Sengketa Lahan di Puncak 2000 Siosar Memanas, Massa Hancurkan Pagar di Areal Pertanian Masyarakat


422 view
Sengketa Lahan di Puncak 2000 Siosar Memanas, Massa Hancurkan Pagar di Areal Pertanian Masyarakat
(Foto Dok/Prada)
ANGKUT : Massa yang menghancurkan pagar di areal pertanian masyarakat di Puncak 2000 Siosar, Desa Kaeinambun, Kecamatan Tigapanah Kabupaten Karo mengangkut kawat berduri dan bambu ke dalam truk, Jumat (27/8). 
Medan (SIB)
Kasus sengketa lahan di Puncak 2000 Siosar, Desa Kacinambun, Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Karo semakin memanas. Puluhan orang yang dikordinir pria berinisial DS menghancurkan pagar areal pertanian masyarakat, kemudian mengangkutnya dengan truk, Jumat (27/8/2021).

Selain itu, plank yang didirikan warga bertuliskan, "Dilarang masuk !, tanah ini milik keluarga BG Munthe dengan alas hak akta jual beli (AJB) No142/AJB/9/1989, yang dikeluarkan Camat Tigapanah Drs Salomo Ginting" selaku PPAT juga dihancurkan dan diganti plank yang bertuliskan "Tanah ini milik PT BUK sesuai dengan HGU No1/1997".

Ahli waris almarhum BG Munthe, Prada Ginting yang mengetahui kejadian tersebut kepada wartawan, Sabtu (28/8) di Medan mengatakan, sangat menyayangkan aksi tersebut. Ia mengakui sedang berperkara dengan PT BUK terkait kepemilikan lahan di Puncak 2000.

"Kami memang sedang berperkara dengan PT BUK, saat ini sedang dalam proses banding di PT TUN (Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara)," ujar Prada.

Menurut Prada, dalam sengketa tersebut, Bupati Karo juga sudah menerbitkan Surat Nomor: 503/1526/DPMPTSP/2021, pada 30 Juli 2021 yang ditujukan kepada Direktur PT BUK agar menghentikan seluruh kegiatannya di Puncak 2000, sampai ada keputusan pengadilan berkekuatan hukum tetap.

"Kita berharap kepada aparat kepolisian mengusut tuntas kasus perusakan pagar yang dilakukan massa tersebut, karena telah mengabaikan aturan hukum serta menerapkan penggunaan hukum rimba di negara Indonesia dan sangat bertentangan dengan hukum," ujar Prada Ginting sembari mengajak semua pihak untuk menghormati proses hukum yang sedang berjalan di PT TUN, terkait gugatan masyarakat untuk membatalkan HGU No1/1997.

Sementara itu, menurut keterangan petani di Puncak 2000 Siosar, Arman Ginting dan Andelta Peranginangin, ketika mereka tiba di Puncak 2000 pada Jumat (27/8) sekitar pukul 12.00 WIB melihat pagar yang terbuat dari kawat duri dan tiang bambu serta kayu itu sudah dihancurkan dan sedang dinaikkan ke atas truk.

Andelta sempat protes terhadap massa agar pagar jangan dihancuri dan dibawa. Tapi pelaku perusakan menantang petani untuk mengadu kepada aparat kepolisian.

"Saya DS yang melakukan perusakan ini. Kalau saudara keberatan silahkan buat laporan ke Polres Karo," ujar Andelta menirukan ucapan DS.

Akhirnya Andelta dan Prada Ginting mengumpulkan bukti-bukti fisik, foto dan video atas terjadinya peristiwa perusakan dan pencurian pagar tersebut. Untuk selanjutnya mengadukan masalah itu ke Polres Karo, didampingi pengacaranya Imanuel Elihu Tarigan SH.

"Kami sudah membuat laporan ke Polres Tanah Karo dengan bukti lapor SPTLP/B/732/VIII/2021/SPKT/Polres Tanah Karo/Polda Sumatera Utara dan berharap kepada Polres Karo dan Polda Sumut secepatnya mengusut kebrutalan para preman terhadap rakyat petani tersebut," ujar Prada dan Andelta. (A4/d)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com