Mantan Bos KGB Ungkap Sosok Putin yang Berbahaya, Bisa Nekat soal Nuklir

Rusia Akui Gunakan Rudal Hipersonik Hantam Ukraina

Presiden Ukraina Ajak Rusia Dialog

257 view
Rusia Akui Gunakan Rudal Hipersonik Hantam Ukraina
(Foto: AP)
HADIRI KONSER: Presiden Vladimir Putin berpidato di hadapan puluhan ribu warga Rusia ketika menghadiri konser yang digelar di Moskow, Jumat (18/3) waktu setempat. Konser itu digelar untuk merayakan 8 tahun aneksasi Crimea menjadi bagian Rusia. Mantan petinggi Badan Intelijen Uni Soviet (KGB) Oleg Kalugin, mengungkap karakter Vladimir Putin, yang menurutnya licik dan berbahaya. 

Moskow (SIB)

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan pihaknya telah menggunakan rudal hipersonik dengan daya ledak skala besar yang menghantam Ukraina. Kremlin mengklaim penggunaan rudal hipersonik bertujuan menghancurkan depot besar bawah tanah yang menjadi gudang rudal dan amunisi pesawat di wilayah Ivano-Frankivsk, Ukraina. Serangan itu terjadi pada 18 Maret kemarin.


Dilansir dari Reuters,Sabtu (19/3) kementerian juga mengklaim pihaknya telah menghancurkan radio militer Ukraina dan pusat pengintaian di dekat kota pelabuhan Odessa menggunakan sistem rudal pantai. Namun, Reuters belum bisa memverifikasi pernyataan kementerian tersebut.


Sebagai informasi, pasukan rusia telah melakukan invasi ke Ukraina sejak 24 Februari lalu. Pasukan Kremlin terus menggempur pertahanan Ukraina sementara pasukan Ukraina dari militer hingga milisi membalas dengan memberikan perlawanan sengit. Sejumlah kota hingga fasilitas publik pun terdampak. Ribuan warga sipil hingga militer tewas akibat gempuran tersebut.


Sebelumnya, Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan bahwa Rusia mengakui menggunakan rudal bom termobarik untuk menyerang Ukraina. Senjata yang dipakai merupakan peluncur roket dengan sistem TOS-1A dengan daya hancur tinggi. Pihak Kementerian Pertahanan Inggris belum mengatakan lokasi dan waktu penggunaan rudal termobarik oleh Rusia.


Seorang Juru Bicara ketika dihubungi The Independent pun tidak bisa memberi jawaban.


Rudal termobarik juga dikenal sebagai bom vakum. Penggunaannya membutuhkan pasokan oksigen yang cukup sehingga tidak bisa dipakai di dalam air, di dalam ruangan tertutup dan di kondisi cuaca buruk.


Amerika Serikat pernah menggunakan bom termobarik pada perang Vietnam. Rusia juga memakainya ketika menginvasi Afghanistan. "Kementerian Pertahanan Rusia telah mengonfirmasi penggunaan sistem senjata TOS-1A di Ukraina. TOS-1A merupakan roket termobarik, menciptakan efek bakar dan ledakan," tulis Kementerian Pertahanan Inggris di akun Twitter mereka.


Bisa Nekat

Sementara itu, mantan petinggi Badan Intelijen Uni Soviet (KGB) Oleg Kalugin, mengungkap karakter Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang menurutnya licik dan berbahaya. Kalugin juga menegaskan Putin bisa nekat soal senjata nuklir. Kalugin mengungkap karakter Putin untuk memperingatkan negara Barat agar menanggapi ancaman bom nuklir presiden yang juga merupakan mantan agen KGB itu secara serius.


Mengawali ceritanya, pria berusia 88 tahun itu mengungkap bahwa ia menghabiskan beberapa dekade menjadi kepala mata-mata Rusia yang bertugas mengumpulkan informasi tentang Amerika Serikat (AS).


Kalugin mengaku kala itu ia menjadi jenderal termuda dalam sejarah KGB yang terkenal kejam. Pada satu waktu, ia bertemu dan membimbing Putin muda bersama ratusan anggota KGB lainnya. Ia kemudian menggambarkan kebangkitan Putin dari "bukan siapa-siapa" menjadi bawahan "penjahat perang."


Namun, karier Putin perlahan merangkak. Ia naik pangkat di jajaran KGB. Ia ingat betul Putin pernah membuatnya terjerumus masalah. Kala itu, Kalugin sedang menyamar menjadi jurnalis sembari kuliah di Universitas Columbia, New York, melalui program pertukaran mahasiswa Fulbright.


Selama operasi tersebut, ia melakukan spionase dan memiliki operasi yang cukup berpengaruh sebagai koresponden Radio Moskow untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun kemudian, ia malah mengkritik KGB dan pemerintah Soviet. Putin kemudian menuduh Kalugin menjadi mata-mata untuk AS. Tudingan itu hampir membuatnya ditangkap dan dibunuh. Ia akhirnya menemukan tempat "berlindung" di AS.


"Putin akan mencoba melakukan semua yang dia bisa untuk tetap berkuasa dan, tentu saja, menyingkirkan semua saingan potensialnya," ujarnya kepada News Nation Now, seperti dilansir dari CNN, Sabtu (19/3).


Melihat gelagat Putin yang sudah terbaca dari dulu ini, Kalugin memperingatkan negara Barat untuk mewaspadai gerak-gerik pemimpin Negeri Beruang Merah tersebut ketika menginvasi Ukraina.


"Putin sebenarnya yang memulai invasi ke Ukraina. Itu jelas dan itu bodoh. Ukraina adalah bagian dari Kekaisaran Rusia masa lampau, dan memperlakukan Ukraina sebagai musuh mutlak bertentangan dengan semua logika, sejarah, dan segalanya," katanya.


Kaluguin tidak berharap Putin bakal menyerang negara Eropa lainnya. Namun menurutnya, Putin merupakan sosok yang tidak dapat diprediksi sehingga ancaman serangan nuklir tidak bisa dianggap angin lalu oleh negara barat. "Itulah cara Putin untuk mengancam. Dunia Barat tidak boleh mengabaikan ancaman ini," kata dia, seraya menambahkan bahwa Putin "akan melakukan segalanya hanya untuk menghentikan keruntuhan sistem yang dimilikinya."


Ia juga menilai yang dilakukan Presiden AS, Joe Biden, dalam merespons perang Rusia versus Ukraina sudah tepat. Ia menambahkan, yang seharusnya juga dilakukan Barat adalah mengisolasi Moskow dari seluruh dunia. Kalugin lantas memperingatkan bahwa bagaimanapun motivasi utama Putin adalah kekuatan, dan dia tidak gampang menyerah. "Dia [Putin] telah membuat pilihannya sendiri untuk tetap berkuasa selama dia bisa. Dia akan hidup selamanya kecuali sesuatu terjadi padanya. Aku tidak iri padanya. Dia pria yang kesepian," katanya.


Ajak Dialog

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky kembali menyerukan melakukan pembicaraan dengan Rusia. Dilansir dari kantor berita AFP, Sabtu (19/3), pemimpin Ukraina itu mengatakan, pembicaraan tersebut adalah satu-satunya kesempatan bagi Rusia untuk meminimalkan kerusakan yang dilakukan dengan kesalahan mereka sendiri setelah menginvasi Ukraina.


Kedua belah pihak saat ini mengadakan serangkaian negosiasi tetapi sejauh ini, seperti putaran-putaran sebelumnya, pembicaraan tersebut hanya menghasilkan sedikit kemajuan. Pembicaraan di tingkat presiden belum pernah terlaksana. "Ini adalah waktunya untuk bertemu, berbicara, waktu untuk memperbarui integritas teritorial dan keadilan untuk Ukraina," kata Zelensky dalam video yang diposting ke Facebook. "Jika tidak, kerugian Rusia tambah besar, sehingga beberapa generasi tidak akan pulih," tukasnya.


Zelensky juga mengatakan bahwa pihak berwenang Ukraina telah berhasil menyelamatkan lebih dari 9.000 orang dari kota pelabuhan Mariupol, yang dikepung oleh pasukan Rusia.


Ditambahkannya, masih belum ada informasi pasti tentang jumlah orang yang tewas ketika satu teater di kota Mariupol yang dijadikan tempat perlindungan warga sipil, digempur Rusia. Zelensky mengatakan, sekira 180.000 warga Ukraina telah diselamatkan melalui koridor kemanusiaan di seluruh negeri. Beberapa putaran negosiasi antara Kiev dan Moskow telah digelar, baik secara langsung maupun secara virtual sejak invasi Rusia ke Ukraina dimulai pada 24 Februari.


Rangkaian pembicaraan terakhir, yang keempat, dibuka pada hari Senin lalu. Rusia, yang telah melakukan operasi militer di Ukraina sejak 24 Februari, telah meminta agar tetangganya itu tidak pernah bergabung dengan aliansi militer NATO, serta menuntut "demiliterisasi" dan "denazifikasi". (Rtr/AFP/detikcom/CNNI/c)


Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com