* Biden Salahkan Pemimpin Afghanistan Tidak Lawan Taliban Habis-habisan

Taliban Kuasai Kabul, Biden Ingatkan Respons Tegas Jika Ganggu Evakuasi di Bandara

* Rusia: Presiden Afghanistan Kabur Pakai Helikopter Penuh Uang Tunai

252 view
Taliban Kuasai Kabul, Biden Ingatkan Respons Tegas Jika Ganggu Evakuasi di Bandara
AFP/Wakil Kohsar
NAIK KE ATAP PESAWAT: Sejumlah warga naik ke atap pesawat demi bisa kabur dari Afghanistan yang telah dikuasai Taliban sejak Minggu (15/8). Ribuan warga yang berupaya kabur dari Afghanistan, yang telah dikuasai Taliban, memicu kekacauan proses evakuasi di bandara Kabul, Senin (16/8), mengakibatkan 5 orang tewas.
Washington DC (SIB)
Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, melontarkan peringatan keras kepada kelompok Taliban untuk tidak mengganggu atau mengancam proses evakuasi di bandara Kabul, Afghanistan. Biden memperingatkan bahwa respons tegas akan diberikan jika Taliban melancarkan serangan terhadap kepentingan AS.

Seperti dilansir AFP, Selasa (17/8), ribuan diplomat AS dan warga Afghanistan yang menjadi penerjemah bagi tentara AS selama misi 20 tahun terakhir diketahui sedang dalam proses dievakuasi dari Afghanistan usai Taliban mengambil alih kekuasaan.

Ditegaskan Biden dalam pidato terbarunya dari Gedung Putih bahwa respons terhadap setiap serangan akan cepat dan kuat. "Kami akan membela rakyat kami dengan kekuatan yang menghancurkan jika diperlukan," ucap Biden dalam peringatannya untuk Taliban.

Dalam pidatonya yang mengomentari kekacauan di Afghanistan usai Taliban berkuasa, Biden menyatakan tidak menyesali keputusan menarik tentara AS -- meskipun kritikan menghujani dirinya dan pemerintahannya.

"Saya berdiri tegak di belakang keputusan saya. Setelah 20 tahun, saya telah belajar dengan cara yang sulit bahwa tidak akan pernah ada waktu yang baik untuk menarik pasukan AS. Itu sebabnya kita masih ada di sana," tutur Biden.

Dia menuturkan: sangat sedih melihat situasi kekacauan yang menyelimuti Kabul dan wilayah Afghanistan lainnya saat ini. Dia juga berjanji akan 'berbicara' lebih lantang soal hak-hak wanita di Afghanistan setelah Taliban kembali berkuasa.

Biden mengakui dirinya mendapati situasi kacau di Kabul 'menyayat hati' namun juga menyatakan dirinya tidak melakukan evakuasi lebih awal karena Presiden Ashraf Ghani sebelumnya tidak ingin adanya eksodus massal dari Afghanistan.

Biden juga menyalahkan pengambil-alihan kekuasaan oleh Taliban pada para pemimpin politik Afghanistan yang tidak “melawan habis-habisan dan malah melarikan diri” padahal militer Afghanistan telah dilatih militer AS selama bertahun-tahun, untuk bertempur melawan Taliban.

5 Orang Tewas
Diketahui bahwa AS mengerahkan ribuan tentaranya ke bandara Kabul untuk mengamankan proses evakuasi tersebut. Namun situasi kacau menyelimuti bandara Kabul setelah ribuan warga Afghanistan berkumpul di sana, bahkan hingga memenuhi landasan. Sedikitnya lima orang dilaporkan tewas di area bandara Kabul saat ratusan orang berupaya masuk secara paksa ke dalam pesawat-pesawat yang akan meninggalkan negara tersebut.

Kekacauan di bandara Kabul ini terjadi setelah kelompok Taliban merebut kekuasaan dari pemerintah Afghanistan. Seperti dilansir Reuters, Senin (16/8), seorang saksi mata menuturkan kepada Reuters bahwa dirinya melihat langsung lima jenazah dievakuasi ke dalam satu kendaraan di area bandara Kabul.

Seorang saksi mata lainnya menyatakan tidak diketahui secara jelas apakah para korban tewas akibat tembakan atau akibat desak-desakan yang terjadi di bandara Kabul. Belum ada pernyataan resmi dari otoritas Afghanistan terkait insiden di bandara tersebut.

Sebelumnya seorang saksi mata menuturkan bahwa tentara Amerika Serikat (AS) yang ditugaskan di bandara Kabul untuk mengamankan evakuasi para diplomat dan warga, sempat melepaskan sejumlah tembakan ke udara. Laporan terbaru menyebut tentara AS menembak mati dua pria bersenjata yang menodongkan senjatanya di area bandara Kabul.

Seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya, menjelaskan bahwa tembakan yang dilepaskan tentara AS itu bertujuan untuk meredakan kekacauan di bandara Kabul.

Laporan AFP menyebut banyak warga Afghanistan yang masuk hingga ke area landasan sambil menyeret koper mereka di tengah kegelapan, demi menunggu penerbangan yang bisa membawa mereka keluar dari negara tersebut. Sejumlah wanita dan anak-anak dilaporkan tertidur di dekat koridor keamanan bandara.

Ketika aktivitas keberangkatan dihentikan, keributan sempat terjadi di kalangan orang-orang yang gagal terbang. Sejumlah maskapai dilaporkan mengalihkan penerbangannya untuk menghindari wilayah udara Afghanistan. Militer AS mengirimkan 6.000 tentaranya ke bandara Kabul untuk mengamankan evakuasi personel kedutaan AS dan warga-warga Afghanistan yang membantu AS baik sebagai penerjemah maupun dalam peran penting lainnya selama dua dekade terakhir.

Presiden Afghanistan Kabur
Sementara itu, presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, tidak diketahui keberadaannya usai melarikan diri dari negaranya usai kelompok Taliban mengambil alih kekuasaan. Kedutaan Besar (Kedubes) Rusia di Kabul melaporkan bahwa Ghani kabur dari Afghanistan menggunakan empat mobil dan satu helikopter yang penuh berisi uang tunai. Seperti dilansir Reuters, Selasa (17/8), informasi tersebut disampaikan oleh Kedubes Rusia seperti dikutip kantor berita RIA.

Diketahui bahwa Ghani meninggalkan Kabul pada Minggu (15/8) waktu setempat, saat Taliban mulai memasuki ibu kota Afghanistan itu tanpa adanya perlawanan. Laporan Associated Press sebelumnya menyebut Ghani meninggalkan Kabul diam-diam tanpa memberitahu para pemimpin politik lainnya.

Dalam pernyataan via Facebook yang dipostingnya dari lokasi yang tidak diketahui, Ghani mengakui dirinya meninggalkan Kabul karena tidak ingin terjadi pertumpahan darah. Dia juga menyebut bahwa keputusan meninggalkan negaranya merupakan pilihan yang sulit.

Menanggapi situasi terkini di Afghanistan, Kedubes Rusia menegaskan pihaknya akan tetap mempertahankan keberadaan diplomatik di Kabul dan berharap untuk mengembangkan hubungan dengan Taliban, meskipun menyatakan tidak akan terburu-buru mengakui mereka sebagai penguasa dan mengamati perilaku mereka. "Soal kolapsnya rezim (pemerintah Afghanistan) itu paling jelas ditandai oleh cara Ghani melarikan diri dari Afghanistan," sebut juru bicara Kedubes Rusia di Kabul, Nikita Ishchenko, seperti dikutip kantor berita RIA. "Empat mobil penuh uang, mereka berupaya memasukkan sebagian uang lainnya ke dalam satu helikopter, tapi tidak semuanya muat. Dan sejumlah orang dibiarkan tergeletak di landasan," ungkap Ishchenko merujuk pada cara Ghani kabur dari negaranya.

Ischenko mengonfirmasi pernyataan itu kepada Reuters. Dia menyebut dirinya mengutip keterangan sejumlah saksi sebagai sumber informasinya. Reuters tidak bisa mengonfirmasi secara independen keterangan Ischenko tersebut. Belum ada komentar dari Ghani terkait hal tersebut.

Secara terpisah, perwakilan khusus Presiden Vladimir Putin untuk Afghanistan, Zamir Kabulov, menyatakan tidak jelas berapa banyak uang yang ditinggalkan pemerintahan Ghani. "Saya harap pemerintah yang kabur tidak mengambil semua uang dari anggaran negara. Itu akan menjadi dasar anggaran jika ada yang tersisa," sebut Kabulov kepada radio lokal Rusia, Ekho Moskvy.

Siap Tingkatkan Hubungan
Pemerintah China siap meningkatkan hubungan persahabatan dan kerja sama dengan Taliban, setelah kelompok pemberontak Islamis tersebut menguasai Afghanistan. Seperti diberitakan kantor berita AFP, Senin (16/8), Beijing telah berusaha untuk mempertahankan hubungan tidak resmi dengan Taliban selama penarikan pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan, yang mendorong serangan-serangan Taliban hingga akhirnya berhasil merebut ibu kota Kabul pada hari Minggu (15/8). China berbagi perbatasan sekitar 76 kilometer (47 mil) dengan Afghanistan.

Beijing telah lama khawatir Afghanistan bisa menjadi basis bagi separatis minoritas Muslim Uighur di Xinjiang. Namun, delegasi tingkat atas Taliban bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Tianjin bulan lalu, dan menjanjikan bahwa Afghanistan tidak akan digunakan sebagai basis bagi militan. Sebagai gantinya, China menawarkan dukungan ekonomi dan investasi untuk rekonstruksi Afghanistan.

Pada hari Senin (16/8) ini, pemerintah China mengatakan menyambut baik kesempatan untuk memperdalam hubungan dengan Afghanistan. "Taliban telah berulang kali menyatakan harapan mereka untuk mengembangkan hubungan baik dengan China, dan bahwa mereka menantikan partisipasi China dalam rekonstruksi dan pembangunan Afghanistan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying kepada wartawan. "Kami menyambut ini. China menghormati hak rakyat Afghanistan untuk secara mandiri menentukan nasib mereka sendiri dan bersedia untuk terus mengembangkan hubungan persahabatan dan kerja sama dengan Afghanistan," imbuh Hua.

Hua meminta Taliban untuk memastikan transisi kekuasaan “yang mulus” dan menepati janjinya untuk merundingkan pembentukan pemerintahan Islam yang terbuka dan inklusif, dan memastikan keamanan warga Afghanistan dan warga negara asing.

Hua mengatakan bahwa Kedutaan China di Kabul tetap beroperasi, meskipun Beijing mulai mengevakuasi warga China dari negara itu beberapa bulan lalu, di tengah situasi keamanan yang memburuk.

Sebelumnya, kelompok Taliban telah berusaha meyakinkan masyarakat internasional bahwa warga Afghanistan tidak boleh takut kepada mereka, dan mereka tidak akan membalas dendam terhadap warga yang mendukung aliansi AS. (AFP/Rtr/dtc/CNNI/c)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com