Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir:

Salat Idul Adha di Rumah Tak Mengurang-ngurangi Agama

* Wapres Juga Minta Warga Salat Idul Adha di Rumah, Potong Hewan Kurban di RPH

195 view
Salat Idul Adha di Rumah Tak Mengurang-ngurangi Agama
Foto Dok
Haedar Nashir
Jakarta (SIB)
Masyarakat diminta tidak melakukan salat Idul Adha di mesjid maupun lapangan. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan hal ini tidak berati mengurang-ngurangi agama.

"Meniadakan salat Idul Adha di lapangan maupun di masjid karena adanya ancaman Covid-19 tidaklah berarti mengurang-ngurangi agama," ujar Haedar dalam akun Twitter resminya @HaedarNs, Sabtu (17/7).

Dia mengatakan menghindari terjadinya kerumunan merupakan upaya memutus penyebaran Covid-19. Juga sebagai upaya menghindarkan orang lain terpapar Covid-19.

"Menghindari berkumpul dalam jumlah banyak adalah upaya untuk memutus rantai pandemi Covid-19 dan berarti pula upaya menghindarkan orang banyak dari paparan virus Covid-19 yang sangat mengancam jiwa ini," kata Haedar.

"Semoga Allah senantiasa melindungi umat Islam dan bangsa Indonesia dari segala bahaya serta selalu dalam limpahan rahmat dan karunia-Nya," sambungnya.

Sebelumnya, Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah mengeluarkan surat edaran di masa pandemi virus Corona. Muhammadiyah mengimbau agar pelaksanaan salat berjemaah dan salat Idul Adha di masjid dan fasilitas umum ditiadakan sementara.

Surat edaran tersebut bernomor 05/EDR/I.0/E/2021 tentang Imbauan Perhatian, Kewaspadaan, dan Penanganan Covid-19, serta Persiapan Menghadapi Idul Adha 1442 H/2021 M. Surat tersebut ditandatangani oleh Ketua Umum Haedar Nashir dan Sekretaris Agung Danarto pada 2 Juli 2021. Ada 9 poin imbauan yang dikeluarkan, di antaranya soal salat berjemaah di masjid dan pelaksanaan salat Idul Adha.

Pada poin 4, Muhammadiyah mengimbau ada pembatasan kegiatan di masjid dan musala. Tindakan itu disebut sebagai bentuk kehati-hatian.

Sebagai langkah pencegahan, sebagai bagian dari kehati-hatian mencegah kemudaratan yang lebih besar akibat tingginya kasus positif Covid-19, masjid dan musala untuk sementara waktu agar dinonaktifkan terlebih dahulu dari segala aktivitas yang melibatkan jemaah," tulis edaran Muhammadiyah tersebut seperti dilihat, Jumat (2/7).

Ibadah di masjid yang dilaksanakan berjemaah hendaknya dilaksanakan di rumah. Kemudian, ada perubahan pada kalimat yang diucapkan saat azan di masjid.

"Segala ibadah, baik yang sunah maupun fardu yang melibatkan jemaah hendaknya dilaksanakan di rumah. Azan sebagai penanda masuknya waktu salat tepat dikumandangkan pada setiap awal waktu salat wajib dengan mengganti kalimat 'hayya alash-shalah,' dengan 'sallu fi rihalikum,' atau lainnya sesuai dengan tuntutan syariat," katanya.

Salat di Rumah
Sementara itu, Wapres Ma'ruf Amin juga meminta seluruh masyarakat melaksanakan ibadah salat Idul Adha di rumah saja.

Hal ini disampaikan Ma'ruf dalam keterangan pers yang diterima pada Minggu (18/7). Ma'ruf meminta masyarakat, khususnya di Jawa dan Bali yang berada di wilayah zona merah, melaksanakan salat Idul Adha di rumah masing-masing dan memotong hewan kurban di rumah pemotongan hewan (RPH).

"Berjemaah itu hukumnya sunah, tetapi menjaga diri dari wabah Covid-19 hukumnya wajib, (sehingga) hal yang wajib harusnya didahulukan daripada yang sunah," kata Ma'ruf Amin.

Ma'ruf menegaskan kebijakan PPKM Darurat yang diambil pemerintah sama sekali bukan untuk menghalangi umat Islam beribadah berjemaah di masjid, tetapi semata-mata untuk melindungi masyarakat dari bahaya penularan Covid-19. Untuk itu, Maa'ruf mengajak para ulama bersama-sama pemerintah meningkatkan peran dalam upaya menanggulangi pandemi Covid-19 karena melindungi umat, di samping kewajiban pemerintah, adalah kewajiban para ulama.

"Hal ini merupakan tanggungjawab kita, sebagai ulama yang memang memiliki tugas untuk itu," tutur Wapres.

Dijadwalkan Ma'ruf Amin akan bertemu dengan Menag Yaqut Cholil Qoumas dan pimpinan MUI serta pimpinan ormas lain. Pertemuan ini untuk memastikan bahwa warga mentaati aturan pemerintah. (detikcom/c)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com