SKB 3 Menteri Dinilai Sebagai Jawaban Masalah Intoleransi di Dunia Pendidikan


304 view
SKB 3 Menteri Dinilai Sebagai Jawaban Masalah Intoleransi di Dunia Pendidikan
Bisnis/Dea Andriyawan
Seorang siwa tengah mengerjakan tugas sekolah dari rumah di Bandung. 
Medan (SIB)
Salah satu dosen di Sumut Gunawan Benjamin menilai, Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri pada akhirnya mampu menjawab sikap intoleransi dari banyak pihak, khususnya yang terjadi di dunia pendidikan.

Kebijakan ini, katanya, sangat produktif dalam menunjang aktivitas belajar mengajar. Sebelumnya memang ada sejumlah larangan dan kewajiban, baik larangan menggunakan jilbab ataupun keharusan memakai jilbab, untuk keyakinan atau agama yang berbeda.

“Pada dasarnya saya juga seorang tenaga pengajar (dosen). Alhamdulillah saya mengajar di banyak kampus yang beragam latar belakang agamanya. Mulai dari kelas belajar yang didominasi mahasiswa/I beragama Islam, Budha dan Kristen. Saya melihat ada kebebasan di situ dalam berpakaian, khususnya dalam menggunakan atribut agama tertentu,” kata Gunawan kepada SIB, Kamis (4/2) menyikapi SKB 3 Menteri yang mengatur Sekolah Negeri Tidak Boleh Mewajibkan Seragam Khusus Agama.

Dia tidak menemukan adanya gangguan selama proses belajar, karena semuanya saling bertoleransi. Yang penting semua murid mengikuti aturan yang disepakati bersama antara kampus dan mahasiswa. Pada umumnya sekolah lebih banyak mengatur tidak boleh menggunakan celana atau rok pendek, atau baju yang harus berkerah.

“Yang penting setiap manusia harus ditanamkan pentingnya beragama dengan cara yang benar. Kenyamanan dalam proses belajar mengajar itu sangat menunjang siswa dalam menyerap pelajaran. Saat belajar mengajar, semuanya harus terlepas dari sikap-sikap tidak terpuji seperti isu SARA yang bisa saja memicu terjadinya bullying pada siswa,” ucap Gunawan.

Menurutnya, di dalam satu kampus berideologi Islam, tetap ada mahasiswa yang beragama lain kuliah di sana. Demikian juga kampus lainnya yang berideologi lain, tetap ada mahasiswa yang beragama lain belajar di dalamnya. Nilai-nilai ideologi yang dikembangkan di kampus itu tetap berjalan, tetapi ilmu pengetahuan yang diajarkan tidak lantas terganggu oleh perbedaan ideologi atau agama tersebut.

Tidak meratanya kualitas pendidikan lanjutnya, menjadi pemicu masyarakat untuk mengejar cita-citanya. Misal, suatu kampus yang berideologi Kristen di Medan, punya keunggulan dalam ilmu kedokteran. Menjadi incaran masyarakat belatar belakang agama apapun untuk menitipkan anaknya belajar di sana.

“Tujuannya bukan untuk mengubah keimanan seseorang saat masuk ke kampus tersebut. Tetapi menggali ilmu pengetahuan. Saya juga punya pengalaman lain saat beberapa mahasiswa yang non muslim belajar ekonomi di kampus yang berideologi Islam. Jadi inilah Indonesia, kemajemukan itu selalu ada. Jadi toleransi itu penting agar negara ini benar-benar mampu merealisasikan amanah UU untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” katanya. (M01/f)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com