Sambil Terisak, Ferdy Sambo Minta Maaf ke Polisi Jaksel: Saya yang Salah


435 view
Sambil Terisak, Ferdy Sambo Minta Maaf ke Polisi Jaksel: Saya yang Salah
(Screenshoot TV Pool)
Ferdy Sambo Minta Maaf ke Polisi Polres Jaksel 

Jakarta (SIB)

Mantan Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo menyampaikan permohonan maaf kepada para polisi Polres Jakarta Selatan karena turut dihukum dalam kasus penanganan kematian Brigadir Yosua Hutabarat.


Dengan suara bergetar, Sambo mengatakan, para polisi Polres Jaksel itu tidak bersalah.


"Terkait dengan pernyataan kenapa saya harus mengorbankan para penyidik, saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada adik-adik saya, karena saya sudah memberikan keterangan yang tidak benar di awal," kata Sambo saat sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (29/11).


"Bahwa di sidang kode etik, di semua proses pemeriksaan, saya sudah sampaikan adik-adik ini tidak salah, saya yang salah, kenapa mereka juga harus dihukum, karena tidak tahu peristiwa ini," ujar Sambo.


Sekadar diketahui, para polisi dari Polres Jakarta Selatan kemarin bersaksi di sidang lanjutan kasus pembunuhan Brigadir Yosua dengan terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi.


Salah satu polisi yang bersaksi adalah mantan Kasat Reskrim Polres Jaksel AKBP Ridwan Soplanit dan mantan Kanit I Satreskrim Polres Jaksel AKP Rifaizal Samual.


Sambo mengaku, menyesal karena kasus ini membuat para polisi itu terkena sanksi mutasi, bahkan ada yang didemosi.


Padahal, kata Sambo, saat pemeriksaan di Komisi Kode Etik, dirinya sudah sering mengatakan para polisi itu tidak bersalah.


"Jadi sekali lagi saya atas nama pribadi dan keluarga menyampaikan permohonan maaf kepada adik-adik saya. Saya sangat menyesal, saya sudah meminta maaf dan saya sudah sampaikan di Komisi Kode Etik pada saat diperiksa Propam," ungkapnya.


Tak hanya itu, saat di sidang etik, Sambo mengaku akan bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Namun, kata Sambo, para polisi Polres Jaksel itu tetap dimutasi dan dikenai sanksi demosi.


"Saya akan bertanggung jawab saya sudah sampaikan tapi mereka tetap diproses, dimutasi dan demosi sehingga setiap kali berhubungan dengan penyidik mereka adik-adik, saya sekali lagi mohon maaf," kata Sambo.


Dalam sidang ini, Ferdy Sambo dan Putri didakwa melakukan pembunuhan berencana terhadap Brigadir Yosua Hutabarat. Perbuatan itu dilakukan bersama-sama dengan Richard Eliezer, Ricky Rizal Wibowo, dan Kuat Ma'ruf.


Ferdy Sambo dan Putri diadili dengan Pasal 340 KUHP subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.


Ferdy Sambo juga didakwa merintangi penyidikan dalam kasus pembunuhan Yosua.


Ferdy Sambo didakwa dengan Undang-Undang No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan KUHP.


Akui

Sementara itu, Putri Candrawathi angkat bicara soal pernyataan mantan Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan, AKBP Ridwan Soplanit, terkait berita acara interogasi (BAI). Putri mengatakan, dirinya ikut menandatangani BAI tersebut.


"Sedikit tanggapan untuk bapak Ridwan Soplanit bahwa saya menandatangani BAI pada 11 Juli. Untuk yang lain saya tidak mengetahui," kata Putri saat menanggapi kesaksian Ridwan Soplanit di PN Jaksel, Selasa (29/11).


Dalam kesempatan tersebut, Putri juga meminta maaf kepada seluruh jajaran Polri, termasuk saksi yang hadir, usai terseret dalam rekayasa kasus pembunuhan Brigadir J. Dia menyadari hal tersebut menghambat mereka dalam berkarir di Polri.


"Dan sedikit saya menyampaikan kepada anggota Polri, saya dan keluarga memohon maaf kepada bapak-bapak anggota Polri yang hadir hari ini sebagai saksi. Mereka harus menghadapi semua ini karena harus mendapatkan hambatan dalam berkarir," ujarnya.


Sebelumnya, mantan Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan, AKBP Ridwan Soplanit, mengatakan BAI Putri Candrawathi dalam kasus penembakan Brigadir N Yosua Hutabarat dibuat dari catatan yang diserahkan mantan Wakaden B Biro Paminal Propam Polri, AKBP Arif Rahman Arifin.


Hakim mempertanyakan apakah BAI itu wajar seperti itu atau tidak.


Ridwan mengatakan, BAI terkait dugaan pelecehan seksual yang dilakukan Brigadir Yosua itu dibuat dari lembaran yang diberikan AKBP Arif Rahman.


Jadi, Putri Candrawathi tidak diinterogasi langsung oleh penyidik, melainkan dia menuangkan kesaksiannya di sebuah kertas dan ditulis tangan. Ridwan mengatakan Putri tidak diperiksa langsung dengan alasan trauma.


Ridwan menyebut, lembaran kesaksian Putri itu dibawa oleh AKBP Arif Rahman. Arif saat itu disebut langsung mendatangi Polres Jakarta Selatan.


"Saya panggil Kanit PPA saya soal pelecehan, penyidik saya, untuk berbicara terkait kronologi yang dibawa oleh AKBP Arif.


Saya lapor ke Kapolres, ada AKBP Arif untuk buat BAI karena PC saat itu belum bisa ke Polres karena alasannya trauma, akhirnya didatangi AKBP Arif terkait lembar itu," kata Ridwan saat bersaksi di PN Jaksel.


Hakim ketua Wahyu Imam Santoso lantas bertanya apakah Putri tidak dihadirkan. Hakim Wahyu juga bertanya apakah itu lazim.


"Tanpa kehadiran PC? Wajar Nggak? Itu tidak lazim tidak sesuai SOP kamu nolak?" tanya Hakim.


"Tidak wajar, Yang Mulia. Saya keberatan, saya sampaikan bahwa saat itu kronologi ini kita sampaikan bentuk pertanyaan apakah mewakili semua, tapi saat itu saya langsung lapor ke Kapolres saya untuk datang ke tempat itu (TKP)," jawab Ridwan.


Meskipun dinilai tidak wajar, Ridwan mengatakan BAI tersebut tetap dibuat karena AKBP Arif mengatakan itu adalah perintah langsung dari Ferdy Sambo.


Ridwan menuturkan perintah tersebut tidak bisa ditolak karena Ferdy Sambo saat itu masih menjabat Kadiv Propam.


"Saat itu Ferdy Sambo sebagai Kadiv Propam. Kami berhadapan dengan Kadiv Propam, kita melihat di TKP perangkat Propam sudah ada di permasalahan ini sehingga memang yang kita bayangkan kita dalam pengawasan," ucapnya.(detikcom/c)





Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com