Saksi dari Kemendagri Dicecar KPK soal Bantu Muluskan Usulan Dana PEN


290 view
Saksi dari Kemendagri Dicecar KPK soal Bantu Muluskan Usulan Dana PEN
(Andhika Prasetia/detikcom)
Ilustrasi KPK.

Jakarta (SIB)

KPK memeriksa ASN Ditjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri, Ochtavian Runia Pelealu, sebagai saksi kasus dugaan suap mantan Dirjen Keuda Ardian Noervianto. KPK mencecar Ochtavian terkait dugaan Ardian membantu memuluskan usulan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).


"Ochtavian Runia Pelealu hadir dan didalami pengetahuan saksi antara lain terkait dengan dugaan aliran penerimaan uang oleh Tersangka MAN (M Ardian Noervianto) karena secara bertahap memperlancar proses usulan dana PEN untuk Kabupaten Kolaka Timur," ujar Plt Jubir KPK Ali Fikri kepada wartawan, Kamis (21/4).


Selain itu, KPK telah memeriksa Erdian Dharmaputra selaku Kepala Divisi Pembiayaan Publik PT Sarana Multi Infrastruktur atau PT SMI sebagai saksi di kasus dugaan Ardian. Erdian dicecar terkait dugaan campur tangan Ardian selaku Dirjen dalam setiap usulan dana PEN.


Dalam perkara ini, KPK menetapkan M Ardian bersama Andi Merya Nur selaku Bupati Kolaka Timur periode 2021-2026 dan Kadis Lingkungan Hidup Muna Laode M Syukur Akbar sebagai tersangka. Perkara ini bermula ketika Andi Merya meminta bantuan M Ardian soal usulan pinjaman dana PEN senilai Rp 350 miliar, tetapi Ardian diduga meminta imbalan sebanyak 3 persen dari nilai tersebut, yakni sekitar Rp 10,5 miliar. Suap diduga terealisasi hanya sekitar Rp 2 miliar.


"Sekitar Mei 2021, Tersangka LMSA (Laode M Syukur Akbar) mempertemukan tersangka AMN (Andi Merya Nur) dengan Tersangka MAN (M Ardian Noervianto) di kantor Kemendagri, Jakarta, dan Tersangka AMN mengajukan permohonan pinjaman dana PEN sebesar Rp 350 miliar dan meminta agar tersangka MAN mengawal dan mendukung proses pengajuannya. Tersangka AMN memenuhi keinginan tersangka MAN lalu mengirimkan uang sebagai tahapan awal sejumlah Rp 2 miliar ke rekening bank Tersangka LMSA," ucap Deputi Penindakan KPK Karyoto, Kamis (27/1).


"Dari uang sejumlah Rp 2 miliar tersebut, diduga dilakukan pembagian di mana Tersangka MAN menerima dalam bentuk mata uang dolar Singapura sebesar SGD 131.000 setara dengan Rp 1,5 miliar yang diberikan langsung di rumah kediaman pribadinya di Jakarta dan Tersangka LMSA menerima sebesar Rp 500 juta," imbuhnya.


Ardian diduga mengeksekusi permohonan pinjaman dana PEN itu. Permohonan itu disahkan dengan paraf Ardian yang ada di draf final surat Menteri Dalam Negeri ke Menteri Keuangan.


Andi Merya ditetapkan sebagai pemberi suap dan disangkakan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Sedangkan Ardian dan Laode dijerat Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 UU Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.(detikcom/c)


Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com