Sidney Jones: Aksi Teror di Surabaya Indikasi Melemahnya Kelompok Ekstremis

* Benny P Mamoto: Indonesia Dianggap Berhasil Tangani Teroris

397 view
Jakarta (SIB) -Peneliti terorisme internasional Sidney Jones menilai aksi teror yang marak terjadi merupakan indikasi melemahnya kelompok ekstremis di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya pengaruh kelompok tersebut.

"Yang terjadi di Surabaya menurut saya bukan sebagai indikasi kekuatan ekstremis tapi justru indikasi melemah. Kalau kita lihat pelaksanaan di daerah lain justru pada saat suatu kelompok mulai menurun pangaruhnya, mereka cari taktik yang spektakuler untuk muncul di depan umum," kata Jones dalam diskusi di Hotel Ashley, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Selasa (22/5).

Sidney menyebut alasan lain yang membuat jaringan teroris melemah yakni menurunnya rekrutmen. Selain itu, persaingan antarkelompok juga memicu aksi teror di daerah lain.

"Saya kira yang menarik adalah kelompok yang ikut serang Mapolda Riau. Mereka bukan JAD, mereka ikut setelah melihat di Surabaya, karena ada semacam persaingan jika satu kelompok melakukan aksi, kelompok lain ingin aksi lebih besar," ungkapnya.

Menurutnya, kelompok teroris di Indonesia sebagian besar punya kontak dengan jaringan di Suriah. Dia mencontohkan pelaku bom bunuh diri di Surabaya berkaitan dengan ISIS.

"Yang cukup menarik hampir semua kelompok ini punya kontak di Suriah, kalau kita lihat yang di Surabaya, yang jadi guru keluarga bom bunuh diri, punya keluarga di Suriah dan sangat dekat dengan salah satu jurnalis, namanya Ustad Gana, masih hidup dan mungkin masih berkomunikasi dengan ISIS," lanjutnya.
Dia juga mengingatkan, yang harus diwaspadai untuk mencegah aksi teror bukanlah warga Indonesia yang pulang dari Suriah. Sebab anggota jaringan yang belum pernah ke timur tengah justru lebih bahaya.

"Lebih bahaya adalah orang lokal yang tidak pernah injak kaki di Suriah dan menganggap bahwa daulah Islamaiyah adalah yang terpenting. Kalau orang yang sudah bergabung dengan ISIS mereka sudah melihat kesulitan, susah melihat kemiskinan atau korupsi. Tetapi yang tidak pernah ikut, merekalah yang punya semangat paling kuat," pungkasnya.

 Diprediksi Tak akan Terulang
Sidney Jones juga memprediksi tak akan ada lagi aksi teror bom yang dilakukan satu keluarga seperti di Surabaya. Sebab, tindakan tersebut membuat banyak orang syok.

"Tidak ada keluarga lagi dari kelompok ini. Asumsi kami, kita tidak akan melihat keluarga lain terlibat. Ini tidak akan terjadi ke depan karena orang-orang begitu syok," kata Jones.

Namun dia menyebut adanya perubahan pola yang dilakukan teroris, khususnya kelompok pro-ISIS. Menurutnya, perempuan bakal semakin diandalkan dalam melakukan serangan bom.

"Jadi memang ada evolusi dan sulit kembali ke masa lalu. Perempuan akan main suatu peranan penting di masa depan," ujarnya.

Menurut Jones, salah satu alasannya adalah motivasi pribadi pelaku. Selain itu, penampilan perempuan, menurutnya, jarang dicurigai sebagai pelaku teror.

"Perempuan mulai seperti didorong lebih aktif lagi karena motivasi pribadi dan keluarga. Kemudian laki-laki melihat perempuan sebagai orang yang tidak akan dicurigai," pungkasnya. 

Berhasil Tangani Terorisme
Sementara itu pakar dari Sekolah Kajian Strategic Global Irjen (Purn) Benny P Mamoto menilai penanganan terorisme di Indonesia berhasil. Alasannya, proses penanganan dilakukan secara terbuka.

"Polri dengan mengedepankan penegakan hukum, oleh dunia, artinya negara lain yang juga menangani terorisme, dianggap berhasil karena terbuka. Sidang dilakukan terbuka. Di Singapura itu tertutup, di Malaysia tertutup," kata Benny dalam diskusi  yang sama.

Selain itu, menurut Benny, penanganan lain yang membedakan adalah pelibatan lembaga lain di luar kepolisian. Di Indonesia, sejumlah kementerian dilibatkan dalam langkah pencegahan.

"Kemudian berbagai upaya dilakukan. Sebagai contoh, dari Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama, Kementerian Sosial," imbuhnya.
Dia menambahkan, proses deradikalisasi yang dilakukan Polri juga lewat cara halus. Mereka mengubah cara pandang pelaku teror tanpa menghilangkan ideologi mereka.

"Jadi kita harus rebut hatinya dan jalin hubungan yang baik. Jadi kami tidak mengubah ideologi. Kita cuma menggeser, jangan menggunakan kekerasan. Kita mengedepankan proses deradikalisasi sejak awal. Jadi nggak menunggu di lapas dulu selain mengedepankan penindakan hukum," pungkas Benny. (detikcom/c)
Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com