Taliban Bukan Role Model


138 view
Taliban Bukan Role Model
Foto Ant/Aprillio Akbar
RAPAT: Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar (kiri) mengikuti rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/9). Rapat tersebut mem-bahas evaluasi kinerja, penindakan dan pengungkapan kasus serta kebijakan, strategi dan program BNPT.
Jakarta (SIB)
Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar bicara soal Taliban menguasai Afghanistan. BNPT menilai jangan sampai Taliban menjadi role model atau contoh masyarakat.

"Konstelasi geopolitik keamanan global hari ini berubah tentunya apa yang kita lihat memang sesuatu yang tidak diduga sebelumnya karena hari ini Taliban mendapat kesempatan kembali untuk berkuasa. Tetapi kami melihat jangan sampai kembalinya Taliban ke tampuk pemerintahan ini menjadikan sebagai role model bagi masyarakat," kata Komjen Boy Rafli dalam rapat dengar pendapat di Komisi III DPR RI, Rabu (15/9).

"Yang kami maksud adalah aksi-aksi kekerasannya," imbuhnya.

Boy Rafli mengatakan Indonesia memiliki jati diri tersendiri yang berbeda dengan Taliban. Indonesia memiliki Pancasila hingga Bhinneka Tunggal Ika.

"Jadi tentu kita sebagai bangsa Indonesia sudah memiliki jati diri dan bentuk tersendiri, kita telah memiliki konstitusi, ideologi negara Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, atau bapak-bapak menyebut sebagai 4 pilar," ujarnya.

Perjuangan di dalam negeri diharapkan tak mencontoh Taliban yang menggunakan cara kekerasan, bahkan mengangkat senjata. Menurut Boy Rafli, cara tersebut bukan contoh yang layak.

"Tetapi tentu dengan kekayaan yang kita miliki tersebut dari nilai-nilai yang kita miliki maka jangan sampai salah kita memilih ala perjuangan seperti Taliban yang menggunakan kekerasan, menggunakan senjata, menjadi semacam sesuatu yang layak kita contoh," ucapnya.

Selain itu, Boy Rafli berharap kondisi Afghanistan dapat berjalan dengan damai. Boy Rafli ingin kekerasan tak terjadi kepada perempuan dan anak-anak di Afghanistan.

"Kami hanya mengimbau agar untuk kita tidak terpancing dengan kondisi seperti ini dan tetaplah kita setia dengan jati diri kita," imbuhnya.

Bergeser
Boy Rafli Amar juga mengungkapkan adanya pergeseran dukungan kelompok garis keras di dalam negeri dari ISIS ke Taliban. Kelompok garis keras ini sebelumnya mendukung ISIS, tapi kini ada pergeseran sejak Taliban berkuasa di Afghanistan.

Analisis Boy Rafli ini berdasarkan laporan dari intelijen bahwa ada pergeseran dukungan. Padahal, menurut Boy, ISIS dan Taliban tak sejalan di Afghanistan.

"Berkaitan dengan isu Taliban, oleh karena itu, kami melihat relasinya ini kalau kita lihat, kita deteksi dari, sementara itu sebenarnya ini masih laporan intelijen, kalau kita lihat kelompok-kelompok garis keras kita yang pernah terjaring terorisme, ini kayaknya lagi ini Pak, dukung ISIS atau dukung Taliban, padahal Taliban dengan ISIS berkelahi di sana," kata Boy.

Boy menjelaskan bahwa pergeseran dukungan kelompok garis keras ini juga dilihat BNPT. Boy menilai pergeseran dukungan ini tak terlepas dari sejarah masa lalu sejumlah pelaku teror.

"Jadi mereka kami lihat ada yang kita anggap mereka sebelumnya kelompok ISIS tapi kok rasanya mereka jadi lebih dukung Taliban, kenapa kami lihat? Karena mereka sebenarnya juga ada pihak-pihak memprovokasi memberangkatkan yang mereka katakan mujahid karena punya sejarah tahun '80-an sekian, seperti katakan Ali Imron, Imam Samudera, Hambali, itu kan mereka lahir di Afghanistan," ujar Boy.

Kelompok garis keras ini, menurut penilaian Boy, ingin mengulang sejarah hubungan antara gerakan terorisme dan Afghanistan. BNPT bersama sejumlah kementerian dan lembaga pun mengantisipasi laporan ini.

"Jadi mereka ingin mengulang kembali rasanya era-era seperti itu, tapi kami melihat sebelumnya mereka sebenernya pendukung-pendukung ISIS. Nah ini kondisi hari ini, tentu kita bersama dengan seluruh kementerian/lembaga kita berupaya agar melakukan upaya kontra yang tepat terhadap ini," imbuhnya.

WNI Gabung ISIS
Dalam rapat tersebut, Boy Rafli Amar mengungkapkan data terkini jumlah warga negara Indonesia (WNI) yang terjebak propaganda ISIS. Lebih dari 300 WNI tak diketahui keberadaannya di Suriah.

"Foreign terorist fighter ini berkaitan dengan WNI yang terjebak propaganda ISIS dan mereka telah berangkat bersama istri dan anak. Kalau kami lihat pendataannya berdasarkan kerja sama dengan jaringan intilejen yang ada termasuk ICRC," kata Boy.

"Berada di zona konflik terdata 1.251 orang (di Suriah dan Irak) kemudian data meninggal dunia 111 orang, bertindak sebagai returnis artinya sudah kembali 195 orang, deportan 556 orang. Jadi total ada 2.113 orang," imbuhnya menjelaskan awal soal WNI terjebak ISIS.

Selain di Suriah dan Irak, ada WNI yang terjebak aktivitas terorisme di Filipina. Di negara tetangga ini, lebih 30 yang tercatat terjebak aktivitas terorisme.

"Kemudian di Filipina. Jadi ada juga warga negara yang melakukan aktivitas terjebak aksi terorisme, berada di zona konflik sekitar 13 orang, meninggal dunia 11 orang, sebagai returnis 4 orang, deportan 7 orang, dan (total) 35 orang," ujarnya.

Sementara itu, di Afghanistan yang kini dikuasai Taliban, ada sekitar 20 lebih WNI yang tercatat. Mereka ada yang dari Suriah dan meninggal.

"Di Afghanistan sendiri berada di zona konflik. Informasinya adalah sekitar 10 orang. Ada di antara mereka relokasi dari Suriah, meninggal dunia 2 orang, sebagai deportan 11 orang, total 23 orang," ucapnya.

Angka WNI yang cukup mencolok dari pemaparan Boy adalah di Suriah. Lebih dari 300 WNI terjebak propaganda ISIS, sementara puluhan lainnya dipenjara di Suriah.

"Di Suriah sendiri terdapat 529 WNI. Yang tersebar di camp 115 orang, pada penjara 21 orang, perbatasan Turki ada 16 orang dan belum diketahui di mana keberadaan mereka saat ini diperkirakan, berdasarkan informasi yang kami susun, 377 orang," sebut Boy.

"21 WNI yang berada di penjara tersebut di beberapa titik," imbuhnya.

Tangkal Konten Radikal
Menurut Boy, BNPT sejauh ini telah menangkal sejumlah konten radikalisme-terorisme di media sosial (medsos). Paling tinggi konten radikal-teror berada di grup Telegram.

"Menangkal konten radikal-terorisme. Dalam pelaksanaan penangkalan ini kita terutama fokus di empat platform medsos. Pertama Telegram, WA, FB, dan TamTam," kata Boy.

Hingga bulan lalu, hampir 400 konten berbau radikal-terorisme yang ditangkal BNPT. Mayoritas konten yang ditangkal berada di Telegram.

"Per Agustus 2021 terdapat 399 grup maupun kanal medsos yang dipantau dan Telegram menempati jumlah tertinggi dengan mencapai 135 grup kanal," ujarnya.

Untuk menurunkan konten yang terindikasi radikal dan terorisme, BNPT bekerja sama dengan Kominfo dan Polri.

"Dan proses take down atau katakanlah langkah-langkah hukum kami kerja samakan dengan aparat hukum terkait. Kalau berkaitan dengan platform kami bekerja sama dengan Ditjen Aptika Kemkominfo," ucap Boy.

"Sedangkan yang berkaitan dengan cyber crime tentunya bersama dengan unsur-unsur penegak hukum di Polri," imbuhnya. (detikcom/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com