Rusia Tangkap 1.300 Warga Gegara Protes Wamil Buat Perang di Ukraina

* Warga Rusia Sikat Habis Tiket Pesawat ke Luar Negeri

346 view
Rusia Tangkap 1.300 Warga Gegara Protes Wamil Buat Perang di Ukraina
(Foto: AFP)
TANGKAP DEMONSTRAN:Polisi menangkap seorang demonstran yang menggelar aksi menentang wajib militer, Kamis (22/9) di Moskow, Rusia. Presiden Vladimir Putin memerintahkan wajib militer untuk berperang di Ukraina. 

Moskow (SIB)

Aparat Rusia menangkap lebih dari 1.300 warga yang menggelar demonstrasi menentang perintah wajib militer (wamil) di tengah perang dengan Ukraina.


Kelompok pemantau independen OVD-Info melaporkan bahwa lebih dari seribu warga itu ditangkap saat demonstrasi terjadi di berbagai kota di Rusia.


Berdasarkan keterangan yang dikutip CNN, Kamis (22/9) OVD-Info menyatakan bahwa dari keseluruhan angka itu, setidaknya 520 di antaranya ditahan di Moskow, sementara 524 lainnya dibekuk di St Petersburg.


Demonstrasi besar-besaran ini pecah setelah Presiden Vladimir Putin mengumumkan perintah mobilisasi parsial pada Rabu (21/9).


Sebagaimana dilansir The Washington Post, mobilisasi pada umumnya berarti perintah wajib militer, atau pemanggilan warga biasa untuk mengikuti kegiatan militer.


Kali ini, Putin hanya memerintahkan mobilisasi parsial. Artinya, hanya warga dari kelompok tertentu yang akan direkrut untuk wajib militer.


Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu, menyatakan bahwa target wajib militer kali ini adalah warga yang sudah memiliki kemampuan militer.


Menurutnya, Rusia bakal merekrut 300 ribu tentara cadangan dalam wajib militer ini. Kini, proses perekrutan sedang berlangsung.


Para warga memprotes kebijakan ini. Gerakan pemuda pro-demokrasi di Rusia, Spring, menganggap perintah tersebut melanggar hak asasi manusia.


"Vladimir Putin baru saja mengumumkan mobilisasi parsial di Rusia. Artinya, ribuan pria Rusia, ayah-ayah kami, saudara-saudara, dan suami kami akan dilempar ke penggiling daging, yaitu perang," demikian pernyataan Spring yang dikutip Al Jazeera.







Sikat Habis Tiket Pesawat

Sementara itu, tiket penerbangan satu arah dari Rusia terjual habis dengan cepat pada Rabu (21/9) waktu setempat, setelah Presiden Vladimir Putin memerintahkan mobilisasi parsial untuk perang di Ukraina.


Penerbangan keluar Rusia ludes disikat warga meski harganya meroket tinggi.


Dilansir dari Reuters, Kamis (22/9) perintah Putin diumumkan pada pagi hari dan menimbulkan kekhawatiran beberapa pria yang usianya masuk syarat bertempur tidak diizinkan meninggalkan Rusia.


Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengatakan, panggilan untuk mengumpulkan 300.000 prajurit tambahan itu akan terbatas pada orang-orang dengan pengalaman tentara profesional. Pelajar dan wajib militer tidak akan dipanggil.


Kremlin menolak berkomentar apakah warga yang memenuhi syarat mobilisasi parsial akan dilarang keluar Rusia, dan meminta orang-orang untuk bersabar saat perintah ini diklarifikasi.


Sementara itu, data Google Trends menunjukkan lonjakan pencarian untuk Aviasales, situs pemesanan penerbangan paling populer di Rusia.


Penerbangan langsung dari Moskow ke Istanbul di Turki dan Yerevan di Armenia, dua tujuan yang memungkinkan orang Rusia masuk tanpa visa, terjual habis pada Rabu (21/9), menurut data Aviasales.


Penerbangan dari Moskow ke Istanbul melalui Turkish Airlines ludes terjual hingga Minggu (25/9).


Beberapa rute dengan transit termasuk dari Moskow ke Tbilisi (ibu kota Georgia) juga habis, sementara tiket termurah ke Dubai harganya di atas 300.000 rubel (Rp 73,33 juta)--sekira lima kali upah bulanan rata-rata Rusia.


Tarif sekali jalan ke Turki melonjak hingga hampir 70.000 rubel (Rp 17,18 juta), dibandingkan sekira 22.000 rubel (Rp 5,39 juta) seminggu yang lalu, menurut data Google Flights.


Kepala badan pariwisata Rusia mengatakan, sejauh ini tidak ada pembatasan yang diberlakukan untuk bepergian ke luar negeri.


Sumber industri pariwisata juga mengatakan kepada Reuters bahwa ada lonjakan permintaan tiket pesawat dari Rusia ke negara-negara bebas visa.


"Tadinya ada tiket sekali jalan pada pagi hari seharga 200.000 rubel (Rp 48,92 juta) hingga 300.000 rubel, tetapi sekarang tidak ada lagi," kata sumber itu.


"Itu permintaan panik dari orang-orang, yang takut mereka tidak akan bisa meninggalkan negara itu sesudahnya." Adapun Aeroflot selaku maskapai unggulan Rusia berkata bahwa mereka tidak membatasi penjualan tiket. (Rtr/kompas.com/CNNI/f)






Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com