Sejumlah Saluran Televisi Utama AS Boikot Pidato Perpisahan Trump

* Pelantikan Biden Munculkan Optimisme Baru di Eropa

198 view
Foto: AP/ Alex Brandon
LAMBAIKAN TANGAN: Presiden Donald Trump melambaikan tangan ketika hendak naik helikopter menuju Pangkalan Angkatan Udara Andrews, Md, Rabu (20/1). Trump sedang dalam perjalanan ke Resor Mar-a-Lago Florida miliknya.
Washington DC (SIB)
Donald Trump mengunggah rekaman video perpisahan, berbagai capaian pemerintahannya. Beberapa pengguna media sosial mengatakan video itu diambil dari televisi berita utama.

"Hanya Newsmax menyiarkan pidato perpisahan Trump," ujar seorang reporter Washington Post, Jeremy Barr, di Twitter, dikutip dari The Independent, Rabu (20/1).

Tak lama setelah dia menulis di Twitter, Fox News mengumumkan akan ditayangkan secara penuh pidato perpisahan Trump.

"Semua media arus utama AS memilih tetap menampilkan Presiden-Terpilih Joe Biden turun dari pesawat saat Donald Trump merekam pidato terakhirnya sebagai Presiden dirilis," kata pengguna Twitter yang lain.

Tak lama setelah video tersebut diunggah ke YouTube, Jim Acosta dari CNN mencuit tautan ke video tersebut.

Beberapa pengguna kesal karena penyiar memilih untuk menyiarkan rekaman Biden tiba di Washington DC untuk pelantikannya pidato Trump.

"Tidak satu pun jaringan TV arus utama yang menayangkannya, bahkan FOX, atau FBN, saya nonton! CSPAN 3 sebenarnya memiliki keberanian untuk menyiarkan pidato perpisahan Clinton pada saat yang sama Presiden Trump memberikan pidato perpisahannya sendiri!" tulis salah satu pengguna.

The Hill, Politico, The Guardian, CBS News, ABC News, The New York Times, CNN, dan The Independent, di antara yang lainnyaz melaporkan pidato perpisahan setelah video itu diunggah.

Dalam pidatonya Trump menyampaikan harapan "semoga beruntung" kepada pemerintahan yang akan datang, tapi dikritik karena ogah sebut nama Biden.

"Meskipun ada beberapa referensi tentang pemerintahan baru, Trump tidak menyebut nama Biden dalam video perpisahannya. Itu sekitar 20 menit," tulis koresponden Gedung Putih CNN, Kaitlan Collins.

Direktur grup SITE Intelligence, Rita Katz mengatakan, ahli teori konspirasi QAnon dan loyalis Trump mengklaim video itu palsu.

"Seluruh gerakan yang otaknya telah dicuci sekarang menanggapi pidato perpisahan Trump tadi adalah palsu, bahwa dia masih"Menolak Kalah "dan terus mengajak 'perang saudara,'" tulisnya.

"Beberapa menganggap pidato itu sendiri sebagai persetujuan untuk melanjutkan gerakan 'kebangkitan' mereka."

Yang lain mengkritik penggunaan pidato Trump yang telah direkam sebelumnya, bukan langsung, mengklaim itu adalah indikasi yang jelas bahwa dia sangat terpukul atas kekalahannya.

"Tidak ada yang bisa menggambarkan kesesakan dan keterasingan hari-hari terakhir Trump sebagai Presiden dengan lebih ringkas daripada merekam pidato perpisahannya dan menyebarkannya di YouTube. Akhir yang menyedihkan dan pedih untuk pria yang secara historis remeh," tulis anggota pemerintahan Barack Obama, Tommy Vietor.

Bernada Damai dan Menantang
Pada Selasa (19/1) menjadi hari terakhir Donald Trump menjabat penuh sebagai presiden Amerika Serikat ( AS), sebelum Joe Biden dilantik pada Rabu (20/1).

Presiden ke-45 AS itu menyampaikan pidato perpisahan dari Gedung Putih pada malam sebelum hari pelantikan Joe Biden.

Saat diblokir dari akses akun media sosial pribadinya, Trump memberikan nada damai tetapi menantang dalam video yang dirilis melalui akun media sosial resmi pemerintah. "Kami telah melakukan apa yang harus kami lakukan di sini, dan lebih banyak lagi," kata Trump seperti dilansir BBC pada Selasa (19/1).

"Saya mengambil pertempuran yang sulit, pertarungan yang paling berat, pilihan yang paling sulit, karena itulah yang Anda pilihkan untuk saya lakukan," ucapnya.

Kemudian, ia memperingatkan bahwa "bahaya terbesar" sekarang di hadapan negara ini yaitu "kehilangan kepercayaan pada kebesaran nasional kita".

Merujuk pada kerusuhan di Capitol AS pada 6 Januari, dia berkata, "Semua orang Amerika merasa ngeri dengan serangan di Gedung Capitol... Itu tidak pernah bisa ditoleransi." Trump mengakui bahwa pemerintahan baru akan menjabat, tetapi ia berkata, "Saya ingin Anda tahu bahwa gerakan yang kami mulai baru saja dimulai."

Tinggalkan Gedung Putih
Donald Trump meningalkan Gedung Putih, Rabu (20/1) pagi waktu Washington DC, memastikan tak mengikuti proses pelantikan Joe Biden sebagai presiden Amerika Serikat ke-46 pada siang harinya.

Dia menaiki helikopter Marine One yang terakhir kalinya untuk meninggalkan Gedung Putih. Sebelum masuk ke heli, Trump berbalik dan mengepalkan tangannya lalu melambai ke khalayak.

“Ini merupakan kehormatan besar, kehormatan seumur hidup. Orang-orang terhebat di dunia, rumah terbesar di dunia," kata Trump kepada wartawan, sebelum menuju Marine One, di South Lawn, Gedung Putih, dikutip dari Associated Press.

Trump menjadi presiden AS pertama dalam sejarah modern yang tak mengikuti pelantikan penggantinya.

Sesuai tradisi, Trump seharusnya mengikuti acara simbolisasi penyerahan kekuasaan menandai proses yang damai, termasuk mengundang Biden untuk berkunjung.

Marine One yang membawa Trump terbang menuju Pangkalan Andrews tempat parkirnya Air Force One. Di sana Trump akan mengikuti prosesi perpisahan dengan para kru.

Karpet merah ditempatkan di landasan agar Trump bisa berjalan saat dia naik pesawat. Empat meriam Angkatan Darat AS akan menembakkan 21 kali sebagai penghormatan kepada presiden.

Optimisme Baru
Pelantikan Joe Biden tidak hanya membawa babak baru bagi Amerika, tetapi bagi dunia. Baik bagi sekutu maupun musuh, hubungan baru dengan negara adidaya dunia itu sudah mulai terbentuk.

Di sebagian besar Eropa, ada perasaan optimis."Setelah Joe Biden terpilih, kita bisa mendengar tarikan napas lega bersama melalui koridor kekuasaan Eropa," kata Rem Korteweg, analis kebijakan luar negeri di Clingendael Institute di Belanda seperti dilansir VOA, Rabu (20/1).

“Agenda iklim, kebijakan perdagangan dunia, institusi multilateral, dan keamanan Eropa menjadi agenda utama para pemimpin Eropa, ketika berbicara dengan Joe Biden. Ia pendukung sangat kuat atas hubungan keamanan transatlantik dan pendukung setia NATO," imbuhnya.

Perasaan yang menenangkan di Eropa setelah empat tahun bergejolak dalam hubungan transatlantik sewaktu Presiden Donald Trump berada di pucuk pimpinan Amerika. Namun, mungkin ada rintangan besar di depan, yaitu China.

Awal bulan ini, pada prinsipnya Uni Eropa menyetujui kesepakatan investasi dengan Beijing, meskipun ada kekhawatiran baik di Eropa dan AS atas praktik-praktik perdagangan dan pelanggaran HAM oleh China. (Merdeka.com/Kompas.com/Okz/iNews.id/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com