan negara maju tersebut baru bisa diangkat ke permukaan setahun kemudian.

"Kesulitan Rusia mengangkat Kursk bagaimana dia mengangkat itu juga meminta bantuan dari luar. Selain asetnya sendiri, juga meminta bantuan dari luar," ucap Ali.

Dia lantas menyampaikan beberapa metode yang nanti dapat digunakan untuk mengangkat KRI Nanggala-402. Salah satu menggunakan balon udara.

Ali menilai skenario pengangkatan KRI Nanggala-402 juga bisa dilakukan seperti kapal selam Kursk milik Rusia. Yakni dengan dipotong menjadi bagian lebih kecil, lalu diangkat secara satu per satu dengan alat pengait.

Tepis Isu Liar
Isu liar KRI Nanggala-402 tenggelam karena diserang kapal asing beredar. TNI Angkatan Laut (AL) dengan tegas menepis isu liar tersebut.

"Kapal asing lewat ini saya rasa berlebihan, kemudian (dugaan) ditembak oleh kapsel asing lah," ujar Ali.

Ali menjelaskan, saat KRI Nanggala-402 hilang kontak di Perairan Utara Bali, banyak kapal yang juga berada di lokasi tersebut. Kapal-kapal itu, lanjutnya, dilengkapi sonar yang bisa mendeteksi gelombang suara bawah air.

"Jadi gini, pada saat kejadian itu ada banyak kapal atas air di sana dan kapal atas itu mempunyai sonar. Kalau ada ledakan pasti terdengar oleh sonar. Bahkan oleh telinga mata pun bisa terlihat di bawah air itu akan naik ke atas sedikit," jelas Ali.

Ali memastikan, sonar di kapal-kapal yang saat itu ikut latihan bersama KRI Nanggala-402 pasti langsung mendeteksi apabila terdengar ledakan di bawah laut. Karena itu, menurutnya isu liar bahwa kapal asing menyerang KRI Nanggala-402 berlebihan.

"Jadi tidak ada ledakan. Tidak ada ledakan pada saat kejadian. Itu dari pengamatan kapal-kapal yang ikut latihan bersama KRI Nanggala kemarin," katanya.

Lebih lanjut, Ali juga menjelaskan perihal escape suit yang ditemukan MV Swift Rescue milik Singapura. Dia mengungkapkan, escape suit itu dimiliki oleh masing-masing awak kapal. Menurut Ali, baju penyelamatan itu bisa keluar lantaran KRI Nanggala-402 saat itu melampaui batas kedalaman yang bisa ditahannya.

"Karena kapal selam 209/1300 ini bajanya mampu crash deep-nya itu hanya 500 meter. Sedangkan dia udah berada di kedalaman 838 meter. Bisa dibayangkan sendiri, kira-kira bagaimana. Jadi mungkin ada keretakan jadi ada beberapa bagian dari yang di dalam kapal itu keluar," tutur Ali. (detikcom/c)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com