Rumah Interniran Bung Karno di Berastagi, Masih Utuh Berusia 302 Tahun

Kok Belum Jadi Cagar Budaya Nasional?

327 view
Rumah Interniran Bung Karno di Berastagi, Masih Utuh Berusia 302 Tahun
(Foto: Dok/Jonthan Tarigan)
CAGAR-BUNG KARNO: Kordinator Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Karo Ir Jonathan Ikuten Tarigan (kanan) bersama Kapolsekta Berastagi Kompol Aron TTM Siahaan SH (kiri) dan warga peduli sosial-budaya Karo Pantra N Tarigan (tengah), foto bareng di depan Patung Bung Karno di halaman rumah pengasingan dan tawanan (Interniran) Bung Karno di Desa Laugumba, Kecamatan Berastagi, belum lama ini, sebelum TACB terbentuk. 
Medan (SIB)
Rumah pengasingan dan tahanan (interniran) Presiden pertama RI Soekarno (Bung Karno) yang terletak di Desa Lau Gumba Kecamatan Berastagi Kabupaten Karo, dinilai sangat layak dan sudah saatnya diajukan untuk ditetapkan sebagai objek cagar budaya tingkat nasional.

Kordinator Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Daerah Karo, Ir Jonathan Ikuten Tarigan, menyebutkan Bupati Karo Cory S Sebayang telah mengajukan resmi kepada Ditjen Kebudayaan Kemdikbud-Ristek RI pada 10 September 2021 lalu, agar rumah interniran Bung Karno itu segera ditetapkan sebagai cagar budaya nasional. Surat itu sendiri sebagai tindak lanjut surat Ditjenbud pada 28 Juli 2021 tentang petunjuk dan penetapan objek cagar budaya nasional.

"Ada tiga faktor atau alasan menjadikan rumah internir Bung Karno itu untuk langsung sebagai objek cagar budaya nasional, bukan lagi sebatas cagar budaya tingkat daerah kabupaten (Karo) atau tingkat provinsi (Sumut). Selama ini memang dipertanyakan, bangunan bernilai sejarah itu kok belum jadi cagar budaya nasional," ujar Jonathan kepada pers di Medan, Rabu (14/12).

Ketiga alasan itu adalah: (1). Rumah internir Bung Karno di Berastagi adalah bukti otentik salah satu babak sejarah perjuangan Kemerdeaan RI, khususnya ketika pasukan koloni Belanda mengasingkan Presiden Soekarno bersama Perdana Menteri Sutan Syahrir dan Menteri Luar Negeri H Agus Salim untuk ditawan selama 10 hari di Berastagi di masa Agresi-II Belanda pada Desember 1949. (2). Rumah internir Bung Karno itu berupa bangunan kuno peninggalan Belanda yang telah berusia 312 tahun (dibangun tahun 1719) yang perlu dilestarikan sebagai objek warisan sejarah. (3) Rumah internir Bung Karno adalah simbol sosio-emosional warga Karo sehingga mendaulat Bung Karno sebagai Bapak Rakyat Sirulo, artinya Tokoh Kemakmuran Rakyat.

Untuk poin atau alasan yang ketiga, ujar putra salah satu veteran Karo (Hemat Tarigan) itu, Soekarno selama berada di Tanahkaro (Berastagi), walau tak sampai dua pekan, telah begitu dekat dan melekat di hati rakyat Karo, terutama karena ajaran Marhaenis-nya identik dengan nilai-nilai kultur masyarakat Karo seperti 'arih ersada' atau gotong royong, 'aku kap kam, kam kap aku' sebagai simbol solidaritas dan kultur 'erkeleng ate' sebagai nilai pluralisme. Itulah sebabnya ada pasukan yang disebut 'Laskar Karo' yang siaga dan setia mengawal Soekarno ketika akan diungsikan lagi ke Parapat sebelum akhirnya ke Sumatera Barat (Bukittinggi).

Rumah kuno eks milik seorang perwira Belanda yang sudah berusia 302 tahun itu masih tampak utuh dan kokoh.

Konstruksinya bergaya Eropa walau terbuat dari kayu seluas 10 x 20 meter pada lahan dua hektare. Ciri Eropa tampak pada satu unit gazebo (mirip gardu) di samping rumah, taman dan kolam kecil, interior dan perabotan kayu jati kuno seperti lemari, meja makan dan tempat tidur (rosbang). Di depan rumah berdinding putih dan atap seng warna merah itu, ada patung Bung Karno sedang duduk, yang terbuat dari perunggu setinggi tujuh meter.

Bersama rekannya sesama Tim TACB Karo: Robby Bastanta Ginting, Dr Pulumun Ginting, Erma Julita MSi dan Karmila Kaban MSi, Jonathan mengisahkan, ketika Bupati Karo sekarang (Cory Sebayang) masih menjabat wakil bupati, sudah diusulkan agar rumah interniran Bung Karno bisa difungsikan sebagai museum sejarah atau sanggar budaya. Selain agar terawat dan berfungsi sebagai objek wisata dan sarana edukasi sejarah plus kreasi seni budaya, juga supaya terpublisir luas sehingga bisa cepat menjadi cagar budaya nasional.

"Tapi akhirnya kita apresiasi Bupati Karo sekarang telah memenuhi aspirasi publik dengan membuat pengajuan resmi ke pusat (Ditenbud). Selama ini tampak kosong dan menganggur sebagai Mess Pemprovsu, karena pejabat Pemprov yang bertugas ke Karo bukannya menginap di situ, melainkan di hotel yang bayarannya mahal," katanya serius. (A5/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com